PENCEGAHAN BIOMEDIK DALAM PENANGGULANGAN HIV/AIDS

Prof.dr. Zubairi Djoerban, SpPD,KHOM

Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar bagi kita. Penularan HIV/ AIDS bisa dicegah terutama dengan mengandalkan masyarakat agar tidak tertular HIV. Pusat Layanan Terpadu HIV RSCM telah mengobati 4002 Odha pada tahun 2009 dengan jumlah kunjungan yang fluktuatif dari januari (1.038) sampai dengan Maret (988) di mana jumlah laki laki lebih banyak (746) daripada perempuan (242). Berdasarkan data tahun sebelumnya terjadi peningkatan jumlah kunjungan pasien HIV (+) pada perempuan dengan perbandingan antara laki laki dan perempuan adalah 2:1. Trend pasien baru pada tahun 2008 terjadi fluktuatif dengan puncaknya pada pertengahan tahun 2008 yang meningkat 50% dari bulan sebelumnya. Pada tahun 2009 belum terlihat trendnya, namun sudah mulai meningkat pada bulan Maret 2009. Pasien HIV(+) yang datang ke pusat layanan terpadu HIV RSCM paling banyak adalah pengguna kartu GAKIN.

Kesintasan satu tahun pasien AIDS di RSK Dharmais yaitu 182 laki-¬laki dan 14 perempuan dengan rata rata usia mereka adalah 15 36 tahun dengan masa survival 1 tahun (66,39%) dengan laki laki lebih pendek daripada perempuan dan pengguna narkotika suntikan (penasun) (27,55 %) daripada non penasun (4,6%). Pasien dengan CD4 < 50 memiliki risiko kematian tiga kali lebih besar dibandingkan pasien dengan CD4 > 50 dan dua belas kali lebih besar risiko kematiannya pada pasien rawat inap dibandingkan dengan pasien rawat jalan.

Penelitian untuk melihat asosiasi antara perhitungan CD4 dengan intensitas kolonisasi jamur kandida pada biakan tinja pengidap AIDS pada April Agustus 2007 dengan sampel 100 Odha menunjukkan distribusi jenis kelamin laki laki (84%), penasun (78%), umur < 30 tahun (65%), CD4 < 50 (71 %), pengidap Candida albicans (58%), Candida tropicalis (27%), Candida krusel (1%), dan campuran Candida albicans dan Candida tropicalis (14%). Penelitian lain pada bulan Januari Mei 2005 dengan sampel 139 orang yang terdistribusi jenis kelamin lebih banyak pada laki laki (90%), stadium 111 (91,6%), respon pengobatan yang berhasil (91,4%) dan gagal (8,6%) dengan respon komplit (70,5%) lebih besar dibandingkan respon klinis (1,4%) dan imunologis (19,4%) menunjukkan proporsi respon yang tidak mempengaruhi pengobatan ARV selama 6 bulan pada pasien HIV yaitu TBC (55,4%), hepatitis C (88,8%), clan Hb rata rata 9,34 g%. Sedangkan CD4 < 50 (58,54%) mempengaruhi respon ARV.

Upaya pencegahan penularan yaitu melalui upaya struktural, upaya biomedik, perubahan perilaku dan positive prevention. Upaya struktural seperti memperbaiki ekonomi, budaya, hukum, kesetaraan gender. Upaya biomedik dengan mengkonsumsi obat ARV secara teratur, kondisi kesehatan membaik, kekebalan tubuh pulih dan jumlah virus HIV dalam tubuh minimal. Pada kondisi seperti ini, banyak penelitian membuktikan risiko penularan HIV menjadi sangat sedikit. Tapi tetap saja selalu memakai kondom sewaktu hubungan seksual dan bila ingin punya anak, bisa memakai teknologi bayi tabung atau buka kondom sewaktu masa subur. Upaya biomedik lain yang sangat berhasil menurunkan penularan HIV adalah sunat (sirkumsisi) dan kondom. Sunat pada laki laki terbukti dapat mencegah efektifitas penularan sebesar 58 76 % dan kondom selalu dipakai teratur dan benar dapat mencegah penularan. Perubahan perilaku dan positive prevention perlu dilakukan agar terhidar dari risiko tertular HIV seperti setia pada pasangan, tidak menggunakan jarum suntik, memakai kondom dan hidup sehat.

