Renungan Akhir Tahun 2014

Setiap tahunnya di tanggal 1 Desember, seluruh masyarakat dunia mengenal Hari AIDS Sedunia (HAS / World AIDS Day). Cukup beralasan mengapa momen HAS ini menjadi penting, mengingat peningkatan kasus HIV dan AIDS yang cukup mengkhawatirkan di setiap tahunnya sehingga menjadi isu permasalahan global. Terbukti dalam tujuan Millenium Development Goals 2015, pada tujuan keenam disebutkan adanya upaya penurunan penyakit menular HIV/AIDS. Penyakit ini dengan cepat dapat menyebar ke seluruh dunia.

Tahun 2014 akan segera berakhir,  Upaya penurunan penyakit menular HIV/AIDS akan terus dikumandangkan. karena itu, keluarga besar UPT HIV RS Cipto mangunkusumo kembali akan menggelar renungan akhir tahun 2014. kali ini akan mengambil tema : “Tantangan dan Harapan penatalaksanaan HIV tahun 2015” yang akan di sampaikan oleh Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi SpPD KAI dan “Tatalaksana Hepatitis C” oleh dr. Juferdi, SpPD dan akan di moderatori oleh Kurniawan Rachmadi, SKM MSc.

Acara ini digelar sebagai renungan dalam upaya mengantisipasi peluang, tantangan sekaligus harapan di tahun 2015. Acara ini akan digelar pada hari Selasa, 30 Desember 2014 di Poliklinik Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM. Pukul 10.00 – 12.00 WIB. Acara tidak di pungut biaya.

Konfirmasi kehadiran di 021-3162788

MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN NASIONAL

Sarasehan sepuluh tahun Produksi Obat ARV di Indonesia dilaksanakan bersamaan dengan hari Pahlawan. Sarasehan dihadiri oleh Dr Achmad Sujudi (mantan Menkes), Drs Gunawan Pranoto (mantan PT Dirut Kimia Farma) dan Drs Sampoerno (mantan Kepala Badan POM). Sejarah kebutuhan dan pengadaan obat ARV di Indonesia dipaparkan oleh Prof. Samsuridjal Djauzi. Sejak tahun 2002, Pokdisus AIDS FKUI telah memulai terapi ARV atas izin Badan POM. Obat yang digunakan adalah obat generik yang berasal dari India. Semula kebutuhannya hanya sekitar 100 namun secara tajam meningkat karena harga obat paten mencapai 1000 dolar sebulan sedangkan obat generik hanya 30 dolar sebulan. Karena kebutuhan meningkat, Pokdisus tidak mampu mendanai pengadaan obat sehingga meminta PT Indo Farma, Tbk. untuk melakukan pengadaan. Saat itu pemerintah Indonesia dan Thailand mempunyai perjanjian kerjasama dalam bidang HIV termasuk obat ARV, sehingga kemudian obat yang digunakan adalah obat generik buatan Thailand.

Pada tahun 2004, PT Kimia Farma memproduksi obat ARV, pemerintah mendukung dengan mengeluarkan putusan presiden Megawati tentang lisensi wajib (compulsory lisencing). Ditinjau dari segi ekonomi, sebenarnya pengadaan obat ARV waktu itu belum waktunya karena penggunanya hanya sekitar 300 orang. Namun sebagai perusahaan farmasi nasional, PT Kimia Farma merasa berkewajiban untuk memproduksi obat ARV nasional. Sudah tentu untuk sampai di pasar, maka obat ARV ini harus mendapat izin edar Badan POM. Pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk memberi subsidi penuh pada pelayanan obat ARV sehingga mereka yang memerlukan dapat memintanya dengan cuma-cuma. Dewasa ini data Kemeterian Kesehatan memperlihatkan jumlah pengguna ARV telah mencapai hampir 50.000 orang.

