Infeksi HIV pada Anak

Pokdisus Aids

Oleh: dr. Nia Kurniati, SpA(K)

Menjelang hari AIDS dunia yang jatuh pada 1 Desember setiap tahunnya, selalu terjadi gempita pembicaraan mengenai HIV dan AIDS. Meskipun untuk yang mengelola pelayanan atau pasiennya hari AIDS ini belum tentu memiliki makna, ada baiknya kita memotret situasi infeksi HIV pada anak.

Anak-anak yang berumur < 13 tahun umumnya tertular HIV dari ibunya, baik saat dalam kandungan, proses persalinan dan kondisi seputar kehidupan tahun pertama. Berbeda dengan orang dewasa, virus HIV menyerang ketika sistim pertahanan atau imunitas bayi belum siap menerima serangan infeksi yang berat. Akibatnya kita dapat melihat gejala klinis yang jauh lebih buruk pada usia sangat muda, bahkan sebelum mencapai umur enam bulan. Meskipun terdapat layanan pencegahan yang dinamakan Program Pencegahan Transmisi dari Ibu ke Anak (dalam bahasa Inggris PMTCT) dan sudah terbukti mencegah nfeksi HIV pada anak, jumlah anak yang tertular per tahunnya di seluruh dunia masih tinggi. Menurut laporan UNAIDS (23 November 2010), sepanjang tahun 2009 diperkirakan sebanyak 370.000 anak-anak yang baru terinfeksi. Meskipun dikatakan menurun 24% dari lima tahun sebelumnya, tetap saja angka ini masih terlalu besar.

Hak Layanan Setara
Sesuai dengan tujuan Millenium Development Goal ke6, satu dasawarsa terakhir upaya layanan kesehatan untuk penderita HIV memberi harapan ke arah penguasaan epidemi. Berbagai program diluncurkan secara global seperti ‘3 by 5’ yang membuka akses untuk pengobatan antiretroviral (ARV). Indonesia tidak ketinggalan dalam upaya global ini karena sejak tahun 2000 jumlah penderita meningkat pesat, seiring dengan meningkatnya masalah penyalahgunaan obat narkoba suntik.
Populasi pengguna narkoba yang berada pada rentang usia reproduk tif aktif ini kemudian berkembang ke populasi lain yang sebelumnya dianggap tidak berisiko atau risiko rendah seperti pasangan dari pengguna narkoba ini dan anaknya. Khusus dalam penanganan kasus anak yang terinfeksi HIV, rediagnosis dan obat merupakan masalah sangat besar. Layanan diagnosis berbasis materi virus (PCR) baru dapat diakses oleh mereka yang mampu membayar. Obat yang dapat digunakan untuk anak terbatas baik jenis maupun sediaannya; hingga saat ini orangtua/pelaku rawat anak selalu harus berupaya sangat keras agar obat ARV berhasil diminum. Sebelum tahun 2008 ARV yang digunakan adalah sediaan obat dewasa yang dihancurkan menjadi puyer agar dapat diberikan pada anak-anak. Kesulitannya adalah pada bayi, kekuatan farmakologis obatnya tidak dapat lagi dipertanggungjawabkan mengingat dosis per bungkus puyernya dapat tidak sama.

Sejak tahun 2008 sudah terdapat satu sediaan yang mudah larut air sehingga pemberian untuk bayi menjadi lebih mudah dan memenuhi syarat terapetik. Pada anak yang sudah lebih besar (usia 6 – 7 tahun), pemberian obat tetap tidak menjadi lebih mudah. Selain sudah mengenal rasa (obat ARV rata-rata sangat pahit), juga ukuran pil yang besar menyebabkan kegagalan pemberian obat karena beberapa sediaan obat memang harus ditelan bulat-bulat dan tidak bleh dipuyerkan agar tetap efektif.

Masalah juga didapatkan pada pemberian obat untuk bayi baru lahir, bila kita berhadapan dengan bayi prematur, pemberian obat ARV proflaksis sebenarnya tidak ideal dan dapat membahayakan program. Oleh karena itu, dapat disimpulkan secara kasar bahwa pasien HIV bayi dan anak belum mendapat perhatian dari pengelola negara, karena dianggap tidak prioritas. Tetapi bila kita berada dalam semangat yang sama untuk menyukseskan MDG 5 dan 6, sebenarnya penyediaan obat ARV yang sesuai untuk anak adalah keharusan.

Hak Hidup dan Kembang Dibandingkan di negara lain, sebagian besar anak-anak tertular HIV di Indonesia masih diasuh keluarga dekat. Tetapi sebagian kecil sudah mulai dibuang dari keluarga. Pada beberapa kasus, selama orangtua kandung masih hidup, anak-anak ini masih dibawa berobat. Tetapi setelah orangtua kandung meninggal, belum tentu keluarga besar mau meneruskan tanggung jawab membesarkan anak. Akibatnya ada yang ditelantarkan, dititipkan pada orangtua angkat, dalam proses akan dibuang, atau disembunyikan di daerah lain karena sekarang terlihat sehat. Dalam kondisi normal, anak penderita HIV harus meminum obat sehari dua kali pada waktu yang sama dengan dosis yang benar. Hilangnya kontak dengan anak-anak pengidap HIV ini mengkhawatirkan, karena besar kemungkinan putus berobat. Secara langsung berarti akan meningkatkan angka kematian dan rendahnya angka retensi dalam program pengobatan. Secara tidak langsung adalah timbulnya resistensi sehingga ketika harus mendapatkan pengobatan kembali, obat lini kedua yang lebih tepat. Karena obat lini kedua lebih mahal, maka dana penyediaan obat menjadi meningkat.

