HIV/AIDS dan Perubahan Prilaku

Penyakit HIV masih menjadi momok yang menakutkan. Kenyataan membuktikan bahwa jumlah kasus HIV di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sebagaimana laporan yang dikeluarkan DEPKES pada tahun 2006 ada 193.000 orang. Bahkan estimasi yang dikeluarkan UNAIDS, kita mempunyai 270.000 orang dengan HIV. Begitu pula data Internasional di seluruh dunia jumlah kasus masih terus meningkat tajam.

Dulu kita mengenal HIV/AIDS adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, kemudian bisa dicegah dengan kondom, meski obatnya belum jelas pada waktu itu, namun yang terpenting bukan membuat orang yang terinfeksi tidak menularkan, akan tetapi yang jauh lebih penting adalah seluruh masyarakat Indonesia harus melakukan perubahan prilaku agar tidak terinfeksi.

Beragam penyuluhan kesehatan, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) telah dilakukan seperti seminar, simposium, pelatihan, dan lain sebagainya untuk menyadarkan supaya bisa merubah perilaku. Nampaknya tidak cukup sesuai dengan apa yang diharapkan. Begitu pula dengan kurang berhasilnya kondisi structural kita yang perlu pembenahan, lantaran ketidaktahuan cara penularan, bagaimana cara pencegahannya. Misalnya saja kalau pendidikannya sekolah dasar atau buta huruf, bagaimana cara mencegahnya? dan masalah kemiskinan masih menjadi tanda tanya besar.

Masalah kemiskinan di Indonesia menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan lahirnya prostitusi, Di beberapa daerah miskin, sebagian masyarakatnya mau tidak mau harus menjadi buruh rendahan, kondisi inilah yang akhirnya bisa terjerumus kedalam lingkaran prostitusi seperti di Jawa Barat, Singkawang, Riau dan Batam. Belum lagi masalah kesetaraan gender. Banyak sekali keluarga yang memprioritaskan pendidikan hanya pada kaum laki-laki ketimbang perempuan. Upaya pencegahan mengenai kondom pun dilakukan. Namun angka kasus penularan HIV dari ibu ke bayi masih saja meningkat. Di lain pihak banyak fasilitas layanan kesehatan yang belum siap melakukan program ini, mereka terpaksa harus merujuk ke tempat lain. Hal ini dikarenakan belum tersedianya sumber daya manusia dan kesiapan tenaga kesehatan. Meski demikian harus diakui pula bahwa program pencegahan Ibu ke bayi (PMTCT) sudah banyak yang berhasil.

Berdasarkan bukti laporan yang disampaikan dr. Evy Yunihastuti ( Koordinator Medis Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM) yang menyatakan bahwa prevalensi HIV di Thailand mengalami penurunan dari 2,4% pada tahun 2005 menjadi 0,2% di tahun 2006. hal ini menurutnya sebagai keberhasilan program PMTCT yang baik. Bagaimana di Indonesia? Prof.dr. Zubairi Djoerban (Manajer UPT HIV RSCM) meyakinkan bahwa Indonesia bisa melakukan hal tersebut. Menurutnya program PMTCT jangan hanya terfokus di Jakarta dan Surabaya tapi didaerah-daerah pun harus menikmatinya. Prinsipnya semua penduduk punya hak yang sama. Beliau juga menambahkan bahwa kita bisa menyediakan susu formula dan obat antiretroviral (ARV) yang sangat efektif untuk pencegahan. Hasilnya yang sudah minum ARV penularannya sangat sedikit, dan operasi Caesar berhasil lebih baik daripada yang normal.

Ada tiga strategi upaya pencegahan penularan HIV/AIDS sebagaimana disampaikan pada konferensi International AIDS Mexico pada Agustus 2008 dan Kongres sedunia Ilmu Penyakit dalam di Buenos Aires pada September 2008. Pertama, Upaya Biomedik, seperti tersedianya obat Antiretroviral, Sunat/Sirkumsisi, Kondom, PMTCT dan Pengobatan PMS (Penyakit Menular Seksual). Kedua, Upaya Struktural (Ekonomi, Budaya, Hukum, Pendidikan dan Kesetaraan Gender) dan terakhir adanya upaya perubahan prilaku.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s