Obat ARV sejak tahun 2008 telah diproduksi di pabrik baru Kimia Farma di Pulo Gadung. Baik Dr Achmad Sujudi, Drs Gunawan Pranoto maupun Drs Sampoerno dalam kesan dan kenangannya mengutarakan agar kita mengutamakan kepentingan nasional dalam berbagai bidang termasuk program kesehatan. Jika kepentingan nasional ini sama-sama dihayati maka kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dan kilas balik produksi obat ARV adalah salah satu contohnya. Dalam diskusi, banyak peserta yang mendukung agar dalam melaksanakan layanan kepada masyarakat kepentingan nasional diutamakan.

Sebagai warga dunia, Indonesia perlu mengikuti dan mengetahui berbagai pertaruran dan standar nasional dan internasional, namun kepatuhan hendaknya disertai kesadaran untuk mengutamakan kepentingan nasional. Kita patut mencontoh Cina dan India yang menjadi pemain penting dunia namun secara nyata menunjukkan sikap mereka yang mengutamakan kepentingan nasional mereka.

Dalam produksi obat sebenarnya banyak pihak yang terlibat, tidak hanya perusahaan farmasi, tapi juga Badan POM, kementerian Kesehatan, Kementerian perdagangan bahkan juga Kementerian Hukum dan HAM. Perlu pemahaman bersama serta pembentukan jaringan dalam mendukung kepentingan nasional ini. Harapan peserta maupun masyarakat dari sarasehan ini hendaknya perjuangan mengadakan obat ARV di Indonesia dijadikan modal untuk mengembangkan produksi obat nasional di negeri kita.

(Samsuridjal)

SARASEHAN 10 TAHUN OBAT ARV DI INDONESIA

Pengobatan ARV kombinasi untuk infeksi HIV dinyatakan bermanfaat sejak tahun 1996. Namun obat ARV yang amat dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang harganya amat mahal ( USD 1000 / bulan ). Dengan demikian, terjadi ketimpangan : 90% Orang dengan HIV/AIDS (Odha) ada di negara yang sedang berkembang namun yang dapat menikmati obat ARV hanya Odha di Negara maju. Menyadari ketimpangan ini, aktivis pengendalian HIV di negara-negara yang sedang berkembang tergerak untuk memperjuangkan agar semua Odha dapat mengakses obat ARV. Oleh karena itu pada pertemuan WTO di Doha tahun 2001 dicapai kesepakatan bahwa obat yang amat diperlukan oleh masyarakat dapat dibatalkan patennya dan diproduksi secara murah untuk kepentingan masyarakat ( compulsory lisencing ).

Pada tahun 2003, Pokdisus AIDS FKUI mengadakan pertemuan Round-Table Regional ASEAN untuk membahas akses obat ARV untuk Odha di ASEAN. Disepakati untuk berjuang bersama serta saling mendukung agar Odha di ASEAN dapat mengakses obat ARV secara mudah dan murah. Pemerintah Indonesia menyadari perlunya penyediaan obat ARV yang terjangkau untuk Odha di Indonesia.

Pada tahun 2004, dikeluarkan keputusan pemerintah mengenai Compulsory Lisencing obat ARV yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Dengan berbagai kesulitan yang dihadapi, PT. Kimia Farma berhasil memproduksi obat ARV di Indonesia yang diluncurkan pada 8 Desember 2004. Pada waktu itu jumlah pengguna obat ARV di Indonesia baru sekitar 300 orang, sehingga produksi obat ARV ini lebih mempertimbangkan aspek social dari pada ekonomi.

Pada tahun 2005, pemerintah menyediakan obat ARV bersubsidi penuh ( cuma-cuma ) untuk Odha di Indonesia. Penggunaan obat ARV sejak dimulainya program ini meningkat tajam dan sampai pertengahan tahun 2014 yang menggunakan obat ARV mencapai jumlah sekitar 50.000-an orang.