Estimasi dari tahun 2002 2008, pengidap HIV/AIDS terus meningkat dari 108.000 menjadi 270.000 orang di Indonesia. Epidemiologi penyebaran tertinggi adalah India (2.400.000), sedangkan Indonesia menempati urutan kelima setelah China (700.000), Thailand (610,000) dan Vietnam (290.000) yang kemudian dilanjutkan dengan Burma (240.000), Pakistan (96.000) dan Iran (86.000). Peningkatan kasus baru HIV di AS melebihi estimasi (40%). Berdasarkan laporan CDC, estimasi jumlah kasus baru pada tahun 2006 adalah 40.000 orang, tapi pada kenyataannya 56.300 orang dengan kategori Blacks (83,7%), Hispanics (29,3%), dan Whites (11,5%). Lebih dari 500.000 orang kulit hitam di AS mengidap HIV pacla tahun 2006 yang menunjukkan 46% sernuanya terinfeksi. Orang kulit hitam prevalence rate nya lebih besar 8 kali dibandingkan orang kulit putih. Dengan incidence rate nya 15 kali lebih tinggi pada perempuan kulit hitam daripada pasangan kulit putih.

Pengobatan ARV secara global pada akhir 2007 menunjukkan Indonesia sebagai negara terendah (17.000) yang melakukan pengobatan ARV dari 9 negara yaitu Argentina, Bostwana, Brazil, Kamboja, Kamerun, Cote d’ivoire, Etiopia, Afrika selatan, dan Indonesia. ARV sangat efektif untuk pencegahan, karena kelompok yang meminum ARV memiliki pasangan yang tidak tertular HIV. Odha dengan viral load (VL) < 1500, sangat sedikit kemungkinan bisa menularkan HIV karena jumlah viral load merupakan faktor prediksi utama penularan HIV. Dengan ARV, prevalensi HIV pasangan turun dari 10,3% menjadi 1,9%. Odha yang minum ARV membantu menurunkan penularan sebesar 80%. ARV mencegah penularan heteroseksual di mana penularan lebih sering dari laki-laki ke perempuan dengan penularan berbanding lurus dengan VL. Pengobatan ARV dalam waktu lama membuat CD4 mengalami kenaikan sehingga memiliki kesamaan fisik dengan populasi umum. Obat ARV jumlahnya terbatas sehingga dari lima macam, pasien hanya boleh menggunakan tiga macam saja karena efek samping obat dan jumlah pasien yang banyak.

Paradigma baru dalam tes HIV berdasarkan rekomendasi bahwa 25% Odha AS tidak waspada akan status HIV nya dan sekitar 40% Odha yang didiagnosis AIDS, ternyata baru diketahui terinfeksi kurang dari 1 tahun. Akhirnya semua pasien (apapun) di AS direkomendasikan untuk melakukan tes HIV rutin. Rekomendasinya ada dua petunjuk yaitu pertama ACP merekomendasikan agar klinisi menerapkan skrining rutin HIV dan menganjurkan kepada pasien untuk dites darahnya. Rekomendasi kedua yaitu klinisi menekankan perlunya tes HIV ulangan secara individual. Oleh sebab itu pengidap HIV/ AIDS harus memulai ARV lebih dini. Namun pengobatan ARV memiliki kendala yaitu perbedaan pengobatan di dalam negeri dan luar negeri, misal stock obat yang hampir habis seperti Duviral dan Staviral di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Dapat disimpulkan bahwa upaya pencegahan penularan HIV dapat dilakukan dengan mengubah perilaku berisiko, melakukan upaya struktural dalam bidang ekonomi, budaya, pendidikan, hukum, dan adanya kesetaraan gender, dan upaya biomedik melalui obat anti retroviral, program PMTCT, sunat (sirkumsisi), pemakaian kondom, dan pengobatan penyakit menular seksual.

Disampaikan pada acara Simposium, “Peran Tenaga Kesehatan dalam Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, 8 Mei 2009.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s