Struktur masyarakat sekarang mungkin belum terbuka menerima anak-anak HIV, tetapi keterlibatan masyarakat yang mau mendukung keluarga yang terkena dampak HIV tentu sangat besar artinya. Apalagi bila angka bertahan hidup anak-anak ini menjadi bertambah baik, sebenarnya mereka layak untuk tetap hidup dan berkembang normal seperti yang tidak terinfeksi HIV. Jika struktur keluarga tidak lagi menopang kehidupan anak-anak ini, harus dicarikan penunjang sosial yang dapat menampung, dan tentu saja ini di luar jangkauan rumah-sakit.

HALLO CIPTO – Desember 2010

Advertisements

Akses Universal dan Hak Asasi Manusia dari Sudut Kesehatan Mental

Pokdisus Aids

Oleh: Dr. Kristiana Siste, SpKJ, Departemen Psikiatri  RSCM

“Realization of human rights and fundamental freedoms for all is essential element in the global response to HIV/AIDS pandemic”

Tn. A, berusia 24  tahun, berobat ke Pokdisus RSCM sejak tahun 2009. Saat kontrol terakhir, Tn. A mengeluh rasa bersalah. Rasa bersalahnya timbul karena ia merasa membiarkan tetangganya yang juga mengalami AIDS tidak berobat lagi. Tn. A merasa keadaanya membaik setelah ia berobat secara rutin ke Pokdisus. Tn. A terpaksa membiarkan tetangganya tidak lagi berobat karena ia takut masyarakat akhirnya mengetahui bahwa ia juga mengalami AIDS. Tn. A sengaja menyembunyikan penyakitnya karena ia merasa masyarakat akan mempersulitnya untuk pergi berobat dan  juga beraktivitas di masyarakat, termasuk dalam bekerja. Tn. A berjualan nasi goreng setiap harinya di depan sekolah setempat. Ia menceritakan temannya yang mengalami AIDS mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan saat berobat ke Puskesmas. Tn. A juga takut keluarganya akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat. Tn. A mengalami dilema apakah suatu hal yang benar bila ia memberitahukan bahwa dirinya mengalami AIDS ke masyarakat. Di akhir pertemuan Tn.A bertanya “siapa yang harusnya memperjuangkan hak saya dok bahwa saya juga manusia sama seperti yang lain, yang berhak mendapatkan pengobatan dimanapun dengan layak???

Setiap tanggal 1 Desember, dunia memperingati hari AIDS. Tn. A menaruh harapan besar pertanyaannya bisa terjawab pada hari AIDS sedunia tahun ini.  Pada tahun ini Negara kita kembali berkomitmen untuk meningkatkan akses universal dan hak asasi manusia bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Komitmen tersebut terkait dengan tema global hari AIDS sedunia yang kembali mengangkat tema “Akses universal dan Hak asasi manusia (Universal Acess and Human Right)”.  Pemerintah Indonesia menterjemahkannya dalam subtema  Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua Guna Menekan Laju Epidemi HIV di Indonesia menuju tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs).

Mengapa akses universal dan hak asasi manusia begitu penting?

Sampai saat ini orang yang telah terinfeksi HIV di seluruh dunia mencapai 60 juta orang dan 25 juta di antaranya telah meninggal dunia (UNAIDS, 2009). Kenyataan tersebut menegaskan bahwa kini AIDS telah mencatat sejarah sebagai salah satu epidemi yang paling membahayakan jiwa manusia dimana 7.400 orang terinfeksi HIV tiap harinya.. Di Indonesia, secara kumulatif sejak tahun 1987, kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 21.770 dan 4.128 di antaranya telah meninggal dunia (Kemkes, Juni 2010). Perkembangan epidemi HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di wilayah Asia. Berdasarkan permodelan epidemik, jika pada tahun 2008 di Indonesia jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS tercatat mencapai 277.700 orang, maka jumlah itu akan mencapai dua kali lipatnya pada tahun 2014, yaitu berjumlah 501.400 orang. Pada kenyataannya orang yang hidup dengan HIV/AIDS(ODHA) tidak hanya memiliki masalah dari segi fsik saja namun juga banyak studi  telah memperlihatkan bahwa mereka mengalami peningkatan kerentanan gejala putus asa dan rasa bersalah (Thompson et al.,1997), ansietas dan gangguan penyesuaian (Holmes et al.,1997; Rabkin et al.,1997). Diagnosis tersering pada populasi HIV seropositif adalah gangguan depresi dengan angka prevalensi antara 40%-60% (Dew et al.,1997; Fleishman dan Fogel,1994, Gallego,2000).