Setelah 10 tahun obat ARV diproduksi di Indonesia, kebutuhan obat ARV masih meningkat karena estimasi jumlah Odha di Indonesia mencapai 600.000 orang. Pengobatan ARV tidak hanya bermanfaat bagi yang menggunakan obat ARV tetapi juga dapat menurunkan resiko penularan secara nyata. WHO menganjurkan penggunaan ARV secara dini dan semua Odha dapat mengakses obat ARV tersebut. Mengingat kebutuhan obat ARV yang tinggi di Indonesia maka semua pihak perlu mendukung agar ketersediaan dan distribusi obat ARV terjamin baik agar dapat digunakan untuk menolong Odha dan sekaligus mencegah penularan. Pada umumnya disadari bahwa biaya yang dikeluarkan untuk obat ARV merupakan investasi yang amat berharga baik dari segi ekonomi, apalagi dari segi kemanusiaan.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperlihatkan, angka kematian terkait infeksi HIV di Indonesia pada tahun 2006 mencapai 42%, namun pada tahun 2013 telah menurun tajam menjadi di bawah 5%. Untuk mendukung penyediaan obat ARV yang berkesinambungan, masyarakat perlu memahami manfaat obat ARV serta sejarah perjuangan penyediaan obat ARV di Indonesia.

Sehubungan dengan itu Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI) bersama Pokdisus AIDS FKUI (POKDI) atau sekarang dikenal dengan Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM merencanakan akan mengadakan Sarasehan 10 Tahun Obat ARV di Indonesia. Pada sarasehan ini diharapkan kehadiran para tokoh yang telah memperjuangkan produksi ARV Nasional pada waktu itu, diantaranya : Menteri Kesehatan, dr. Achmad Sujudi, SpB., Dirjen POM, Drs. H. Sampurno MBA. serta Direktur Utama PT. Kimia Farma Tbk. Drs. Gunawan Pranoto.

 

Acara akan dilaksanakan pada :   

Hari/Tanggal    : Senin, 10 November 2014

Tempat            : Ruang Pertemuan Gedung Kencana Lantai 5

RSCM Kencana Jl. Diponegoro no. 71

Jakarta Pusat

Waktu              : 08.30 – 12.00 WIB

 

Susunan Acara :

08.30 – 09.00   Pendaftaran

09.00 – 09.30   Kilas Balik Kebutuhan Obat ARV di Indonesia

( Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD., KAI. )

09.30 – 10.00   Produksi Obat ARV di Indonesia Sekarang & Masa Depan

( Direktur Utama PT. Kimia Farma Tbk. )

10.00-11.00     Kesan dan kenangan pengadaan obat ARV di Indonesia :

  1. dr. Achmad Sujudi, SpB.
  2. Drs. H. Sampurno MBA.
  3. Drs. Gunawan Pranoto

11.00-12.00     Diskusi

12.00-selesai   Makan siang

Besar harapan kami, media yang Bapak / Ibu pimpin dapat hadir untuk meliput kegiatan tersebut.

Atas perhatian yang telah Bapak / Ibu berikan, kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia

Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD., KAI.

Ketua

Akses Diagnosis dan Pengobatan Untuk Semua

Peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2013

“Akses Diagnosis dan Pengobatan Untuk Semua”

 

Pemerintah Indonesia dalam pembangunan kesehatan telah mencanangkan Universal Coverage yang akan diselenggarakan oleh BPJS pada awal Januari 2014. Diharapkan dengan diterapkannya sistem pembiayaan kesehatan satu pintu oleh pemerintah, maka seluruh masyarakat dapat mengakses semua layanan kesehatan yang diperlukan. Pemerintah berharap dengan sistem yang baru ini, pembiayaan kesehatan tidak lagi menjadi hambatan bagi masyarakat.

