Belajar dari Thailand, Terapi ARV dan Hepatitis

Prof.DR.Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI & Kurniawan Rachmadi, SKM, MSi

Sekitar tahun 2001, teman teman Odha Thailand membeli obat ARV dari India dan membawanya langsung ke Thailand. Tindakan ini terpaksa dilakukan karena pada waktu itu di Thailand hanya tersedia obat ARV paten yang harganya amat tak terjangkau (sekitar 800 dolar Amerika setiap bulan). Kiriman pertama obat ARV ini lolos dan dapat dimanfaatkan namun selanjutnya tertahan oleh Bea Cukai Thailand dan karena  obat ini tidak memiliki surat-surat yang diperlukan dan belum di registrasi di Thailand maka sesuai ketentuan harus dimusnahkan.

Dimusnahkan? Bukankah obat tersebut amat diperlukan sebagian masyarakat Thailand, bahkan bagi mereka obat ini dapat menyelamatkan nyawa mereka. Berita rencana pemusnahaan tersebut mendapat perhatian dan tantangan dari masyarakat. Teman-teman Odha serta aktivis HIV/AIDS Thailand berdemonstrasi di depan perlemen. Jumlahnya tiap hari makin lama semakin banyak. Bahkan kalangan akademisi  seperti Prof Praphan Panumpahk, juga mendukung agar obat tersebut digunakan untuk Odha.

Pemerintah Thailand terdesak dan menyadari obat ARV merupakan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu pemerintah Thailand kemudian memutuskan untuk memproduksi sendiri obat ARV  ini. Untuk itu GPO (perusahaan obat farmasi milik pemerintah Thailand) diperintahkan untuk memproduksi ARV. Produksi ARV di Thailand  dimulai tahun 2002. Sampai sekarang sekitar 150.000 orang mendapat obat ARV melalui program pemerintah dan sekitar 10% mendapat obat ARV murah dengan membeli di apotik dan rumah sakit. Memang GPO tak hanya memproduksi ARV untuk program pemerintah tapi juga untuk di jual di pasar. Dengan demikian Odha di Thailand dapat memilih memperoleh ARV melalui program pemerintah atau beli sendiri. Di Indonesia sebagian Odha juga ada yang bersedia membeli sendiri obat ARV tapi sampai sekarang PT Kimia Farma baru memproduksi obat ARV untuk program pemerintah. Di masa depan patut dipertimbangkan di samping obat ARV pemerintah, di Indonesia juga dapat tersedia obat ARV yang dapat dibeli (dengan harga murah).

Penggunaan obat ARV lini I di Thailand  dewasa ini sekitar 90% dan 10 % telah menggunakan lini II. Obat Stavudin masih terus digunakan meski WHO memperingatkan  resiko efek samping obat ini. Untuk Odha yang baru memulai ARV jika menggunakan Stavudin sebagai salah satu obat ARV, maka penggunaan direncanakan hanya 6 bulan kemudian diganti dengan AZT. Sedangkan Odha yang telah menggunakan dapat terus menggunakannya dan baru diganti jika timbul efek samping.

Untuk ibu hamil jika pertama mengunakan ARV yang digunakan adalah Aluvia bukan Neviral. Karena efek samping Neviral baik alergi maupun  kelainan  fungsi hati  dapat menganggu kesinambungan penggunaan ARV pada ibu hamil. Namun jika telah mengunakan Neviral dan tak ada efek samping obat itu diteruskan saja.

Bagaimana dengan hepatitis C? Penggguna narkoba suntikan di Thailand sekitar 130.000 orang (di Indonesia lebih 300.000 orang). Karena itu koinfeksi hepatitis C dan hepatitis B juga merupakan masalah. Belum lagi infeksi hepatitis B dan C yang tak berkaitan dengan HIV. Untuk itu pemerintah Thailand telah menyediakan obat antiviral untuk hepatitis B yaitu lamivudin 100 mg dan Tenofovir 300mg. Sedangkan untuk hepatitis C diperlukan interferon dan ribavirin. Ribavirin telah diproduksi namun interferon belum, mungkin akan diimport dari india atau kerjasama produksi dengan negara lain. Patut kita pelajari juga adalah sistem pencatatan penggunaan ARV yang baik. Meski jumlah penguna ARV telah mencapai 150.000 orang pemantauan dapat dilakukan. Kecenderungan kebutuhan dapat terlihat, sehingga mudah melakukan perencanaan.

Pada tahun 2002 -2003 ada kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Thailand dalam pengadaan obat ARV. Kita pernah memperoleh obat ARV produksi Thailand sebelum PT Kimia Farma memproduksi ARV di Indonesia pada akhir tahun 2003. Sebaliknya program  methadone di Thailand baru mulai, karena itu kita dapat saling belajar. Nampaknya kedepan kerjasama dengan Thailand perlu ditingkatkan.

 

Senin, 24 Januari 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s