Akses Universal dan Hak Asasi Manusia dari Sudut Kesehatan Mental

Pokdisus Aids

Oleh: Dr. Kristiana Siste, SpKJ, Departemen Psikiatri  RSCM

“Realization of human rights and fundamental freedoms for all is essential element in the global response to HIV/AIDS pandemic”

Tn. A, berusia 24  tahun, berobat ke Pokdisus RSCM sejak tahun 2009. Saat kontrol terakhir, Tn. A mengeluh rasa bersalah. Rasa bersalahnya timbul karena ia merasa membiarkan tetangganya yang juga mengalami AIDS tidak berobat lagi. Tn. A merasa keadaanya membaik setelah ia berobat secara rutin ke Pokdisus. Tn. A terpaksa membiarkan tetangganya tidak lagi berobat karena ia takut masyarakat akhirnya mengetahui bahwa ia juga mengalami AIDS. Tn. A sengaja menyembunyikan penyakitnya karena ia merasa masyarakat akan mempersulitnya untuk pergi berobat dan  juga beraktivitas di masyarakat, termasuk dalam bekerja. Tn. A berjualan nasi goreng setiap harinya di depan sekolah setempat. Ia menceritakan temannya yang mengalami AIDS mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan saat berobat ke Puskesmas. Tn. A juga takut keluarganya akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat. Tn. A mengalami dilema apakah suatu hal yang benar bila ia memberitahukan bahwa dirinya mengalami AIDS ke masyarakat. Di akhir pertemuan Tn.A bertanya “siapa yang harusnya memperjuangkan hak saya dok bahwa saya juga manusia sama seperti yang lain, yang berhak mendapatkan pengobatan dimanapun dengan layak???

Setiap tanggal 1 Desember, dunia memperingati hari AIDS. Tn. A menaruh harapan besar pertanyaannya bisa terjawab pada hari AIDS sedunia tahun ini.  Pada tahun ini Negara kita kembali berkomitmen untuk meningkatkan akses universal dan hak asasi manusia bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Komitmen tersebut terkait dengan tema global hari AIDS sedunia yang kembali mengangkat tema “Akses universal dan Hak asasi manusia (Universal Acess and Human Right)”.  Pemerintah Indonesia menterjemahkannya dalam subtema  Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua Guna Menekan Laju Epidemi HIV di Indonesia menuju tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs).

Mengapa akses universal dan hak asasi manusia begitu penting?

Sampai saat ini orang yang telah terinfeksi HIV di seluruh dunia mencapai 60 juta orang dan 25 juta di antaranya telah meninggal dunia (UNAIDS, 2009). Kenyataan tersebut menegaskan bahwa kini AIDS telah mencatat sejarah sebagai salah satu epidemi yang paling membahayakan jiwa manusia dimana 7.400 orang terinfeksi HIV tiap harinya.. Di Indonesia, secara kumulatif sejak tahun 1987, kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 21.770 dan 4.128 di antaranya telah meninggal dunia (Kemkes, Juni 2010). Perkembangan epidemi HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di wilayah Asia. Berdasarkan permodelan epidemik, jika pada tahun 2008 di Indonesia jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS tercatat mencapai 277.700 orang, maka jumlah itu akan mencapai dua kali lipatnya pada tahun 2014, yaitu berjumlah 501.400 orang. Pada kenyataannya orang yang hidup dengan HIV/AIDS(ODHA) tidak hanya memiliki masalah dari segi fsik saja namun juga banyak studi  telah memperlihatkan bahwa mereka mengalami peningkatan kerentanan gejala putus asa dan rasa bersalah (Thompson et al.,1997), ansietas dan gangguan penyesuaian (Holmes et al.,1997; Rabkin et al.,1997). Diagnosis tersering pada populasi HIV seropositif adalah gangguan depresi dengan angka prevalensi antara 40%-60% (Dew et al.,1997; Fleishman dan Fogel,1994, Gallego,2000).

Data di RSCM menunjukkan dari 100 ODHA terdapat 68% dengan gangguan depresi, 41% dengan gangguan cemas menyeluruh, 7% dengan gangguan panik dan 6 % dengan gangguan psikotik (Wibowo A, 2004). Adanya gangguan psi kiatri pada penderita HIV/AIDS secara umum berkaitan dengan fungsi dan kualitas hidup yang lebih buruk (Vosvick et al.2003).  Isu yang penting yang terkait dengan ODHA adalah diskriminasi dan stigmatisasi secara sosial. diskriminasi dan stigmatisasi ini membuat mereka kehilangan pekerjaan, rumah dan status sosial. Terlebih lagi mereka kehilangan akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Saat ini hampir setengah ODHA adalah perempuan, sedangkan diskriminasi gender masih nyata dirasakan. Ibu rumah tangga merupakansalah satu populasi berisiko untuk mengalami HIV, namun dari segi prioritas kesehatan, perempuan bukanlah yang diutamakan. ODHA yang mengalami masalah psikologis merasakan stigmatisasi dua kali lebih besar. Hal ini menyebabkan mereka enggan untuk mengungkapkan masalah psikologis yang mereka alami. Masalah psikologis yang dibiarkan akan secara nyata mempengaruhi kepatuhan berobat mereka dalam mengkonsumsi antiretroviral (ARV). 95% resistensi ARV disebabkan karena kepatuhan berobat yang buruk.

Masalah psikologis yang dialami oleh ODHA juga sering tidak terdeteksi oleh  petugas kesehatan. Isu yang berkembang ini dapat diminimalisasi dengan adanya suatu sistem yang terpadu dimana ODHA dapat mengaksesnya dengan lebih mudah. Sistem layanan terpadu ini mengikutsertakan semua disiplin ilmu yang terkait dalam layanan ODHA baik secara fsik dan psikis. Layanan terpadu ini juga dapat mengurangi rasa terstigma pada ODHA saat mereka harus mengatakan adanya masalah psikologis pada diri mereka. Sejak pertama kali mereka mengakses layanan, mereka dilayani oleh tim terpadu yang mengevaluasi secara fsik dan psikologis. Bentuk layanan terpadu dengan model seperti ini yang sedang dirintis oleh Pokdisus RSCM.

Minimalisasi diskriminasi dan stigmatisasi sosial dapat dicapai melalui komitmen kita untuk meningkatkan akses universal yang merupakan komitmen global dengan memberikan kemudahan akses dalam pencegahan, pelayanan dan dukungan pada orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s