Infeksi Otak pada AIDS

Tiga puluh tahun sejak timbulnya kasus pertama AIDS pada tahun 1981, kita belajar setelah sistem imun, sistem saraf merupakan organ yang paling menderita akibat infeksi HIV. Konsekuensi infeksi HIV dapat terjadi pada seluruh tingkatan aksis-neural. Pada seorang penderita infeksi HIV seringkali dijumpai proses patologik yang multipel pada beberapa lokasi yang berbeda maupun pada lokasi yang sama sepanjang aksis-neural.

Manifestasi klinis infeksi HIV pada sistem saraf dapat digolongkan menjadi dua, yakni primer disebabkan virus tersebut (demensia, polineuropati simetrik distal, miopati, mielopati dan lain-lain) dan sekunder yang merupakan infeksi otak oportunistik akibat menurunnya imunitas (toksoplasmosis serebri, meningitis kriptokokus, meningoensefalitis tuberkulosa danlain-lain). Cukup sering dijumpai efek samping obat antiretrovirus dan proses immune reconstitution syndrome yang menimbulkan komplikasi pada sistem saraf.

Saat ini, masalah yang menonjol di RSCM, adalah infeksi otak oportunistik. Masalah ini diakibatkan berbagai macam virus, bakteri, protozoa, dan berbagai pathogen lainnya yang sangat bervariasi. Mencari penyebab infeksi otak oportunistik seringkali tidak mudah. Sebagian besar kasus infeksi otak pada AIDS akan menimbulkan kematian 100% tanpa pengobatan spesifik yang tepat. Dengan pengobatan spesifik, meningitis kriptokokus masih menimbulkan angka kematian yang tinggi yakni 50-60%.

Pergeseran jaringan otak (herniasi) akibat peningkatan tekanan intrakranial merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan, di samping proses destruksi jaringan otak oleh infeksi oportunistik. Selain pengobatan spesifik, tindakan untuk mencegah dan menurunkan tekanan intrakranial yang tinggi sanga diperlukan selama perawatan.

Proses diagnosis untuk mencari penyebab infeksi oportunistik otak harus dilakukan secara cepat. Untuk pasien yang belum diketahui status HIV-nya, diperlukan prosedur tes HIV yang cepat dan akurat. Diagnosis memerlukan pemeriksaan imaging otak, foto torak, analisa cairan otak, pemeriksaan sputum, kultur darah dan biopsi otak bila diperlukan.

Analisa cairan otak merupakan prosedur yang invasive, namun sangat diperlukan pada kasus infeksi oportunistik otak pada AIDS. Tak selalu mudah untuk meminta persetujuan pasien atau keluarga untuk tindakan ini. Banyak anggapan yang salah tentang tindakan ini, diantaranya tuduhan bahwa tindakan ini merupakan penyebab kematian. Tindakan ini dilakukan pada kasus yang memiliki angka kematian yang sangat tinggi yakni 50-100%. Kematian pasien dalam beberapa hari setelah lumbal pungsi biasanya disebabkan oleh perkembangan penyakit yang memburuk bukan karena tindakan lumbal pungsi.

Sebagai simpulan, infeksi oportunistik otak pada AIDS, angka kejadiannya cukup tinggi di RSCM. Hal ini memiliki angka kematian dan kecacatan yang tinggi. Pelu diagnosis yang cepat dan terapi yang tepat untuk menyelamatkan pasien.

Materi Dr. Darma Imran SpS dapat diunduh melalui link berikut: http://www.pokdisusaids.com/index.php?option=com_jdownloads&Itemid=77&task=view.download&cid=4

Dikutip dari buletin internal HALO CIPTO Edisi Desember 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s