Data di RSCM menunjukkan dari 100 ODHA terdapat 68% dengan gangguan depresi, 41% dengan gangguan cemas menyeluruh, 7% dengan gangguan panik dan 6 % dengan gangguan psikotik (Wibowo A, 2004). Adanya gangguan psi kiatri pada penderita HIV/AIDS secara umum berkaitan dengan fungsi dan kualitas hidup yang lebih buruk (Vosvick et al.2003).  Isu yang penting yang terkait dengan ODHA adalah diskriminasi dan stigmatisasi secara sosial. diskriminasi dan stigmatisasi ini membuat mereka kehilangan pekerjaan, rumah dan status sosial. Terlebih lagi mereka kehilangan akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Saat ini hampir setengah ODHA adalah perempuan, sedangkan diskriminasi gender masih nyata dirasakan. Ibu rumah tangga merupakansalah satu populasi berisiko untuk mengalami HIV, namun dari segi prioritas kesehatan, perempuan bukanlah yang diutamakan. ODHA yang mengalami masalah psikologis merasakan stigmatisasi dua kali lebih besar. Hal ini menyebabkan mereka enggan untuk mengungkapkan masalah psikologis yang mereka alami. Masalah psikologis yang dibiarkan akan secara nyata mempengaruhi kepatuhan berobat mereka dalam mengkonsumsi antiretroviral (ARV). 95% resistensi ARV disebabkan karena kepatuhan berobat yang buruk.

Masalah psikologis yang dialami oleh ODHA juga sering tidak terdeteksi oleh  petugas kesehatan. Isu yang berkembang ini dapat diminimalisasi dengan adanya suatu sistem yang terpadu dimana ODHA dapat mengaksesnya dengan lebih mudah. Sistem layanan terpadu ini mengikutsertakan semua disiplin ilmu yang terkait dalam layanan ODHA baik secara fsik dan psikis. Layanan terpadu ini juga dapat mengurangi rasa terstigma pada ODHA saat mereka harus mengatakan adanya masalah psikologis pada diri mereka. Sejak pertama kali mereka mengakses layanan, mereka dilayani oleh tim terpadu yang mengevaluasi secara fsik dan psikologis. Bentuk layanan terpadu dengan model seperti ini yang sedang dirintis oleh Pokdisus RSCM.

Minimalisasi diskriminasi dan stigmatisasi sosial dapat dicapai melalui komitmen kita untuk meningkatkan akses universal yang merupakan komitmen global dengan memberikan kemudahan akses dalam pencegahan, pelayanan dan dukungan pada orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

Konseling HIV/AIDS

Pokdisus AidsOleh: Kurniawan Rachmadi, SKM, MSi

Supevisor Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian UPT HIV RSCM

Konseling merupakan salah satu proses yang harus dilakukan sebelum seseorang memutuskan untuk test anti-HIV. Pengertian konseling adalah: hubungan kerjasama yang bersifat menolong antar dua orang (konselor dan klien) yang bersepakat untuk :

  1. Bekerja sama dalam upaya menolong klien agar dapat menguasai permasalahan dalam hidupnya.
  2. Berkomunikasi untuk membantu mengidentifkasi problem-problem klien
  3. Terlibat dalam proses yang menyediakan pengetahuan keterampilan, dan akses terhadap sumber- sumber
  4. Membantu klien mengubah sikap/ presepsi yang negatif terhadap problemnya, sehingga klien dapat mengatasi kekuatirannya dan memutuskan apa yang akan ia lakukan dengan permasalahan yang dihadapinya.

Konseling HIV/AIDS adalah konseling yang secara khusus memberi perhatian terhadap permasalahan yang berkaitan dengan HIV/AIDS, baik terhadap orang yang terinfeksi maupun terhadap lingkungan yang terpengaruh. Tujuan dari dilakukannya konseling HIV/AIDS agar tersedianya dukungan sosial dan psikologik kepada odha dan keluarganya. Selain itu juga terjadinya perubahan perilaku yang aman sehingga penurunan penularan infeksi HIV/AIDS.

Konseling HIV/AIDS biasanya dilakukan dua kali, yaitu: sebelum tes (pra-test) atau sesudah tes (Pasca test) HIV/AIDS. Selama konseling berlangsung biasanya ada beberapa topik yang di bicarakan. Di antaranya:

  • Identifikasi prilaku yang berisiko tertular HIV/AIDS.
  • Membantu membuat keputusan untuk merubah perilaku itu.
  • Mengganti dengan perilaku perilaku yang berisiko lebih rendah/ aman serta mempertahankan perilaku itu.
  • Membantu klien untuk mengambil keputusan untuk melakukan tes HIV, dengan membuat pernyataan persetujuan (informed consent), tanpa paksaan dan bersifat rahasia (confidentiality).

Bila klien memutuskan untuk memeriksakan diri, ia perlu disiapkan untuk menghadapi hasil yang akan diterimanya. Ada tiga kemungkinan hasil yang akan terjadi:

1. Hasil tes negatif dan bukan dalam periode jendela,

  •  Jelaskan bahwa ini bukan berarti bebas HIV seumur hidup hingga boleh berperilaku apapun.
  • Andaikata ada prilaku berisiko tinggi, perlu merubah perilaku tersebut, menjadi lebih aman dan dipertahankan seumur hidup sesuai dengan pilihan A (abstinence), B (Be Faithful), C (Condom) atau kombinasi demi pencegahan HIV.

2. Hasil tes negatif dalam periode jendela

  • Perlu mengulang tes untuk 3 bulan kemudian, untuk kepastianstatus HIV-nya.
  • Sudah harus merubah perilaku risiko tingginya, sesuai pilihan A,B, C atau kombinasi.

