Seputar TB-HIV

Pokdisus AidsOleh: Dr. Anna Uyainah ZN, SpPD, K-P, MARS , Divisi Pulmonologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI-RSCM

Saat ini jumlah penderita HIV sangat meningkat. Indonesia merupakan negara yang mempunyai peningkatan jumlah pasien HIV cukup tinggi. Disamping itu Indonesia merupakan negara endemis dalam penyakit Tuberkulosis. Mudahnya penularan TB pada pasien HIV menyebabkan pasien TB-HIV di Indonesia semakin meningkat. Demikian juga di RSCM jumlah pasien TB-HIV semakin meningkat. Diketahui bahwa Tuberkulosis merupakan infeksi oportunistik terbanyak pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) , dan Tuberkulosis merupakan penyebab kematian tertinggi.

Dalam upaya menurunkan TB pada pasien HIV dan infeksi HIV pada pasien TB perlu dilakukan penanganan dan pencegahan secara bersama, berkolaborasi dengan pihak terkait. Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2010 ini mempunyai tema “Akses Universal dan Hak Asasi Manusia” , sub tema “Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua Guna Menekan Laju Epidemi HIV di Indonesia”, dan slogan “ STOP AIDS: Tingkatkan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua”.

Dalam penatalaksanaan TB HIV sejak penemuan dini atau diagnosis sampai pengobatan , sarat dengan pendidikan baik bagi dokter, petugas kesehatan lainnya, pasien, keluarga dan masyarakat. Untuk penemuan dini TB pada orang dengan HIV-AIDS (ODHA) lebih sulit dibandingkan penemuan dini pasien TB pada umumnya. Pada ODHA, kecurigaan adanya TB lebih sering ditemukan adanya demam yang lama dan penurunan berat badan yang drastis. Sedangkan batuk lama bukan merupakan gejala yang umum. Pada pemeriksaan foto toraks juga berbeda dengan pasien TB umumnya. Pada ODHA gambaran foto toraks tidak spesifk, tergantung beratnya infeksi HIV. Pada ODHA yang mempunyai nilai CD4 lebih dari 350 gambaran foto toraks mungkin sama dengan gambaran TB pada umumnya yaitu terdapatnya infltrat pada lapangan atas paru, sedangkan pada infeksi HIV yang lebih berat dimana CD4 kurang dari 350 gambaran foto toraks tidak spesifk, dimana gambaran infltrat bukan dilapangan atas paru tetapi dapat dibagian tengah atau basal paru. Untuk pemeriksaan BTA pada sputum, pada TB HIV lebih sering tidak ditemukan BTA dalam sputum atau BTA negatif. Semakin lanjut infeksi HIV semakin dominan BTA negatif.

Untuk penemuan HIV pada penderita TB, saat ini lebih berpeluang, karena petugas kesehatan direkomendasi untuk memotivasi pasien yang mempunyai gejala terinfeksi HIV (PITC = Provider-Initiated Testing and Counseling), tidak lagi menunggu permintaan pasien dengan sukarela (VCT = Voluntary Counseling and Testing). Sesuai Penanganan TB dengan Standar International (ISTC = International Standard for TB Care) test HIV pada pasien TB harus segera dilakukan apabila pasien mempunyai gejala terinfeksi HIV, pasien tinggal didaerah yang mempunyai prevalensi HIV tinggi dan pasien yang mempunyai risiko tinggi terinfeksi HIV karena pekerjaannya dan karena hal lainnya.

Untuk mendiagnosis TB pada ODHA atau mendiagnosis HIV pada pasien TB perlu ditingkatkan pengetahuan para petugas kesehatan baik dokter yang menangani pasien langsung, dokter yang melakukan pemeriksaan penunjang dan petugas kesehatan terkait lainnya. Disamping itu pendidikan juga perlu diberikan kepada pasien dan keluarganya serta masyarakat agar penemuan kasus lebih cepat dan pengobatan dapat diberikan segera sehingga dapat menurunkan mortalitas. Pengobatan pada pasien TB-HIV pada prinsipnya sama dengan pasien TB umumnya. Untuk kasus TB yang belum pernah mendapat OAT diberikan OAT kategori 1 dan untuk kasus TB yang sudah pernah mendapat OAT, kasus kambuh, kasus gagal terapi dan kasus putus obat diberikan OAT kategori 2. Untuk kategori 1 diberikan 2RHZE/4RH dan kategori 2 diberikan 2RHZES/1RHZE/5RHE. Namun pada pasien TB-HIV sering ditemukan reaksi obat baik OAT maupun ARV. Reaksi obat tersebut dapat berupa alergi, efek samping dan interaksi OAT dan ARV.

Apabila reaksi obat terjadi, maka pengobatan dapat dihentikan dulu atau dilakukan penurunan dosis dan disesuaikan setelah kondisi membaik. Sehubungan dengan reaksi obat tersebut seringkali pasien dengan TB-HIV mempunyai waktu pengobatan lebih panjang atau pasien berhenti berobat sebelum selesai waktunya. Perlu diperhatikan bahwa TB pada ODHA perlu dimasukkan dalam kecurigaan MDR-TB ( Multi Drug resistant), karena infeksi HIV merupakan salah satu faktor risiko MDR-TB. Saat ini MDR-TB sudah merupakan ancaman di dunia dan juga di Indonesia. Diharapkan semua petugas kesehatan secara bersama-sama mengupayakan mencegah meningkatnya MDR-TB.

Dalam pengobatan TB-HIV ini memerlukan pengetahuan yang lebih dibanding pengobatan TB tanpa infeksi HIV. Untuk itu diperlukan peningkatan pengetahuan bagi dokter yang menangani pasien serta petugas kesehatan terkait. Sebaiknya pengetahuan tersebut juga diketahui oleh pasien TB-HIV, dan keluarganya serta masyarakat. Semoga melalui Hari AIDS Sedunia tahun 2010 ini, Indonesia dapat meningkatkan akses pendidikan TB-HIV untuk semua baik dokter, petugas kesehatan lainnya dan masyarakat, sehingga dapat menekan Laju Epidemi HIV di Indonesia.

HALO CIPTO DESEMBER 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s