Meski pemerintah telah merencanakan Universal Coverage namun sepertinya anggaran yang tersedia tidak tak terbatas. Pelayanan kesehatan sampai saat ini masih belum mudah diakses, terutama sekali dalam hal pembiayaan pengobatan. Obat yang tersedia harganya masih belum dapat dijangkau masyarakat. Hepatitis C misalnya hingga saat ini harganya masih sangat jauh dari kata terjangkau (Rp. 120 juta/tahun). Bila pembiayaan ini dibebankan kepada pemerintah sudah pasti menjadi beban yang tidak ringan. Selain itu masih ada banyak masyarakat yang tidak sehat lainnya juga memerlukan terapi. Bagaimana dengan penderita sakit LUPUS atau kanker serta penyakit lain yang masih terabaikan.                  Pengobatan sering diartikan secara linier sebagai fase akhir dari suatu keadaan kesehatan seseorang. Sebaliknya bila dianggap sebagai suatu siklus maka kondisi sakit seseorang masih dapat diperjuangkan untuk diperbaiki. Dalam pengobatan HIV/AIDS misalnya, saat ini obat telah menjadi alat pencegahan yang sangat efektif. Suami yang positif (yang minum obat ARV secara teratur) dapat memiliki keturunan tanpa harus mewarisi HIV/AIDS kepada istri dan anaknya.  Pada era seperti sekarang ini maka memberikan terapi untuk penyakit apapun, dapat menjadikan kondisi kesehatan lebih baik dan kualitas hidup mereka menjadi lebih produktif.  

Oleh karena itu dalam rangka memperingati hari Hepatitis sedunia yang jatuh pada 28 Juli 2013, kami bermaksud mengadakan Rountable Meeting yang bertemakan “Akses Diagnosis dan Pengobatan Untuk Semua”.  Acara ini akan dilaksanakan pada:

 

Hari/Tanggal     : Kamis, 1 Agustus 2013

Waktu                  : 13.00-15.00 WIB  

Tempat                : Ruang Pertemuan Sub Divisi Alergi Immunologi

                                  Gedung H4 RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta  

Pembicara          : 1. Akses Pengobatan Kanker & Lupus di Indonesia

       Prof. dr. Zubairi Djoerban, SpPD.KHOM (Hematologist)

  2. Pengobatan Hepatitis antara Harapan & Kenyataan

      DR. dr. Rino A. Gani, SpPD (PPHI)

  3. Pengalaman Meningkatkan Akses Diagnostik dan Terapi HIV/AIDS

                                      Prof. DR. Dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD KAI (PDPAI)  

Demikianlah surat ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami mengucapkan terima kasih.         

Ketua,

Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia

 

Prof.Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD.KAI.

How is HIV Transmitted?

ImageHIV enters the body through open cuts, sores or breaks in the skin; through mucous membranes, such as those inside the anus or vagina; or through direct injection. There are several ways by which this can happen:

  • Sexual contact with an infected person. Anal or vaginal intercourse without a condom with a partner who is either positive or does not know his or her HIV status account for the vast majority of sexually-transmitted HIV cases in the U.S. and elsewhere. Oral sex is not an efficient route of HIV transmission. To learn more about the “theoretical risk” of oral sex and HIV transmission, Kissing, massage, masturbation and “hand jobs” do not spread HIV. 
  • Sharing needles, syringes or other injection equipment with someone who is infected.
  • Mother-to-child transmission. Babies born to HIV-positive women can be infected with the virus before or during birth, or through breastfeeding after birth. 
  • Transmission in health care settings. Healthcare professionals have been infected with HIV in the workplace, usually after being stuck with needles or sharp objects containing HIV-infected blood. As for HIV-positive healthcare providers infecting their patients, there have only been six documented cases, all involving the same HIV-positive dentist in the 1980s.
  • Transmission via donated blood or blood clotting factors. However, this is now very rare in countries where blood is screened for HIV antibodies, including in the United States.

