AIDS OH AIDS

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan salah satu penyebab kematian terpenting. Menurut data Ditjen PPM dan PL Depkes RI, dalam triwulan pertama, Januari hingga Maret 2011, dilaporkan tambahan kasus AIDS mencapai 351. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan di DKI Jakarta sebanyak 3. 995 dan kasus HIV sebesar 15.769. Secara kumulatif kasus pengidap HIV/AIDS dari 1 Januari 1987 hingga Maret 2011 mencapai 24.482 kasus dengan angka kematian 4. 603 jiwa.

Sementara berdasarkan jumlah kumulatif kasus AIDS menurut jenis kelamin, yaitu laki-laki 17.840, akibat pengguna narkoba suntik (IDU) 8.553, perempuan 6.553, akibat IDU 665 dan tidak diketahui 89, akibat IDU 52. Sedangkan jumlah kumulatif kasus AIDS menurut faktor risiko, yaitu akibat heteroseksual 13.000, homobiseksual 734, IDU 9.274, transfusi darah 49, transmisi perinatal 637 dan tidak diketahui 783.

Melihat data diatas, maka dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia, seluruh komponen bangsa perlu bahu membahu mengatasinya. Berikut wawacara Halo Cipto dengan Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM ( Kepala Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM )

HC: Bagaimana kondisi penderita dan penyebaran AIDS di Indonesia saat ini?
P: Sangat memprihatinkan, jumlahnya meningkat terus,bukan karena ada ledakan jumlah namun lebih pada estimasi dari banyak penelitian. Penelitian memperkirakan 300-500 ribu yang terinfeksi HIV, namun yang dilaporkan baru sekitar 90 ribu.

HC: Jelaskan alasan mengapa tema hari AIDS Getting to Zero?
P: Saat ini dibeberapa penelitian telah dapat dibuktikan bahwa kita bisa menghentikan penularan HIV, kita bisa mencegah pasien AIDS meninggal dan kita bisa menghilangkan deskriminasi (zero new AIDS infection, kedua zero aids related dead dan ketiga adalah zero discrimination).

HC: Kita ingin menuju zero namun kondisi masih memprihatinkan, Lalu bagaimana prof melihat kondisi ini?
P: Ya, Pekerjaan rumah kita masih banyak. Yang sudah dikerjakan sudah lumayan, namun belum cukup masih harus aktif. Sebagai contoh, Afrika. Rencananya hingga akhir tahun 2011, Afrika melakukan tes sebanyak 15 juta penduduk. Per hari ini sudah sebanyak 13 juta dari penduduknya yang 50 juta yang menjalani tes. Jadi kira-kira targetnya 1/3. Berbeda di Indonesia, jika target 1/3 dari penduduk, maka sekitar 80 juta. Sedangkan saat ini masih sangat sedikit sekali. Belum ada satu juta orang yang tes HIV.

HC: Lalu menurut prof, apa yang menjadi kendalanya?
P: Kita belum cukup mengerjakan surveillance. Kita belum cukup mengerjakan test HIV pada sebagian besar penduduk. Kita terlalu pasif menunggu. Dulu kita menggunakan teorinya Voluntary Counseling Test (VCT) ada konseling dan testing. Dan itu sudah lama sekali ditinggalkan. Indonesia masih belum begitu jelas meninggalkan atau tidak. Akhirnya, VCT masih ditekankan, sekarang Provider Initiatied Counseling & Testing (PICT). Provider (dokter tenaga kesehatan) menganjurkan untuk dapat meminta pasien-pasien untuk tes HIV.

HC: Bagaimana dengan pengobatan AIDS di Indonesia?
P: Pengobatan di Indonesia saat ini hasilnya sangat bagus menekan angka kematian (mortalitas) sangat drastis. Indonesia sudah mengikuti namun masalahnya yang terdiagnosis belum 100 ribu, yang diobati belum ada 30 ribu.

