Terapi Obat Antiretroviral ARV Perpanjang Harapan Hidup Penderita HIV/AIDS

Pokdisus AidsHIV kini bukan akhir segalanya. Dengan kemajuan diagnosis dan terapi antiretroviral sejak dini, orang yang terinfeksi HIV memiliki harapan hidup lebih panjang dan bisa menjalani hidup yang produktif. Bahkan, konsumsi obat-obatan itu mampu mencegah penularan virus ganas tersebut dari ibu ke bayinya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, sekitar 33 juta orang kini hidup dengan HIV dan lebih dari 30 juta di antaranya tinggal di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah. Dari total jumlah itu, diperkirakan sedikitnya 9,7 juta orang butuh obat-obatan antiretroviral (ARV). Pada akhir tahun 2008 sekitar 4 juta orang di negara berkembang menerima ARV. Sekitar 285.000 anak menerima manfaat dari program ARV pada anak atau meningkat 45 persen daripada tahun sebelumnya.

Meski tidak bisa menyembuhkan, terapi ARV bisa memperpanjang hidup pengidap HIV positif dan membuat mereka hidup lebih produktif. Terapi ini mampu mengurangi jumlah virus HIV dalam darah dan meningkatkan jumlah sel CD4 positif (jumlah limfosit yang melindungi tubuh dari infeksi). Obat-obatan ARV digunakan dalam terapi untuk infeksi HIV. Obat-obatah ini melawan infeksi dengan memperlambat replikasi virus HIV dalam tubuh.

Ini berarti menghambat penyebaran virus dengan mengganggu proses reproduksi virus. Dalam sel yang terinfeksi, virus memperbanyak diri sehingga bisa menginfeksi sel-sel lain yang masih sehat. Prof Samsuridjal Djauzi, Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia, yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengatakan bahwa makin banyak sel terinfeksi, kekebalan tubuh kian turun.

Untuk mereplikasi diri, HIV butuh enzim reverse transcriptase. Obat-obatan ARV memperlambat kerja enzim itu dan mengacaukan replikasi virus dengan mengikat enzim tersebut untuk menghentikan produksi virus baru. Obat-obatan itu juga menghambat protease-enzim pencernaan pemecah protein dan enzim dalam sel terinfeksi. Sejak tahun 1987, terapi ARV dengan Zidovudine telah dirintis di Indonesia diikuti kombinasi Azidothymidine (AZT) dan Lamivudine. Pada tahun 1996 terapi kombinasi dari tiga atau lebih obat ARV dinilai lebih efektif daripada aspek imunologi, virologi, epidemiologi. Obat-obatan ARV amat terbatas jumlahnya, antara lain Zidovudine, Lamivudine, Nevirapine, dan Efavirenz.

Apabila menggunakan satu obat, dalam beberapa waktu bisa terjadi resistensi virus terhadap obat itu. Akibatnya, obat jadi tak efektif dan terjadi lagi replikasi virus. Penggunaan ARV dalam kombinasi tiga atau lebih obat-obatan menurunkan kematian dan penyakit penyerta terkait AIDS. Terapi kombinasi dari tiga atau lebih obat ARV (highly active anti-retroviral therapy/HAART) biasanya terdiri dari dua obat yang bekerja menghambat enzim reverse transcriptase dan satu obat penghambat protease.

Dalam Kongres Internasional AIDS Asia Pasifik, di Bali, 9-13 Agustus, terungkap, kini terapi ARV diupayakan diberikan lebih dini. Selama ini ARV biasanya diberikan ketika CD4 kurang dari 200. Belakangan WHO merekomendasikan ARV diberikan jika CD4 kurang dari 350. Jika CD4 di bawah 200, risiko terkena infeksi oportunistik tinggi, misalnya, tuberkulosis, jamur, dan diare.

Seseorang dinyatakan AIDS jika CD4 di bawah 200 tanpa gejala atau CD4 di atas 200 dengan infeksi oportunistik. Orang terinfeksi HIV umumnya meninggal karena infeksi oportunistik. Bila ARV diberikan ketika CD4 di bawah 350, infeksi oportunistik bisa dicegah sehingga beban biaya pengobatan dan biaya perawatan di rumah sakit bisa ditekan. Tantangan pengobatan adalah efek samping dan resistensi virus terhadap ARV karena obat-obatan dikonsumsi seumur hidup.

Sejumlah bukti yang dipaparkan dalam situs WHO menunjukkan, program terapi ARV dapat diimplementasikan sebagai satu cara yang menekankan pada pencegahan. Terapi kombinasi ARV untuk menekan jumlah virus yang didukung perubahan perilaku mengurangi penularan HIV. Meski perlu studi lanjutan tentang dampak ARV pada prevalensi HIV di tingkat populasi, terapi ini sebaiknya menjadi bagian dari pencegahan HIV terintegrasi dan komprehensif. Ini bisa meningkatkan efektivitas biaya terapi di negara berkembang.

Ketua Sentra Layanan Informasi Drugs, HIV/AIDS, dan Reproduksi (Sandar) Prof Djubairi Djoerban, mengatakan bahwa ARV efektif untuk pencegahan. Sejumlah studi menyebutkan, kelompok yang minum ARV pasangannya tidak tertular HIV, prevalensi pasangan turun dari 10,3 persen menjadi 1,9 persen. Orang dengan HIV yang minum ARV risiko penularan turun 80 persen. Apabila ibu hamil HIV positif minum ARV, risiko penularan ke bayinya sekitar 2 persen dan jika tidak minum ARV, risikonya mencapai 30 persen. Obat-obatan ARV mencegah penularan HIV pada petugas kesehatan.

Mengingat pentingnya terapi ARV, akses terhadap terapi ini perlu ditingkatkan. Caranya dengan menambah anggaran negara untuk ARV, memproduksi ARV dalam negeri agar pasokan berkesinambungan. Kini ada paradigma baru tes HIV. Selama ini tes HIV dan konseling sukarela sehingga banyak orang baru tahu terinfeksi HIV ketika mengalami infeksi oportunistik. Agar bisa diterapi lebih dini, sejumlah negara mulai menerapkan tes HIV atas inisiatif penyedia layanan kesehatan dengan persetujuan pasien dan kerahasiaan hasil tes terjaga.

Quoted by ; Lebih Dini Mengobati Lebih Baik Hasilnya
Kompas, Kamis 3 September 2009)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s