HIV has been detected in saliva, tears and urine. However, HIV in these fluids is only found in extremely low concentrations. What’s more, there hasn’t been a single case of HIV transmission through these fluids reported. HIV cannot be transmitted through day-to-day activities such as shaking hands, hugging or casual kissing. You cannot become infected from a toilet seat, drinking fountain, or sharing food or eating utensils with someone who is positive. You also cannot get HIV from mosquitoes. 

 

For further information call center 021-3162788 or 021-3905250

 

 

 

 

SITUASI HIV/AIDS DI INDONESIA

Pada tahun 2008, peningkatan kasus baru HIV di Indonesia merupakan yang tercepat di Asia, dilaporkan oleh seluruh provinsi dan sekitar 200 kab/kota. Sejak tahun 2004 meningkat tajam, dikarenakan tahun 1995 penggunaan narkoba suntikan meningkat tajam sehingga 10 tahun kemudian, kasus AIDS full blown timbul dan angkanya meningkat tajam. Kalau untuk jumlah kasus HIV dan AIDS yang paling tinggi adalah Cina, India dan Thailand.

 

Epidemi HIV sangat meningkat sampai saat ini

Bagaimana proyeksi tahun 2020? Ada 3 skenario, skenario pertama; optimis. Jika tahun 2010 diperkirakan 300.000, maka pada tahun 2020 jumlah kasus HIV mencapai 600.000, jadi yang optimis sekalipun masih 2 kali lipat dari sekarang tapi sebaliknya jika kita tidak berhasil melakukan penanggulangan, maka pada tahun 2020 angkanya mencapai 1,6 juta. Sedangkan kalau keberhasilannya di tengah-tengah maka angkanya berada antara 600.000 sampai 1,6 juta. Jadi sebenarnya 1 juta orang dari saudara kita bisa dicegah dari penularan HIV jika kita mau bekerja keras.

Harapannya adalah orang yang menggunakan narkoba suntikan bersama, tidak lagi menggunakan, yang belum menggunakan tidak menggunakan. Yang melakukan hubungan seks tidak aman, tidak lagi melakukan. Tapi sayangnya, dari survey perubahan prilaku di Indonesia pada tahun 2008 menunjukkan belum terjadi perubahan perilaku yang nyata di kalangan resiko tinggi. Ini terlihat dari penggunaan kondom kita yang baru mencapai 30%, kita berharap bisa mencapai 80%, atau penggunaan narkoba suntikan bersama yang belum seluruhnya bisa berubah.

Jumlah orang yang diestimasi sekitar 300.000 tapi tapi yang tercatat hanya 50.000 jadi ada 250.000 orang yang tidak tahu status HIV-nya dan juga mungkin tidak pernah tes HIV. Karena itulah sekarang kita buka keran seluas-luasnya agar orang mau dan bersedia dan mudah untuk tes HIV sehingga kita mengganti VCT menjadi PITC (Provider Initiative Counselling and Testing). Kami berharap temen-temen dapat mendorong orang-orang yang perlu tes HIV untuk tes. Kalau dulu kita hanya menginformasikan, dia bisa tes atau tidak, sekarang kita informasikan juga lalu kita beritahu keuntungan tes dan permudah dia untuk tes. Jadi peran petugas kesehatan lebih penting. Karena jika terlambat terdeteksi maka akan hilang kesempatan untuk pencegahan penularan lebih lanjut, sudah parah, ada TB, Toksoplasma otak dan hilang kesempatan untuk memulai terapi sesuai dengan pedoman WHO (CD4<350) dan angka kematian tinggi.

Upaya deteksi dini yang dapat kita lakukan adalah dengan ; penyebaran informasi, meningkatkan layanan VCT (sekitar 1000), menggalakkan layanan PITC ((Provider Initiative Counselling and Testing) serta meningkatkan akses untuk testing.