3. Hasil tes positif

  • Perhatikan reaksi klien saat menerima hasil tes, konselor perlu berempati
  • Jelaskan bawa positif bukan berarti mati.
  • Rujukan untuk dukungan dan pengobatan.
  • Jaminan kerahasiaan.
  • Kemungkinan memberitahu pasangan.
  • Merubah perilaku berisiko tingginya berdasarkan pilihan A, B, C, atau kombinasinya.

Meskipun program konseling dan tes secara sukarela telah dilaksanakan sejak tahun 1994, namun pada kenyataannya di lapangan cakupannya masih sangat rendah. Tahun 2010 ini diperkirakan ada 300.000 orang di Indonesia telah terinfeksi HIV/AIDS. Sayangnya baru sekitar 30.000 orang yang mendapatkan pengobatan. Mengapa hal seperti itu bisa terjadi?

Untuk meningkatkan cakupan Program Dukungan, Perawatan dan Pengobatan di HIV/AIDS Indonesia, pemerintah telah mensosialisasikan kebijakan baru Provider Initiative Test and Counseling (PITC). Diharapkan dengan informasi dan anjuran dari petugas kesehatan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri semakin meningkat. Sehingga diharapkan secara langsung maupun tidak langsung akan terdeteksi lebih awal.

Bila seseorang terdeteksi lebih awal maka kita bisa mencegah kematian dan juga tidak perlu mengalami infeksi oportunistik. Terlebih lagi perubahan kebijakan ini, akan mendukung kebijakan Access for All yang dikeluarkan WHO. Semoga dengan semakin ditingkatkannya fasilitas dan sarana yang ada, Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM mampu melaksanakan kegiatan tersebut.

HALLO CIPTO – Desember 2010

Seputar TB-HIV

Pokdisus AidsOleh: Dr. Anna Uyainah ZN, SpPD, K-P, MARS , Divisi Pulmonologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI-RSCM

Saat ini jumlah penderita HIV sangat meningkat. Indonesia merupakan negara yang mempunyai peningkatan jumlah pasien HIV cukup tinggi. Disamping itu Indonesia merupakan negara endemis dalam penyakit Tuberkulosis. Mudahnya penularan TB pada pasien HIV menyebabkan pasien TB-HIV di Indonesia semakin meningkat. Demikian juga di RSCM jumlah pasien TB-HIV semakin meningkat. Diketahui bahwa Tuberkulosis merupakan infeksi oportunistik terbanyak pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) , dan Tuberkulosis merupakan penyebab kematian tertinggi.

Dalam upaya menurunkan TB pada pasien HIV dan infeksi HIV pada pasien TB perlu dilakukan penanganan dan pencegahan secara bersama, berkolaborasi dengan pihak terkait. Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2010 ini mempunyai tema “Akses Universal dan Hak Asasi Manusia” , sub tema “Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua Guna Menekan Laju Epidemi HIV di Indonesia”, dan slogan “ STOP AIDS: Tingkatkan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua”.

Dalam penatalaksanaan TB HIV sejak penemuan dini atau diagnosis sampai pengobatan , sarat dengan pendidikan baik bagi dokter, petugas kesehatan lainnya, pasien, keluarga dan masyarakat. Untuk penemuan dini TB pada orang dengan HIV-AIDS (ODHA) lebih sulit dibandingkan penemuan dini pasien TB pada umumnya. Pada ODHA, kecurigaan adanya TB lebih sering ditemukan adanya demam yang lama dan penurunan berat badan yang drastis. Sedangkan batuk lama bukan merupakan gejala yang umum. Pada pemeriksaan foto toraks juga berbeda dengan pasien TB umumnya. Pada ODHA gambaran foto toraks tidak spesifk, tergantung beratnya infeksi HIV. Pada ODHA yang mempunyai nilai CD4 lebih dari 350 gambaran foto toraks mungkin sama dengan gambaran TB pada umumnya yaitu terdapatnya infltrat pada lapangan atas paru, sedangkan pada infeksi HIV yang lebih berat dimana CD4 kurang dari 350 gambaran foto toraks tidak spesifk, dimana gambaran infltrat bukan dilapangan atas paru tetapi dapat dibagian tengah atau basal paru. Untuk pemeriksaan BTA pada sputum, pada TB HIV lebih sering tidak ditemukan BTA dalam sputum atau BTA negatif. Semakin lanjut infeksi HIV semakin dominan BTA negatif.

Untuk penemuan HIV pada penderita TB, saat ini lebih berpeluang, karena petugas kesehatan direkomendasi untuk memotivasi pasien yang mempunyai gejala terinfeksi HIV (PITC = Provider-Initiated Testing and Counseling), tidak lagi menunggu permintaan pasien dengan sukarela (VCT = Voluntary Counseling and Testing). Sesuai Penanganan TB dengan Standar International (ISTC = International Standard for TB Care) test HIV pada pasien TB harus segera dilakukan apabila pasien mempunyai gejala terinfeksi HIV, pasien tinggal didaerah yang mempunyai prevalensi HIV tinggi dan pasien yang mempunyai risiko tinggi terinfeksi HIV karena pekerjaannya dan karena hal lainnya.

