Save Papua, Sudah Sampai Dimana?

Hari Rabu, 9 Februari 2011, Pokdisus AIDS FKUI/RSCM kedatangan tamu-tamu penting yaitu anggota DPR/DPD dari Kaukus Papua. Mereka yang hadir antara lain: Paskalis Kossay (ketua), Moerdiono (sekretaris umum), Dhondy Jaya S.Sos (anggota), Achmad Kastella (akademisi/peneliti HIV dari Universitas Cendrawasih) dan Max Mandosir (aktivis LSM, ketua Yayasan Bunga Bangsa Indonesia). Kedatangan para tamu terhormat tersebut adalah untuk mendiskusikan mengenai masalah penanggulangan HIV di Indonesia dan secara khusus penanggulangan HIV di Papua dan Papua Barat.

Menurut para wakil rakyat tersebut masyarakat di Papua dan Papua Barat masih belum merasakan secara nyata upaya penanggulangan HIV di kedua propinsi tersebut. Harapan masyarakat tentulah penularan HIV dapat dikurangi (kasus baru menurun) serta angka kematian karena HIV juga turun secara nyata. Jika banyak negara Asia dan Afrika telah berhasil mengendalikan HIV, lalu apakah ada harapan bagi kedua propinsi tersebut untuk mengendalikan HIV secara nyata? Beliau juga mempertanyakan pengaruh program ‘Save Papua’ sudah sampai dimana? Kekhawatiran bapak-bapak tersebut tentulah juga menjadi kekhawatiran kita semua.

Wilayah Papua yang luas, aneka ragam suku serta transportasi yang sulit dapat dijadikan alasan kenapa upaya penanggulangan HIV di Papua dan Papua Barat belum menunjukkan hasil yang dapat diharapkan. Sudah tentu, pada umumnya upaya penanggulangan baru bisa memperlihatkan hasil dalam waktu yang cukup lama. Namun kita mungkin dapat merenungkan program ‘Save Papua’ yang telah dijalankan selama ini. Apakah program yang direncanakan di lapangan sudah berjalan dengan baik. Jika belum, tentu program yang telah dilaksanakan selama ini perlu disempurnakan dan ditingkatkan.

Mengenai angka kematian karena HIV/AIDS pada tahun 2006 di RS Dharmais masih sekitar 30% namun sekarang telah menurun secara nyata. Angka kematian Odha (orang dengan HIV/AIDS) di Indonesia dengan penggunaan obat ARV juga menurun, dari sekitar 40% menjadi 17%. Jadi sebenarnya amat mungkin menurunkan angka kematian HIV/AIDS di Papua dan Papua Barat. Upaya tersebut tetap bermula dari penyuluhan dan pencegahan, deteksi dini serta kemampuan menatalaksana infeksi oprtunistik yang mengancam nyawa seperti TBC, toksoplasma otak, meningitis kriptokokus dll. Pokdisus AIDS FKUI/RSCM dapat membantu teman-teman di Papua dan Papua Barat dalam mengatasi infeksi oportunistik tersebut.

Sudah tentu juga dibutuhkan sarana laboratorium esensial dan obat infeksi oportunistik. Prof. Retno, Dr. Darma dan teman dari Bandung tahun lalu telah berkunjung ke teman-teman sejawat di Papua, berdiskusi dan juga memberikan supervisi serta asistensi. Namun sudah tentu kita memerlukan program yang lebih intensif dan juga berkesinambungan. Pemerintah telah meluncurkan program percepatan pembangunan Papua dan Papua Barat, masalah penanggulangan HIV/AIDS juga sudah dipadukan dalam program tersebut. Namun bagaimanakah sebenarnya perkembangan program tersebut? Sejauh mana program sudah dijalankan? Mengapa angka infeksi dan kematian akibat HIV masih terus meningkat? Patut dicatat usulan teman dari Universitas Cenderawasih, agar orang-orang di Jakarta lebih memperhatikan potensi lokal dan kearifan lokal. Marilah kita evaluasi kembali program ‘Save Papua’, sampai dimana?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s