Ada beberapa tes sesuai kegunaannya, ada yang bertujuan untuk survey dan ada yang bertujuan untuk diagnostic. Untuk diagnostic harus berhati-hati, jangan sampai orang yang tidak HIV kita diagnostik HIV, atau sebaliknya.  Ada tes anti HIV, tes antigen p24, Viral Load, kultur virus.

 

TES Anti-HIV ; Relatif murah dan mudah, seharusnya sudah bisa tersebar di seluruh Indonesia, untuk diagnosis yang disyaratkan tiga kali pemeriksaan.

TES CEPAT (RAPID) ; Hasil cepat dapat dinilai, dapat dilakukan pada daerah dengan sarana minim, digunakan untuk tes penyaring

Tes HIV ini penting karena dapat digunakan untuk diagnosis dini, dapat dilanjutkan dengan pencegahan dan terapi walaupun belum timbul gejala.

 

Penularan HIV di Indonesia pada umumnya terjadi karena; hubungan seksual; penggunaan narkoba suntikan disertai penggunaan jarum suntik bersama (prevalensi HIV tinggi sekitar 60%); Ibu hamil positif HIV menularkan ke bayinya; tranfusi darah dari orang yang terjangkit HIV; Karena itu kita harus hati-hati dalam melakukan tranfusi darah, walau sejak 1992 sudah diskrining HIV.

Infeksi HIV di RSUPN. DR. Cipto Mangunkusumo Jakarta, sebagian besar terdiagnosis dalam stadium lanjut (CD4<40), telah timbul infeksi oportunistik yang dapat mengancam jiwa, hanya sebagian kecil terdiagnosis pada masa tanpa gejala (biasanya pasangan seksual) sehingga menyebabkan angka kematian di rumah sakit cukup tinggi, sekitar 30%. Padahal bila infeksi oportunistik dapat diatasi, pengendalian penyakit biasanya dapat dicapai.

Masalah lainnya adalah HIV pada anak karena tidak berhasil melakukan upaya pencegahan pada ibu hamil. Di RSCM sudah ada 400 anak dengan HIV, jumlah perempuan yang tertular HIV mungkin sekitar 1200 orang, 30% dari jumlah itu berpotensi menularkan dan akan meningkat terus sesuai peningkatan HIV pada perempuan usia subur. Pada bayi dan anak, perjalanan penyakit lebih cepat, dalam beberapa bulan sudah timbul infeksi oportunistik dan jumlah CD4 juga berbeda. Jika pada orang dewasa, diobati jika CD4<350, maka jika CD4 bayi/anak<400 sudah harus diobati karena CD4 bayi baru lahir seharusnya tinggi, mencapai 3000. Diagnosis HIV pada anak usia dibawah 18 bulan memerlukan tes viral load pada minggu ke-4 dan dapat diulang pada bulan ke-4. Terapi HIV pada anak memerlukan formulasi khusus, berbeda dengan dewasa.

Pengguna narkoba suntikan di kota besar, berdasarkan informasi dari UI dan BNN mencapai 70%, dimana 60% menggunakan lebih dari satu tahun, 62% menggunakan jarum suntik bekas pakai, digunakan 2-18 orang. Estimasinya mencapai 520.000 orang di Indonesia.

Masalah medis yang dihadapi antara lain: masih kerapnya infeksi oportunistik terutama TBC; sebagian IO diagnosis dan terapinya masih sulit (Meningitis kriptokokus, CMV,TBC otak); isu baru yang timbul adalah Ko-infeksi hepatitis B dan C sering didapatkan di Indonesia (dari hasil penelitian terhadap 4000 ODHA di RSCM, 68% mengidap hepatitis C dan 10% mengidap Hepatitis B, jauh lebih tinggi daripada populasi normal); masalah ibu hamil HI positif yang belum terjangkau PMTCT; diagnosis dan pengobatan HIV pada anak.

