Peran Keluarga dalam sosialisasi HIV

Berbagai usaha untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran penyakit telah cukup banyak dilakukan, khususnya yang dilakukan dalam lingkup masyarakat. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Gutumo & Udiati, ditemukan bahwa 76,25% dari 400 orang responden menyatakan telah mengetahui atau memiliki pengetahuan tentang AIDS, baik diperoleh dengan cara mengikuti penyuluhan, membaca koran, mendengarkan siaran TV atau radio, maupun cara lainnya.

Hal ini juga menunjukkan bahwa kelompok masyarakat tersebut cukup aktif dalam usaha mengetahui lebih banyak dan menghindari bahaya HIV/AIDS. Peningkatan peran serta masyarakat dalam menghindari dan memerangi HIV/AIDS merupakan suatu bagian yang cukup penting, namun bukan merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan.
Salah satu kelompok non-resiko tinggi yang perlu mendapat perhatian sekaligus dapat dijadikan benteng pencegahan penyakit HIV/AIDS adalah lembaga keluarga. Sebab, jika suatu keluarga mempunyai pengetahuan yang memadai tentang penyakit HIV/AIDS, bukan saja hal ini dapat berpengaruh pada upaya keluarga tersebut untuk berperilaku seks secara sehat dan aman (dalam Dwiyanti, 2000; 22).

Keluarga telah lama diketahui sebagai sumber utama pola perilaku sehat. Banyak studi yang telah menguji peran keluarga dalam berbagai perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, seperti aktivitas fisik, pola-pola nutrisi, dan penggunaan substansi, dimana masing-masing perilaku tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan perkembangan dan pemeliharaan penyakit kronis.

Peran keluarga dalam perilaku sehat dapat dijelaskan dalam dua perspektif, yaitu perspektif sistem keluarga yang dikemukakan oleh Minuchin dan perspektif perkembangan keluarga yang dikemukakan oleh Aldous (dalam Lees, 2004; 209). Dalam teori sistem keluarga, perilaku sehat diperoleh dengan membentuk suatu sistem sosial dimana masing-masing anggota keluarga membentuk suatu ikatan bersama, mencapai suatu tujuan (keadaan tubuh yang sehat), dan mengelola keseimbangan (mempertahankan kondisi yang sehat). Dalam teori perkembangan keluarga, perilaku sehat diperoleh melalui suatu tahapan tugas-tugas kehidupan di dalam suatu keluarga.

Suatu penelitian yang dilakukan oleh Brackis-Cott, Mellins, dan Block (2003) menemukan bahwa anak remaja awal yang memiliki Ibu yang negatif HIV cenderung lebih menaruh perhatian pada aktivitas seksual, kehamilan, keamanan & kekerasan, serta obat-obatan. Sementara pada anak remaja yang memiliki Ibu yang positif HIV cenderung lebih perhatian pada sakit dan kematian ibunya, tanggung jawab orang dewasa, pengucilan dan stigma masyarakat, serta ketidakjelasan masa depan mereka.

Hasil penelitian ini dapat memberikan suatu gambaran kepada kita mengenai manfaat peran anggota keluarga dalam usaha memahami dan menghindari perilaku yang beresiko terkena HIV/AIDS. Pada anak remaja dengan ibu yang negatif HIV terjadi komunikasi mengenai beberapa hal yang diketahui sebagai media penyebaran virus HIV, yaitu aktivitas seksual dan penggunaan obat-obatan yang tidak aman.
Di sisi lain, pada anak remaja yang memiliki ibu positif HIV, cenderung tertarik pada hal-hal terkait beban sosial yang akan dipikul mereka kelak, khususnya yang berkenaan dengan kondisi ibunya, seperti sakit & stigma sosial yang dialaminya. Perbedaan hasil ini salah satunya disebabkan oleh perbedaan situasi dan kondisi yang dialami oleh kedua bentuk keluarga tersebut.

Namun, yang dapat kita ambil dari penelitian ini adalah, baik dalam keluarga yang memiliki anggota yang positif HIV maupun negatif HIV, keduanya dapat memunculkan peran penting dalam usaha memberikan anak suatu kerangka berpikir dan pemahaman mengenai HIV/AIDS. Pemahaman tersebut dapat berupa hal-hal yang menjadi media penularan HIV/AIDS serta akibat-akibat sosial yang dapat dialami oleh seorang penderita HIV/AIDS.