HC: Lalu bagaimana usaha pencegahan AIDS?
P: Usaha sudah namun belum cukup, masih kurang banyak. Yang ada belum menyelesaiakan masalah. Menurut saya pencegahannya, harus ada edukasi yang benar, upaya struktural, dan yang ketiga masalah gender. Saat ini yang terpenting adalah upaya biomedik. Treatment is prevention, bahkan treatment is the best prevention yang kemudian mencegah penularan pada bayi. Kita melakukan tes pada ibu hamil, agar mencegah penularan HIV dari ibu ke bayinya.
(Wawancara & berbagai sumber)

Sumber : Halo Cipto (Des 2011)

Advertisements

Meningkatkan Tes HIV dan Terapi ART di Indonesia

Pengobatan dengan ART amat bermanfaat

Sewaktu epidemi HIV/AIDS memasuki dekade ke empat, babak baru strategi penanggulangan yang komprehensif pun dimulai. Strategi baru sekarang ini cukup menjanjikan, memberikan banyak harapan untuk meningkatkan hasil pengobatan, kualitas layanan dan dukungan dan sekaligus bermanfaat maksimal dalam pencegahan penularan HIV. Strategi baru ini dinamakan “Test and Treat”.

Sekilas sejarah perjalanan panjang pengobatan HIV/AIDS

Sekilas sejarah perjalanan panjang pengobatan HIV/AIDS dimulai sejak 1981 sewaktu pertama kali kasus AIDS dilaporkan. Bahasan ini penting, karena perkembangan dalam pengobatan mempengaruhi bentuk kebijakan yang diambil, misalnya mengenai kebijakan VCT (Voluntary Counseling and Testing).

Sesuai dengan perkembangan kemajuan pengobatan, kemudian kebijakan tersebut diganti dengan PITC, kemudian lagi diganti dengan “Test and Treat”. Pada awal epidemi AIDS, pengobatan ditujukan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi oportunistik dan kanker yang menyertai penyakit AIDS. Selain itu, pengobatan dukungan untuk membantu Odha menanggulangi berbagai masalah psikologis dan sosial juga menjadi pilar utama pengobatan.

Pengobatan pneumonia P carinii dengan kotrimoksasol atau pentamidin menjadi penting sekali. Berikutnya adalah pengobatan untuk mengatasi infeksi jamur dengan ketokonasol, flukonasol sampai itrakonasol, juga pengobatan sarkoma kaposi dengan khemoterapi. Odha (orang dengan HIV/AIDS) hanya bisa bertahan 6 bulan sampai 2 tahun, untuk kemudian meninggal.

Era berikutnya adalah era obat anti retroviral (ART), yang dimulai dengan pengobatan memanfaatkan zidovudin sebagai obat tunggal, beberapa tahun kemudian ditemukan lamivudin, dan terbukti kombinasi zidovudin dan lamivudin memberikan hasil yang lebih baik daripada obat tunggal. Di awal era ART, hanya Odha yang sudah dalam tahap lanjut, tahap AIDS yang boleh diberikan pengobatan.

Kemudian semakin disadari mengobati dengan ARV sebelum gejala AIDS muncul hasilnya lebih baik, yaitu sewaktu jumlah CD mulai kurang dari 200 sel/mm3. Manfaat pengobatan kombinasi 3 obat ARV/ART /HAART (Anti Retro Viral Therapy/Highly Active Anti Retro viral Therapy) semakin jelas menekan angka kematian dan angka kesakitan.

Sekarang ini banyak sekali Odha di Indonesia yang tetap sehat dan produktif setelah mengkonsumsi ARV selama lebih dari 10 tahun, bahkan ada yang telah minum ARV selama lebih dari 18 tahun. RS. Cipto Mangunkusumo awal bulan Juni 2011 telah mengobati ARV pada 5.414 orang dengan HIV/AIDS. Setiap hari yang berobat lebih dari 100 orang, bayi dan anak yang mengakses ARV lebih dari 220 setiap bulan.
Botswana 2004, mengobati ARV menekan angka kematian, menekan penularan ke bayi. Tes HIV rutin.

Bagaimana dengan Afrika, yang mempunyai kasus HIV terbanyak di dunia? Pada tahun 2004, Sheila Tlou menteri kesehatan Botswana gundah gulana. Setiap hari, selalu saja ada rakyatnya yang meninggal. Ini bukan kisah khayal seorang raja di negara antah berantah, yang diserang pageblug (wabah) ribuan tahun yang lalu. Peristiwa ini benar-benar terjadi, baru 7 tahun yang lalu. Harapan hidup rakyat Sheila turun drastis, bahkan yang perempuan tidak mencapai 50 tahun. Beberapa orang yang meninggal sempat tes darah HIV, ternyata penyebab kematian rakyatnya adalah AIDS. Bagaimana mungkin. Laporan di mejanya selalu menyebutkan jumlah Odha (orang dengan HIV/AIDS) di negaranya, Botswana, hanya 5.000 orang.