Untuk mendiagnosis TB pada ODHA atau mendiagnosis HIV pada pasien TB perlu ditingkatkan pengetahuan para petugas kesehatan baik dokter yang menangani pasien langsung, dokter yang melakukan pemeriksaan penunjang dan petugas kesehatan terkait lainnya. Disamping itu pendidikan juga perlu diberikan kepada pasien dan keluarganya serta masyarakat agar penemuan kasus lebih cepat dan pengobatan dapat diberikan segera sehingga dapat menurunkan mortalitas. Pengobatan pada pasien TB-HIV pada prinsipnya sama dengan pasien TB umumnya. Untuk kasus TB yang belum pernah mendapat OAT diberikan OAT kategori 1 dan untuk kasus TB yang sudah pernah mendapat OAT, kasus kambuh, kasus gagal terapi dan kasus putus obat diberikan OAT kategori 2. Untuk kategori 1 diberikan 2RHZE/4RH dan kategori 2 diberikan 2RHZES/1RHZE/5RHE. Namun pada pasien TB-HIV sering ditemukan reaksi obat baik OAT maupun ARV. Reaksi obat tersebut dapat berupa alergi, efek samping dan interaksi OAT dan ARV.

Apabila reaksi obat terjadi, maka pengobatan dapat dihentikan dulu atau dilakukan penurunan dosis dan disesuaikan setelah kondisi membaik. Sehubungan dengan reaksi obat tersebut seringkali pasien dengan TB-HIV mempunyai waktu pengobatan lebih panjang atau pasien berhenti berobat sebelum selesai waktunya. Perlu diperhatikan bahwa TB pada ODHA perlu dimasukkan dalam kecurigaan MDR-TB ( Multi Drug resistant), karena infeksi HIV merupakan salah satu faktor risiko MDR-TB. Saat ini MDR-TB sudah merupakan ancaman di dunia dan juga di Indonesia. Diharapkan semua petugas kesehatan secara bersama-sama mengupayakan mencegah meningkatnya MDR-TB.

Dalam pengobatan TB-HIV ini memerlukan pengetahuan yang lebih dibanding pengobatan TB tanpa infeksi HIV. Untuk itu diperlukan peningkatan pengetahuan bagi dokter yang menangani pasien serta petugas kesehatan terkait. Sebaiknya pengetahuan tersebut juga diketahui oleh pasien TB-HIV, dan keluarganya serta masyarakat. Semoga melalui Hari AIDS Sedunia tahun 2010 ini, Indonesia dapat meningkatkan akses pendidikan TB-HIV untuk semua baik dokter, petugas kesehatan lainnya dan masyarakat, sehingga dapat menekan Laju Epidemi HIV di Indonesia.

HALO CIPTO DESEMBER 2010

GIZI PADA ODHA

Pokdisus Aids

Fitri Hudayani, SST

Instalasi Gizi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

Zat gizi di dalam makanan kebutuhannya tergantung pada bagaimana makanan dimanfaatkan untuk pertumbuhan, reproduksi, dan pemeliharaan kesehatan. Makanan mengandung zat gizi yang berbeda antara lain mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang masing – masing bahan makanan memiliki nilai yang berbeda sesuai dengan kelompoknya. Bahan makanan dengan zat gizi yang baik dan seimbang diperlukan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) untuk mempertahankan, meningkatkan fungsi sistem imun dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi, dan menjaga ODHA tetap aktif dan produktif menjalani hidupnya. Ketika HIV menyerang seseorang, maka kekebalan tubuh alami untuk melawan penyakit dan kuman akan memburuk. Ketika system kekebalan tubuh ODHA melemah, maka kuman mengambil keuntungan dari keadaan ini yang dapat menyebabkan penyakit pada penderita seperti demam, batuk, gatal, diare kronik, pneumonia, TBC, dan sariawan.

Waktu yang dibutuhkan HIV menjadi AIDS tergantung kepada status kesehatan dan status gizi penderita sebelum dan selama terinfeksi oleh virus. Banyak penderita yang hidup dengan virus antara 10 tahun atau lebih jika mereka mampu menjaga kondisi dan keseimbangan gizi untuk dirinya. Jika seorang ODHA mempunyai status gizi yang baik, maka daya tahan tubuh akan lebih baik sehingga memperlambat memasuki tahap gawat AIDS (acquired immune deficiency syndrome).

Sumber : A Guide for Nutritional Care and Support, 2004

Kebutuhan gizi pada ODHA berbeda – beda sesuai dengan kondisi individu dan perkembangan penyakitnya. Kebutuhan energi meningkat sekitar 10 sd 30 % dari kebutuhan normal, untuk kebutuhan protein berkisar antara 1,5 sd 2 gram/kg berat badan, sedangkan kebutuhan lemak dan karbohidrat normal. Pemenuhan kebutuhan gizi dapat didapat dari makanan yang sehari – hari dikonsumsi oleh ODHA.