Masalah lain yang mengemuka adalah ko-infeksi hepatitis B dan C pada HIV. Di mana penularan hepatitis B dan C pada HIV dapat melalui jarum suntik maupun seksual (penularan melalui seksual jauh lebih mudah kalau dia HIV, jadi penularan hepatitis B dari orang HIV jauh lebih mudah daripada mono  infeksi hanya Hepatitis B). perjalanan penyakit hepatitis B dan C kronik (yang biasanya 20 tahun) jauh lebih progresif atau lebih cepat  pada ko-infeksi HIV. Maka sekarang perlu skrining hepatitis B dan C lebih sering serta menyediakan obat hepatitis B dan C kronik yang terjangkau dan upaya pencegahan hepatitis virus di masyarakat. Dan tanggal 28 Juli diperingati sebagai hari hepatitis sedunia.  

Studi prilaku seksual pengguna narkoba suntikan di 3 kota menemukan hasil bahwa; 70% aktif seksual; 48% mempunyai pasangan seksual labih dari satu; 40% menjadi pelanggan WPS; penggunaan kondom rendah (sekitar 10%). Jadi pada pengguna narkoba suntikan, penularan HIV tidak hanya berasal dari jarum suntik bersama tapi bisa juga tertular dari hubungan seksual.

 

Kesimpulan

  1. Pencegahan penularan HIV dapat dicapai melalui perubahan perilaku dan intervensi medis (kondom, harm reduction, sirkumsisi, ARV)
  2. Untuk dapat menurunkan angka penularan perlu pencapaian kelompok sasaran 80% dan efektivitas minimal 60%
  3. Setiap tenaga kesehatan diharapkan peran sertanya dalam mengendalikan penularan HIV di Indonesia
  4. Perlu upaya pencegahan hepatitis B,C dan HIV di masyarakat

 

@Prof.Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI KULIAH UMUM ; “WOMAN HEALTH AND SOCIAL PROTECTION ON PATIENT WITH HIV/AIDS”

 

Tes HIV Cukup 20 Menit Saja

MELBOURNE, – Uji HIV yang hasilnya bisa diketahui dalam waktu 20 menit segera akan tersedia di Melbourne, Australia.

Di masa lalu, pasien harus  menunggu selama beberapa hari, sebelum bisa mengetahui hasil tes. Namun menurut laporan ABC, semua itu segera akan berubah. Nanti, di Melbourne,  uji HIV akan  bisa diketahui hasilnya  dalam waktu 20 menit.

Uji yang sama sekarang juga sedang dicoba di negara bagian New South Wales. Menteri Kesehatan negara bagian Victoria David Davis mengumumkan program percobaan ini pada pembukaan festival gay dan lesbian  Midsumma di Melbourne, hari Minggu (13/1/2013).

Davis mengatakan, uji ini akan tersedia di sebuah pusat kesehatan masyarakat di Melbourne dalam waktu enam bulan mendatang.

“Ini merupakan langkah penting guna mendeteksi HIV lebih awal, memungkinkan perawatan segera, namun yang lebih penting adalah  ini juga bagi dari pencegahan.” kata Davis.

“Bukti internasional sangat jelas menunjukkan bahwa deteksi awal berarti perawatan awal. Perawatan awal berarti mencegah  penyebaran penyakit tersebut.”

Pemerintah Australia belum memutuskan klinik mana saja yang akan bisa melakukan uji tersebut.

Menurut laporan koresponden Kompas di Australia L. Sastra Wijaya, bulan lalu, Therapeutic Goods Administration, badan yang memberikan persetujuan bagi semua hal  yang berkenaan dengan hal-hal medis memberikan persetujuan bagi uji HIV terbaru tersebut boleh digunakan di Australia.

Berbagai organisasi HIV menyambut baik persetujuan ini, dengan mengatakan ini merupakan langkah penting guna mengurangi  penyebaran virus HIV.

http://sains.kompas.com/read/2013/01/13/07252481/Tes.HIV.Cukup.20.Menit.Saja.