Botswana adalah sebuah negara dengan penduduk 1,815,508 orang. Terletak di sebelah utara Afrika Selatan. Sebagian besar rakyatnya pemeluk agama Kristen (71.6%). Negara bekas protektorat Inggris ini merdeka tahun 1966. Merupakan salah satu Negara penghasil intan berlian dengan Gross Domestic Product 10.900 dolar per kapita per tahun, dua kali lebih besar dari GDP negara kita tercinta.
Sheila Tlou tidak mau berpeluk tangan. Obat AIDS (ARV) tersedia gratis di negaranya, Odha yang minum ARV terlihat sehat, bekerja normal bahkan produktif, lah kok banyak sekali yang meninggal. “Something must be wrong, very wrong”. Akhirnya ia sadar, ada jurang lebar antara estimasi, prakiraan jumlah Odha di negerinya 350.000, bandingkan dengan jumlah Odha yang dilaporkan hanya 5.000 orang.
Begitu banyak yang meninggal karena AIDS rasanya tidak masuk akal dengan tersedianya stok ARV di gudang obat Botswana. Banyak negara maju sedang euphoria, karena Odha tertolong, tidak meninggal karena minum ARV. Penjelasan satu-satunya rakyat Botswana meninggal sebelum sempat mengkonsumsi obat ARV, dan memang benar demikian.

Logika sehatnya berjalan baik. Kebijakan VCT (voluntary counseling and testing), tes HIV yang dijalankan dinegerinya ia nyatakan gagal. Semua rakyatnya, tanpa kecuali harus tes HIV, siapa yang positif, Bu Menteri Kesehatan menyediakan layanan kesehatan yang komprehensif, termasuk obat ARV dan obat tbc (tuberculosis) gratis. Nah, mungkin itu yang disebut sebagai pemimpin yang mempunyai leadership.
Itu kejadian 8 tahun yang lalu. Sekarang bagaimana hasilnya? Ternyata angka kematian turun drastis. Penularan dari ibu HIV ke bayinya menurun amat meyakinkan. Sekarang ini seluruh pimpinan negara Botswana masih bekerja keras untuk mengatasi ledakan jumlah pasien yang berobat ARV. Dari 5.000 menjadi lebih dari 100.000 orang yang saat ini mendapat pengobatan ART. Jadi, benar sekali bahwa kematian yang begitu banyak terjadi sebelum tahun 2004, ternyata “preventable death”, kematian yang dapat dicegah.

Badan Kesehatan Dunia WHO: mulai ARV ketika CD4 mulai turun dari 350

Standar memulai pengobatan ARV yaitu memulai ketika CD4 kurang dari 200 sel/mm3, telah diganti oleh WHO sejak setahun terakhir ini menjadi memulai ARV lebih dini, ketika CD4 < 350. Rekomendasi WHO yang baru ini terbukti mampu mengurangi angka kematian 75%, mampu menekan angka kejadian tbc pada Odha sebesar 50%. Penelitian dikerjakan pada 816 Odha di Haiti pada tahun 2005 sampai tahun 2008. Hasilnya dipublikasikan di majalah kedokteran internasional New England Journal of Medicine tahun 2010;363:257-265.

Di penelitian tersebut, Odha dibagi 2 kelompok, yaitu kelompok pengobatan dini dan kelompok pengobatan standar, yaitu memulai ARV ketika CD4 sudah kurang dari 200. Adapun kelompok pengobatan dini, memulai pengobatan ARV ketika CD4 antara 200 -350, tanpa riwayat gejala AIDS, sewaktu Odha masih sehat, berat badannya belum turun, tanpa sariawan maupun diare, tanpa panas batuk, tanpa gejala. Obat ARV yang diberikan adalah Duviral dan Efavirenz. Hasil penelitian adalah mengobat ARV ketika CD masih 200-350 berhasil mengurangi angka kematian 75%.

Negara maju mulai ARV ketika CD4 kurang dari 500

Pengobatan ARV amat dini, CD4 100,000 kopi/mL. Untuk Odha dengan CD4 lebih dari 500, panel ahli di Amerika terbagi dua, 50% berpendapat perlu mulai saja ARV, sedangkan 50% para ahli yang lain berpendapat opsional, boleh mulai ARV, boleh ditunda. (http://aidsinfo.nih.gov/contentfiles/AdultandAdolescentGL.pdf.)