Konsumsi makanan dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan sangat diperlukan untuk menunjang kesehatan, pertahanan tubuh dan mempertahankan berat badannya agar tidak turun drastis. Tetapi pada kenyataannya hal tersebut tidaklah mudah, ada beberapa hal yang menyebabkan jumlah makanan yang dikonsumsi tidak sesuai kebutuhan. Beberapa masalah makan biasanya ditemui antara lain menurunya nafsu makan, berubahnya pengecapan, sariawan, dan lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan beberapa usaha, antara lain :
1. Konsumsilah makanan yang padat gizi, misalnya susu, jus kacang hijau, es krim, roti isi, makanan yang ditambahkan margarine, alpukat dan kacang – kacangan dan hasil olahannya.
2. Konsumsilah makanan dalam porsi kecil dan sering terutama apabila dalam kondisi mual dan tidak nafsu makan.
3. Makanan utama dalam bentuk makanan padat dan tinggi kalori, misalnya krim sup, sereal dengan susu, ikan goreng tepung, sup ayam.
4. Makanan rendah kalori ditaruh diakhir sajian/setelah makan, misalnya buah, minuman manis, agar – agar.
5. Makanlah secara perlahan dan santai serta ciptakannya suasana yang menyenangkan saat makan.
Bahan makanan yang dianjurkan antara lain :
6. Daging, ikan, ayam, dan telur sebagai sumber lauk hewani.
7. Kacang – kacangan dan produk olahannya karena mengandung energi dan protein untuk memenuhi kebutuhan gizi.
8. Tempe dan produknya, selain tinggi protein dan vitamin B12 tempe juga mengandung bakterisida yang dapat membantu mengatasi dan mencegah diare.
9. Kelapa dan produk olahannya yang dapat membantu memenuhi kebutuhan lemak sekaligus sebagai sumber energi. Kelapa juga sebagai sumber MCT (medium chain trygliserida) yang mudah diserap.
10. Sayur – sayuran berwarna seperti wortel, daun – daunan, kacang panjang dan buncis yang mengandung zat dan vitamin peningkat daya tahan tubuh dan sebagai anti radikal bebas.
11. Buah – buahan untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin.
12. Makanan dalam bentuk matang.
13. Air masak, bersih dan aman.
14. Jagalah kebersihan makanan dan alat makan yang digunakan.
Bahan makanan tidak dianjurkan adalah :
15. Bahan makanan yang menimbulkan gas, seperti ubi, kol, sawi, nangka, duarian.
16. Makanan yang terlalu berlemak, seperti santan kental, daging berlemak, jeroan, gorengan. Makanan yang terlalu berlemak akan akan menambah rasa mual terutama jika keluhan tersebut sedang dialami.
17. Makanan dengan bumbu yang merangsang, misalnya cabe, lada dan cuka.
18. Bahan makanan mentah seperti lalapan.
19. Makanan yang kurang masak seperti sate, telur setengan matang, stik daging.
20. Minuman bersoda dan beralkohol.

Contoh menu dalam sehari :
Pagi Nasi
Omelet
Setup Wortel
Susu
Pukul 10.00 Jus kacang hijau
Siang Nasi
Ikan bumbu kuning
Tempe bumbu tomat
Sup Sayuran
Jus Melon
Pukul 16.00 Puding buah
Malam Nasi
Daging semur
Tahu goreng
Sayur bening bayam
Pisang
Pukul 21.00 Biskuit

Konseling HIV/AIDS

Pokdisus Aids

Apakah Konseling?
Konseling adalah proses membantu seseorang untuk belajar mencari solusi bagi masalah emosi, interpersonal dan pengambilan keputusan, membantu klien menolong diri sendiri. konseling dilakukan baik Untuk individu, pasangan atau keluarga, membantu individu bertanggung jawab atas hidupnya dengan mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang bijak dan realistis, menimbang setiap konsekuensi dari perilaku, memberikan informasi yang berfokus pada klien : secara spesifik tertuju pada kebutuhan, isu dan seputar klien sebagai individu, melalui proses internal, kolaboratif, bertanggung jawab menuju pada suatu tujuan. Termasuk juga mengembangkan otonomi dan tanggung jawab diri pribadi klien mempertimbangkan situasi interpersonal, sosial / budaya, kesiapan untuk berubah, mengajukan pertanyaan, menyediakan informasi, mengulas opsi dan mengembangkan rencana tindakan.

Bukan Konseling
Melakukan konseling tidak mudah namun juga tidak sulit karena itu seorang yang melakukan kegiatan konseling seharusnya mengerti rambu-rambu pelaksanaan konseling agar tidak terjebak pada kegiatan yang bukan konseling yakni bersikap mengarahkan, menyarankan, menasehati, ngobrol, menginterogasi, membuat pengakuan, mendoakan, memberi harapan.