Penelitian terkait juga dilakukan oleh Sigelman dan rekannya (dalam Tinsley, Lees, dan Sumartojo, 2004; 211) yang meneliti peran orang tua dalam sosialisasi pengetahuan dan sikap terhadap HIV pada anak yang berada di kelas 3, 5, dan 7 (8-14 tahun). Hasil yang diperoleh antara lain ditemukan adanya pemahaman yang tepat mengenai perilaku beresiko dan transmisi HIV seiring dengan bertambahnya usia. Hasil lainnya adalah hubungan yang signifikan antara pengetahuan orang tua dan pengetahuan anak mengenai mitos-mitos penularan HIV/AIDS. Penerimaan anak terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) juga berhubungan dengan sikap orang tua terhadap HIV.

Hal penting lainnya yang juga perlu untuk diperhatikan adalah tes HIV/AIDS. Tes HIV adalah gerbang untuk penanganan, perawatan, dan prevensi yang baik (apabila dilakukan dengan benar dan sejak dini). Sebagian besar orang yang hidup dengan HIV mendapatkan tes dan konseling hanya ketika mereka telah mendapatkan penyakit klinis yang parah. Perhatian pada kebutuhan (akan tes HIV sejak dini) dan kenyataan (keterlambatan penanganan) telah menghantarkan pada panggilan yang mendesak akan “tugas yang belum terselesaikan” ini dan memperluas pengetesan di negara berkembang.

Pengetesan HIV yang dilakukan dalam lingkungan perawatan klinis dapat membantu dalam manajemen perawatan pasien (Obermeyer & Osborn, 2007; 1762). Keluarga dapat membantu berkenaan dengan pentingnya pengetesan HIV/AIDS sejak dini dan reguler dengan mengajak anak-anaknya untuk melakukan tes HIV/AIDS sembari diberi penjelasan mengenai apa, bagaimana, dan untuk apa hal tersebut dilakukan.

Jika kita melihat kembali pada penjelasan sebelumnya, akan tampak bahwa kunci dari menghindari bahaya HIV/AIDS adalah informasi atau pengetahuan mengenai HIV/AIDS itu sendiri. Bagaimanapun, upaya untuk membentuk ketahanan keluarga –khususnya dari penyakit HIV/AIDS– harus dimulai dengan pengetahuan tentang penyakit tersebut (dalam Dwiyanti, 2000; 22).

Suatu perilaku yang tepat dapat menghindari bahaya HIV/AIDS harus dimulai dari pengetahuan yang memadai mengenai HIV/AIDS itu sendiri. Di samping untuk mencegah diri dari melakukan berbagai hal yang beresiko menularkan HIV/AIDS, juga membantu kita untuk dapat berperilaku yang tepat kepada penderita HIV/AIDS. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Davis, Sloan, MacMaster, dan Kilbourne (2007) yang meneliti kaitan antara pengetahuan dan aktivitas seksual yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa mengungkap pentingnya kesadaran (pengetahuan) akan HIV/AIDS.
Penelitian tersebut menemukan bahwa niat untuk menggunakan kondom pada mahasiswa yang hendak melakukan one-night stand memiliki kaitan yang kuat dengan kesadaran terhadap HIV/AIDS. Suatu niat untuk menggunakan kondom di masa mendatang juga memiliki korelasi yang signifikan dengan peningkatan efikasi diri untuk menggunakan kondom serta sikap positif terhadap hubungan seks yang aman.

Terkait dengan peran keluarga, orang tua dapat membantu membangkitkan kesadaran anaknya melalui pemberian penjelasan kepada anaknya mengenai berbagai hal yang tepat mengenai HIV/AIDS. Usaha untuk memberikan pengetahuan ini juga dapat memancing orang tua untuk mencari tahu lebih banyak lagi agar mereka dapat memberikan informasi yang memadai dan tepat kepada anaknya.

Pemberian informasi atau pengetahuan mengenai HIV/AIDS sejak dini pada anak dan dilakukan dalam lingkungan keluarga akan dapat membantu dalam mencegah anak melakukan berbagai tindakan yang memunculkan resiko terkena HIV. Pengenalan sejak dini dalam lingkungan keluarga akan lebih mudah untuk dilakukan oleh karena orang tua masih merupakan figur otoritas bagi anak. Pemberian informasi sejak dini ini, selain agar anak dapat menghindari bahaya HIV/AIDS dan mengembangkan pola hidup yang sehat di dalam keluarga, juga diharapkan agar anak kelak dapat memunculkan perilaku yang tepat terhadap penderita HIV/AIDS.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s