Update HIV/AIDS

Oleh ; Prof.dr.Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM
Manager Unit Pelayanan Terpadu HIV/AIDS RSCM

Unit pelayanan terpadu (UPT) HIV RSCM yang dahulu dikenal dengan Pokdisus AIDS, merupakan salah satu unit tersibuk di RSCM. Unit yang menempati Gedung Poliklinik Unit Rawat Jalan Terpadu di Lantai 4, setiap hari didatangi sekitar 120 orang dengan HIV/AIDS (odha) untuk pemeriksaan dan pengambilan obat anti retroviral (ARV).

Setiap bulan UPT HIV RSCM melayani pengobatan 1.500 odha laki-laki, 500 odha perempuan dan 210 bayi, serta anak dengan HIV. Hingga Juni 2011, terdapat 5.414 odha yang pernah berobat di UPT HIV. Minggu ketiga Desember 2011, puluhan odha mendapat kado, sebagai apresiasi UPT HIV kepada odha yang telah berobat teratur cukup lama )lebih dari 7 tahun) di UPT HIV.

Selain itu, terdapat sejumlah odha yang mulai mengkonsumsi ARV sebelum tahun 2004. Uni tini selama beberapa tahun menjadi pusat pendistribusian ARV ke seluruh Indonesia (dengan harga Rp. 380.000 hingga Rp. 1.050.00) setiap bulannya. ARV dibeli dari India dan Thailand. Waktu itu, selain ARV, Pokdisus – yang dimotori Prof.Dr. dr. Samsuridjal Djauzi SpPD, KAI dan Sdr. Kurniawan Rachmadi, SKM – juga menyediakan flukonazol 150 mg yang dibeli di Thailand dan dijual seharga 3000 per/kapsul. Sementara apotek menjual obat paten paling murah Rp. 75.000. artinya, harga obat generik memang bisa jauh lebih murah dari harga paten.

Alhamdulillah, sejak tujuh tahun terakhir ini, pemerintah telah mengambil alih penyediaan obat ARV (lini pertama maupun ARV lini kedua) dan mendistribusikannya secara subsidi penuh alias gratis. Ke seluruh profinsi di Indonesia, dari sabang sampai merauke.
Pengalaman UPT HIV yang seabreg itu, diakui oleh banyak instansi pemerintah, tak terkecuali badan international, pimpinan WHO, UNAIDS, berbagai LSM, dan juga miss Universe pernah berkunjung ke UPT HIV RSCM.

Hari AIDS sedunia yang tahun pada 1 Desember 2011 mengambil tema ‘Getting to Zerro’. Suatu tema yang amat penting untuk menyadarkan kita, tahun ini telah banyak bukti – data dan hasil penelitian ilmiah – yang secara signifikan menyampaikan kemajuan yang amat pesat di bidangpengobatan dan pencegahan.

Tema tersebut terdiri dari tiga upaya besar, yakni ;
1.Zero New HIV Infection. Penularan HIV dapat dihentikan secara total

Terdapat sebuah penelitian yang banyak menjadi rujukan pada konferensi AIDS Wina. Juli 2010, yaitu penelitian Deborah Donell, dkk. Penelitian ini dipublikasikan pada majalah Lancet (12 Juni 2010), dengan judul ‘Heterosexual HIV-1 transmission after initiation of ART; a prospective cohort analysis’. Odha yang minum ARV akan mengurangi penularan kepada pasangan heteroseksualnya sebanyak 92%. Penelitian ini juga menyimpulkan pentingnya memperluas, meningkatkan jumlah tes HIV, untuk selanjutnya diteruskan dengan pengobatan.
Institute Nasional Alergi dan penyakit Infeksi Amerika sejak april 2005 menyelenggarakan penelitian besar (HPTN 052). Penelitian ini mengikutsertakan 1.763 pasangan (97% pasangan heteroseksual) dari Sembilan Negara, yaitu Amerika, Botswana, Brazil, India, Kenya, Malawi, South Africa, Thailand dan Zimbabwe.