Apakah Konseling HIV/AIDS ?
Konseling HIV/AIDS bersifat komunikasi rahasia antara klien dan petugas kesehatan bertujuan memungkinkan klien menghadapi stres dan menentukan pilihan pribadi berkaitan dengan HIV/AIDS. Proses konseling termasuk melakukan evaluasi risiko penularan HIV pribadi, memberikan fasilitasi perubahan perilaku, dan melakukan evaluasi mekanisme coping ketika klien dihadapkan pada hasil tes (+)
Konseling pencegahan dan perubahan perilaku guna mencegah penularan. Diagnosis HIV mempunyai banyak dampak – psikologik, sosial, fisik dan spiritual HIV merupakan penyakit yang mengancam kehidupan.
Adapun proses konseling adalah sebagai berikut :
Tahap pertama : Dimulai dari membina hubungan baik dan membina kepercayaan , dengan menjaga rahasia dan mendiskusikan keterbatasan rahasia, melakukan ventilasi permasalahan, mendorong ekspresi perasaan, diutamakan dapat menggali masalah, terus mendorong klien menceritakannya.
Upayakan dapat memperjelas harapan klien dengan mendeskripsikan apa yang konselor dapat lakukan dan cara kerja mereka serta memberi pernyataan jelas bahwasanya komitmen konselor akan bekerja bersama dengan klien
Tahap kedua : Mendefinisikan dan pengertian peran, memberikan batasan dan kebutuhan untuk mengungkapkan peran dan batasan hubungan konseling, mulai dengan memaparkan dan memperjelas tujuan dan kebutuhan klien, menyusun prioritas tujuan dan kebutuhan klien, mengambil riwayat rinci – menceritakan hal spesifik secara rinci , menggali keyakinan, pengetahuan dan keprihatinan klien
Tahap ketiga : Proses dukungan konseling lanjutan yakni dengan meneruskan ekspresi perasaan / pikiran , mengidentifikasi opsi, mengidentifikasi ketrampilan, penyesuaian diri yang telah ada, mengembangkan keterampilan penyesuaian diri lebih lanjut, mengevaluasi opsi dan implikasinya, memungkinkan perubahan perilaku, mendukung dan menjaga kerjasama dalam masalah klien, monitoring perbaikan tujuan yang terindentifikasi , rujukan yang sesuai
Tahap empat : Untuk menutup atau mengakhiri hubungan konselin . Disarankan kepada klien dapat bertindak sesuai rencana klien menata dan menyesuaiakan diri dengan fungsi sehari-hari, bangun eksistensi sistem dukungan dan dukungan yang diakses, lalu mengidentifikasi strategi untuk memelihara hal yang sudah beruhah baik .
Untuk pengungkapan diri harus didiskusikan dan direncanakan, atur interval parjanjian diperpanjang, disertai pengenalan dan pengaksesan sumber daya dan rujukan yang tersedia, lalu pastikan bahwa ketika ia membutuhkan para konselor senantiasa bersedia membantu.
Menutup atau mengakhiri konseling dengan mengatur penutupan dengan diskusi dan rencana selanjutnya, bisa saja dengan membuat perjanjian pertemuan yang makin lama makin panjang intervalnya.
Senantiasa menyediakan sumber dan rujukan yang telah dikenali dan dapat diakses – memastikan klien dapat mengakses konselor jika ia memilih untuk kembali ketika membutuhkan

Tujuan Konseling HIV/AIDS
Konseling HIV/AIDS merupakan proses dengan 3 (tiga) tujuan umum : 1. Ddukungan psikologik misalnya dukungan emosi, psikologi sosial, spiritual sehingga rasa sejahtera terbangun pada odha dan yang terinfeksi virus lainnya .
2. Pencegahan penularan HIV/AIDS melalui informasi tentang perilaku berisiko (seperti seks tak aman atau penggunaan alat suntik bersama ) dan membantu orang untuk membangun ketrampilan pribadi yang penting untuk perubahan perilaku dan negosiasi praktek aman.
3. Memastikan terapi efektif dengan penyelesaian masalah dan isu kepatuhan

Cara untuk mencapai tujuan :
Mengajak klien mengenali perasaannya dan mengungkapkannya , menggali opsi dan membantu klien membangun rencana tindak lanjut yang berkaitan dengan isu yang dihadapi, mendorong perubahan perilaku, memberikan informasi pencegahan, terapi dan perawatan HIV/AIDS terkini, memberikan informasi tentang institusi ( pemerintah dan non pemerintah ) yang dapat membantu dibidang sosial, ekonomi dan budaya , membantu orang untuk kontak dengan institusi diatas.
Membantu klien mendapatkan dukungan dari system jejaring social, kawan dan keluarga membantu klien melakukan penyesuaian dengan rasa duka dan kehilangan , melakukan peran advokasi – misal membantu melawan diskriminasi, membantu individu mewaspadai hak hukumnya, membantu klien memelihara diri sepanjang hidupnya, membantu klien menentukan arti hidupnya.

Selain isu yang berkaitan langsung dengan HIV/AIDS, klien dapat menyajikan : Serangkaian isu tentang keadaan tidak langsung berkaitan dengan HIV kebutuhan terapi spesifik misalnya : disfungsi seksual, serangan panik isu terdahulu yang belum terselesaikan, misalnya: isu seksual, ketergantungan napza, masalah keluarga dll.

dari berbagai sumber

Terapi Obat Antiretroviral ARV Perpanjang Harapan Hidup Penderita HIV/AIDS

Pokdisus AidsHIV kini bukan akhir segalanya. Dengan kemajuan diagnosis dan terapi antiretroviral sejak dini, orang yang terinfeksi HIV memiliki harapan hidup lebih panjang dan bisa menjalani hidup yang produktif. Bahkan, konsumsi obat-obatan itu mampu mencegah penularan virus ganas tersebut dari ibu ke bayinya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, sekitar 33 juta orang kini hidup dengan HIV dan lebih dari 30 juta di antaranya tinggal di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah. Dari total jumlah itu, diperkirakan sedikitnya 9,7 juta orang butuh obat-obatan antiretroviral (ARV). Pada akhir tahun 2008 sekitar 4 juta orang di negara berkembang menerima ARV. Sekitar 285.000 anak menerima manfaat dari program ARV pada anak atau meningkat 45 persen daripada tahun sebelumnya.

