Infeksi HIV pada Anak

Pokdisus Aids

Oleh: dr. Nia Kurniati, SpA(K)

Menjelang hari AIDS dunia yang jatuh pada 1 Desember setiap tahunnya, selalu terjadi gempita pembicaraan mengenai HIV dan AIDS. Meskipun untuk yang mengelola pelayanan atau pasiennya hari AIDS ini belum tentu memiliki makna, ada baiknya kita memotret situasi infeksi HIV pada anak.

Anak-anak yang berumur < 13 tahun umumnya tertular HIV dari ibunya, baik saat dalam kandungan, proses persalinan dan kondisi seputar kehidupan tahun pertama. Berbeda dengan orang dewasa, virus HIV menyerang ketika sistim pertahanan atau imunitas bayi belum siap menerima serangan infeksi yang berat. Akibatnya kita dapat melihat gejala klinis yang jauh lebih buruk pada usia sangat muda, bahkan sebelum mencapai umur enam bulan. Meskipun terdapat layanan pencegahan yang dinamakan Program Pencegahan Transmisi dari Ibu ke Anak (dalam bahasa Inggris PMTCT) dan sudah terbukti mencegah nfeksi HIV pada anak, jumlah anak yang tertular per tahunnya di seluruh dunia masih tinggi. Menurut laporan UNAIDS (23 November 2010), sepanjang tahun 2009 diperkirakan sebanyak 370.000 anak-anak yang baru terinfeksi. Meskipun dikatakan menurun 24% dari lima tahun sebelumnya, tetap saja angka ini masih terlalu besar.

Hak Layanan Setara
Sesuai dengan tujuan Millenium Development Goal ke6, satu dasawarsa terakhir upaya layanan kesehatan untuk penderita HIV memberi harapan ke arah penguasaan epidemi. Berbagai program diluncurkan secara global seperti ‘3 by 5’ yang membuka akses untuk pengobatan antiretroviral (ARV). Indonesia tidak ketinggalan dalam upaya global ini karena sejak tahun 2000 jumlah penderita meningkat pesat, seiring dengan meningkatnya masalah penyalahgunaan obat narkoba suntik.
Populasi pengguna narkoba yang berada pada rentang usia reproduk tif aktif ini kemudian berkembang ke populasi lain yang sebelumnya dianggap tidak berisiko atau risiko rendah seperti pasangan dari pengguna narkoba ini dan anaknya. Khusus dalam penanganan kasus anak yang terinfeksi HIV, rediagnosis dan obat merupakan masalah sangat besar. Layanan diagnosis berbasis materi virus (PCR) baru dapat diakses oleh mereka yang mampu membayar. Obat yang dapat digunakan untuk anak terbatas baik jenis maupun sediaannya; hingga saat ini orangtua/pelaku rawat anak selalu harus berupaya sangat keras agar obat ARV berhasil diminum. Sebelum tahun 2008 ARV yang digunakan adalah sediaan obat dewasa yang dihancurkan menjadi puyer agar dapat diberikan pada anak-anak. Kesulitannya adalah pada bayi, kekuatan farmakologis obatnya tidak dapat lagi dipertanggungjawabkan mengingat dosis per bungkus puyernya dapat tidak sama.

Sejak tahun 2008 sudah terdapat satu sediaan yang mudah larut air sehingga pemberian untuk bayi menjadi lebih mudah dan memenuhi syarat terapetik. Pada anak yang sudah lebih besar (usia 6 – 7 tahun), pemberian obat tetap tidak menjadi lebih mudah. Selain sudah mengenal rasa (obat ARV rata-rata sangat pahit), juga ukuran pil yang besar menyebabkan kegagalan pemberian obat karena beberapa sediaan obat memang harus ditelan bulat-bulat dan tidak bleh dipuyerkan agar tetap efektif.

Masalah juga didapatkan pada pemberian obat untuk bayi baru lahir, bila kita berhadapan dengan bayi prematur, pemberian obat ARV proflaksis sebenarnya tidak ideal dan dapat membahayakan program. Oleh karena itu, dapat disimpulkan secara kasar bahwa pasien HIV bayi dan anak belum mendapat perhatian dari pengelola negara, karena dianggap tidak prioritas. Tetapi bila kita berada dalam semangat yang sama untuk menyukseskan MDG 5 dan 6, sebenarnya penyediaan obat ARV yang sesuai untuk anak adalah keharusan.

Hak Hidup dan Kembang Dibandingkan di negara lain, sebagian besar anak-anak tertular HIV di Indonesia masih diasuh keluarga dekat. Tetapi sebagian kecil sudah mulai dibuang dari keluarga. Pada beberapa kasus, selama orangtua kandung masih hidup, anak-anak ini masih dibawa berobat. Tetapi setelah orangtua kandung meninggal, belum tentu keluarga besar mau meneruskan tanggung jawab membesarkan anak. Akibatnya ada yang ditelantarkan, dititipkan pada orangtua angkat, dalam proses akan dibuang, atau disembunyikan di daerah lain karena sekarang terlihat sehat. Dalam kondisi normal, anak penderita HIV harus meminum obat sehari dua kali pada waktu yang sama dengan dosis yang benar. Hilangnya kontak dengan anak-anak pengidap HIV ini mengkhawatirkan, karena besar kemungkinan putus berobat. Secara langsung berarti akan meningkatkan angka kematian dan rendahnya angka retensi dalam program pengobatan. Secara tidak langsung adalah timbulnya resistensi sehingga ketika harus mendapatkan pengobatan kembali, obat lini kedua yang lebih tepat. Karena obat lini kedua lebih mahal, maka dana penyediaan obat menjadi meningkat.

Struktur masyarakat sekarang mungkin belum terbuka menerima anak-anak HIV, tetapi keterlibatan masyarakat yang mau mendukung keluarga yang terkena dampak HIV tentu sangat besar artinya. Apalagi bila angka bertahan hidup anak-anak ini menjadi bertambah baik, sebenarnya mereka layak untuk tetap hidup dan berkembang normal seperti yang tidak terinfeksi HIV. Jika struktur keluarga tidak lagi menopang kehidupan anak-anak ini, harus dicarikan penunjang sosial yang dapat menampung, dan tentu saja ini di luar jangkauan rumah-sakit.

HALLO CIPTO – Desember 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s