Pasangan itu terbagi dalam dua kelompok, kelompok pertama; kelompok yang segera mendapat pengobatan ARV setelah diketahui terinfeksi HIV. Sementara kelompok kedua; baru mendapat pengobatan ARV ketika CD4 sudah rendah, kurang dari 250 sel/mm³.
hasilnya amat mengejutkan, penularan HIV terjadi pada 27 pasangan seksual dari odha yang mendapat ARV ketika CD4 kurang dari 250 (877 pasang), dan hanya 1 orang yang tertular HIV untuk pasangan odha yang segera diobati setelah diketahui terinfeksi HIV, tanpa melihat jumlah CD4 nya. Sementara pengobatan ARV segera setelah didiagnosis mengurangi angka penularan 96%.

Perbedaan yang amat signifikan, sehingga penelitian yang dijadwalkan selesai tahun 2015, terpaksa dihentikan, agar adil dan semua odha yang diteliti, segera mendapatkan pengobatan ARV. Jadi, kita optimis, pengobatan ARV lebih dini, dapat mencegah penularan HIV sebesar 96%, bila dikombinasikan dengan upaya-upaya lain, misalnya upaya pencegahan penularan ibu HIV ke bayinya, dikombinasikan dengan sunat/sirkumsisi yang berhasil mencegah penularan HIV sebesar 58%, digabung dengan upaya pengobatan penyakit menular seksual, upaya pemakaian gel Tenofovir per vaginal, serta upaya structural untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatkan pendidikan masyarakat, memperjuangkan kesetaraan jender dan upaya perubahan perilaku Abstinensi, Be Faithful, Condom, No Drugs (ABCD), niscaya kita bisa mencegah penularan HIV secara total, sehingga tidak ada penularan baru HIV. Hasil penelitian terbaru HPTN 052 tersebut (ARV mengurangi penularan HIV sebesar 96%), disambut baik oleh WHO dan UNAIDS.

2. Zero AIDS Discrimination. Diskriminasi dapat dihilangkan

Ada beberapa hambatan dalam menghilangkan diskriminasi, antara lain masih banyak Negara di Asia dan Pasifik yang kebijakan pemerintah dan kemauan politik di bidang HIV/AIDS masih terkendala oleh keraguan, praduga, stigma diskriminasi terdapat populasi kunci, kriminalisasi pengguna narkotika dan masalah gender serta kekerasan perempuan.

Walaupun demikian, banyak kemajuan di Negara-negara Asia Pasifik yang membuat kita optimis dapat mencapai zero diskriminasi. Paling tidak saat ini sudah ada 18 negara di kawasan tersebut yang mempunyai undang-undang perlindungan odha terhadap diskriminasi dan 17 negara mengklaim menyediakan perlindungan untuk masyarakat populasi kunci.
Beberapa Negara, termasuk Indonesia sudah secara tegas meninggalkan kriminalisasi pengguna narkotika, walaupun penerapan peraturan baru ini belum memuaskan. Beberapa program HIV/AIDS nasional telah melangkah lebih lanjut untuk mengatasi masalah stigma dan diskriminasi, termasuk yang berasal dari kalangan kepolisian dan tenaga kesehatan. Beberapa negara seperti Vietnam dan India telah mencabut aturan perundangan yang negative dan beralih ke peraturan perundangan yang melindungi odha.

Masalah stigma dan diskriminasi, kadang muncul karena salah pemahaman mengenai cara penularan. Misalnya baru-baru ini ada sekolah yang menolak seorang anak masuk sekolah Karena khawatir anak tersebut menularkan HIV ke teman-temennya. Padahal si anak sendiri sudah dilakukan tes dan hasilnya negative.

3.Zero AIDS related death. Kematian karena AIDS dapat dicegah total

Standar memulai pengobatan ARV yaitu memulai ketika CD4 kurang dari 200 sel /mm³, telah diganti oleh WHO sejak dua tahun terakhir ini menjadi ARV lebih dini, ketika CD4 <350. Rekomendasi WHO yang baru ini terbukti mampu mengurangi angka kematian 75%, seperti yang telah dibuktikan pada penelitian 816 odha di Haiti yang hasilnya dipublikasikan di majalah kedokteran internasional New England Journal of Medicine tahun 2010; 363:257-265.

Pengobatan ARV yang lebih dini lagi dari yang dijelaskan diatas, yaitu sewaktu CD4 kurang dari 500, telah berhasil mengurangi angka kematian lebih jauh lagi, yaitu sebesar 25%. Kesimpulan ini diambil dari hasil penelitian kohor Europa, Australia dan Kanada. Ada 9.455 odha yang diteliti dari yahun 1996 sampai 2009. Hasil penelitian ini dipresentasikan di Konferensi International AIDS di Wina tahun 2010 oleh Jonsson Funk M, dkk.