Meski tidak bisa menyembuhkan, terapi ARV bisa memperpanjang hidup pengidap HIV positif dan membuat mereka hidup lebih produktif. Terapi ini mampu mengurangi jumlah virus HIV dalam darah dan meningkatkan jumlah sel CD4 positif (jumlah limfosit yang melindungi tubuh dari infeksi). Obat-obatan ARV digunakan dalam terapi untuk infeksi HIV. Obat-obatah ini melawan infeksi dengan memperlambat replikasi virus HIV dalam tubuh.

Ini berarti menghambat penyebaran virus dengan mengganggu proses reproduksi virus. Dalam sel yang terinfeksi, virus memperbanyak diri sehingga bisa menginfeksi sel-sel lain yang masih sehat. Prof Samsuridjal Djauzi, Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia, yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengatakan bahwa makin banyak sel terinfeksi, kekebalan tubuh kian turun.

Untuk mereplikasi diri, HIV butuh enzim reverse transcriptase. Obat-obatan ARV memperlambat kerja enzim itu dan mengacaukan replikasi virus dengan mengikat enzim tersebut untuk menghentikan produksi virus baru. Obat-obatan itu juga menghambat protease-enzim pencernaan pemecah protein dan enzim dalam sel terinfeksi. Sejak tahun 1987, terapi ARV dengan Zidovudine telah dirintis di Indonesia diikuti kombinasi Azidothymidine (AZT) dan Lamivudine. Pada tahun 1996 terapi kombinasi dari tiga atau lebih obat ARV dinilai lebih efektif daripada aspek imunologi, virologi, epidemiologi. Obat-obatan ARV amat terbatas jumlahnya, antara lain Zidovudine, Lamivudine, Nevirapine, dan Efavirenz.

Apabila menggunakan satu obat, dalam beberapa waktu bisa terjadi resistensi virus terhadap obat itu. Akibatnya, obat jadi tak efektif dan terjadi lagi replikasi virus. Penggunaan ARV dalam kombinasi tiga atau lebih obat-obatan menurunkan kematian dan penyakit penyerta terkait AIDS. Terapi kombinasi dari tiga atau lebih obat ARV (highly active anti-retroviral therapy/HAART) biasanya terdiri dari dua obat yang bekerja menghambat enzim reverse transcriptase dan satu obat penghambat protease.

Dalam Kongres Internasional AIDS Asia Pasifik, di Bali, 9-13 Agustus, terungkap, kini terapi ARV diupayakan diberikan lebih dini. Selama ini ARV biasanya diberikan ketika CD4 kurang dari 200. Belakangan WHO merekomendasikan ARV diberikan jika CD4 kurang dari 350. Jika CD4 di bawah 200, risiko terkena infeksi oportunistik tinggi, misalnya, tuberkulosis, jamur, dan diare.

Seseorang dinyatakan AIDS jika CD4 di bawah 200 tanpa gejala atau CD4 di atas 200 dengan infeksi oportunistik. Orang terinfeksi HIV umumnya meninggal karena infeksi oportunistik. Bila ARV diberikan ketika CD4 di bawah 350, infeksi oportunistik bisa dicegah sehingga beban biaya pengobatan dan biaya perawatan di rumah sakit bisa ditekan. Tantangan pengobatan adalah efek samping dan resistensi virus terhadap ARV karena obat-obatan dikonsumsi seumur hidup.

Sejumlah bukti yang dipaparkan dalam situs WHO menunjukkan, program terapi ARV dapat diimplementasikan sebagai satu cara yang menekankan pada pencegahan. Terapi kombinasi ARV untuk menekan jumlah virus yang didukung perubahan perilaku mengurangi penularan HIV. Meski perlu studi lanjutan tentang dampak ARV pada prevalensi HIV di tingkat populasi, terapi ini sebaiknya menjadi bagian dari pencegahan HIV terintegrasi dan komprehensif. Ini bisa meningkatkan efektivitas biaya terapi di negara berkembang.

Ketua Sentra Layanan Informasi Drugs, HIV/AIDS, dan Reproduksi (Sandar) Prof Djubairi Djoerban, mengatakan bahwa ARV efektif untuk pencegahan. Sejumlah studi menyebutkan, kelompok yang minum ARV pasangannya tidak tertular HIV, prevalensi pasangan turun dari 10,3 persen menjadi 1,9 persen. Orang dengan HIV yang minum ARV risiko penularan turun 80 persen. Apabila ibu hamil HIV positif minum ARV, risiko penularan ke bayinya sekitar 2 persen dan jika tidak minum ARV, risikonya mencapai 30 persen. Obat-obatan ARV mencegah penularan HIV pada petugas kesehatan.

Mengingat pentingnya terapi ARV, akses terhadap terapi ini perlu ditingkatkan. Caranya dengan menambah anggaran negara untuk ARV, memproduksi ARV dalam negeri agar pasokan berkesinambungan. Kini ada paradigma baru tes HIV. Selama ini tes HIV dan konseling sukarela sehingga banyak orang baru tahu terinfeksi HIV ketika mengalami infeksi oportunistik. Agar bisa diterapi lebih dini, sejumlah negara mulai menerapkan tes HIV atas inisiatif penyedia layanan kesehatan dengan persetujuan pasien dan kerahasiaan hasil tes terjaga.

Quoted by ; Lebih Dini Mengobati Lebih Baik Hasilnya
Kompas, Kamis 3 September 2009)