Sekarang ini banyak sekali, ribuan odha yang hidup sehat dan produktif setelah minum ARV, di RSCM, RSK Dharmais, RS Kramat 128 dan rumah sakit lainnya. Bahkan terdapat odha yang mengkonsumsi ARV lebih dari 17,5 tahun yang tetap sehat dan produktif.

Jadi, beberapa tahun terakhir ini telah dicapai kemajuan pesat dalam pengobatan da pencegahan penularan HIV/AIDS serta meminimalkan stigma dan diskriminasi. Penularan HIV dapat dicegah secara total, menjadi nol. Stigma dan diskriminasi juga demikian. Kematian akibat AIDS juga dapat dihindari secara total yang didukung oleh bukti-bukti berdasarkan hasil penelitian. Sekarang ini makin banyak bukti baru yang sahih yang menunjukkan bahwa mengobati orang dengan HIV lebih baik dimulai sedini mungkin. Jika dahulu kita harus menunda pengobatan ARV sampai indikasinya jelas, maka wacana baru, paradigma baru adalah memulai pengobatan ARV sesegera mungkin. Dengan kata lain, evidence based medicine yang kuat ini memerlukan persiapan infra struktur yang baik sebelum diterapkan bahwa menunda pengobatan menyebabkan kematian.

Tahun 2011 merupakan tonggak sejarah kemajuan pengobatan penyakit HIV/AIDS. Pengobatan dini mencegah penularan 96%, nyaris seratur persen. Odha yang minum ARV teratur tidak menularkan HIV lagi. Kemajuan ini juga terlihat jelas di UPT HIV RSCM. Banyak odha yang sekarang ini hidup sehat, produktif setelah minum ARV secara teratur. Dan beberapa dari mereka sudah lebih dari 7 tahun mengkonsumsi ARV yang disediakan gratis oleh pemerintah.

Dikutip dari HALLO CIPTO
Edisi Desember 2011
Dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia

SIMPOSIUM : MENINGKATKAN PERAN RS. SWASTA DALAM UPAYA PENANGGULANGAN HIV DI INDONESIA

Hari/Tanggal : Selasa, 14 Pebruari 2012
Pukul : 08.30 s.d 13.30 wib
Tempat : Aula FKUI Jakarta


SUSUNAN ACARA

07.30 – 08.30 Registrasi & Pembukaan

PLENARY LECTURE
MODERATOR : Prof.Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI
08.30 – 09.00 Meningkatkan Testing dan Terapi HIV di Indonesia
( Prof.dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM )

SESI I
MODERATOR : Dr. Setiawan Soeparan, MpH
(Direktorat Farmasi Kemenkes)
09.00 – 09.20 : Peran RS. Kramat 128 dalam Layanan Terapi ARV
( dr. Dyah A Waluyo )
09.20 – 09.40 : PMTCT di RS. Budi Kemuliaan, Batam
( dr. Danang Legowo,SpPD )
09.40 – 10.00 : Penatalaksanaan Koinfeksi Hepatitis pada HIV
di RS Primer Bintaro
( Dr.dr. Rino Alvani Gani, SpPD, KGEH )
10.00 – 10.30 : D i s k u s i
10.30 – 11.00 : Coffee Break

SESI II
MODERATOR : Dr. Tony Wandra, MKes, PhD (P2MPL)
11.00 – 11.20 : Testing dan Terapi HIV di Lembaga Pemasyarakatan
( dr. Finnahari )
11.20 – 11.40 : Meningkatkan Survival Rate Perawatan HIV di
Papua dan Papua Barat
( Prof.Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI / Max )
11.40 – 12.00 : Hasil-hasil penting Simposium HIV di Bangkok XIII
( Dr.dr. Evy Yunihastuti, SpPD, KAI )
12.00 – 12.30 : D i s k u s I
12.30 – 12.40 : Rangkuman dan Langkah ke Depan
( Prof.dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM )
12.40 – 13.40 : Sholat dan Makan Siang

Contact Person
; Ekki, Iin, Tini (021) 3162788, 3141160, 3904546, Layanan SMS ; 087889223345

e-mail ; pokdisusaids@gmail.com, alergi@centrin.net.id