Update HIV/AIDS

Oleh ; Prof.dr.Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM
Manager Unit Pelayanan Terpadu HIV/AIDS RSCM

Unit pelayanan terpadu (UPT) HIV RSCM yang dahulu dikenal dengan Pokdisus AIDS, merupakan salah satu unit tersibuk di RSCM. Unit yang menempati Gedung Poliklinik Unit Rawat Jalan Terpadu di Lantai 4, setiap hari didatangi sekitar 120 orang dengan HIV/AIDS (odha) untuk pemeriksaan dan pengambilan obat anti retroviral (ARV).

Setiap bulan UPT HIV RSCM melayani pengobatan 1.500 odha laki-laki, 500 odha perempuan dan 210 bayi, serta anak dengan HIV. Hingga Juni 2011, terdapat 5.414 odha yang pernah berobat di UPT HIV. Minggu ketiga Desember 2011, puluhan odha mendapat kado, sebagai apresiasi UPT HIV kepada odha yang telah berobat teratur cukup lama )lebih dari 7 tahun) di UPT HIV.

Selain itu, terdapat sejumlah odha yang mulai mengkonsumsi ARV sebelum tahun 2004. Uni tini selama beberapa tahun menjadi pusat pendistribusian ARV ke seluruh Indonesia (dengan harga Rp. 380.000 hingga Rp. 1.050.00) setiap bulannya. ARV dibeli dari India dan Thailand. Waktu itu, selain ARV, Pokdisus – yang dimotori Prof.Dr. dr. Samsuridjal Djauzi SpPD, KAI dan Sdr. Kurniawan Rachmadi, SKM – juga menyediakan flukonazol 150 mg yang dibeli di Thailand dan dijual seharga 3000 per/kapsul. Sementara apotek menjual obat paten paling murah Rp. 75.000. artinya, harga obat generik memang bisa jauh lebih murah dari harga paten.

Alhamdulillah, sejak tujuh tahun terakhir ini, pemerintah telah mengambil alih penyediaan obat ARV (lini pertama maupun ARV lini kedua) dan mendistribusikannya secara subsidi penuh alias gratis. Ke seluruh profinsi di Indonesia, dari sabang sampai merauke.
Pengalaman UPT HIV yang seabreg itu, diakui oleh banyak instansi pemerintah, tak terkecuali badan international, pimpinan WHO, UNAIDS, berbagai LSM, dan juga miss Universe pernah berkunjung ke UPT HIV RSCM.

Hari AIDS sedunia yang tahun pada 1 Desember 2011 mengambil tema ‘Getting to Zerro’. Suatu tema yang amat penting untuk menyadarkan kita, tahun ini telah banyak bukti – data dan hasil penelitian ilmiah – yang secara signifikan menyampaikan kemajuan yang amat pesat di bidangpengobatan dan pencegahan.

Tema tersebut terdiri dari tiga upaya besar, yakni ;
1.Zero New HIV Infection. Penularan HIV dapat dihentikan secara total

Terdapat sebuah penelitian yang banyak menjadi rujukan pada konferensi AIDS Wina. Juli 2010, yaitu penelitian Deborah Donell, dkk. Penelitian ini dipublikasikan pada majalah Lancet (12 Juni 2010), dengan judul ‘Heterosexual HIV-1 transmission after initiation of ART; a prospective cohort analysis’. Odha yang minum ARV akan mengurangi penularan kepada pasangan heteroseksualnya sebanyak 92%. Penelitian ini juga menyimpulkan pentingnya memperluas, meningkatkan jumlah tes HIV, untuk selanjutnya diteruskan dengan pengobatan.
Institute Nasional Alergi dan penyakit Infeksi Amerika sejak april 2005 menyelenggarakan penelitian besar (HPTN 052). Penelitian ini mengikutsertakan 1.763 pasangan (97% pasangan heteroseksual) dari Sembilan Negara, yaitu Amerika, Botswana, Brazil, India, Kenya, Malawi, South Africa, Thailand dan Zimbabwe.

Pasangan itu terbagi dalam dua kelompok, kelompok pertama; kelompok yang segera mendapat pengobatan ARV setelah diketahui terinfeksi HIV. Sementara kelompok kedua; baru mendapat pengobatan ARV ketika CD4 sudah rendah, kurang dari 250 sel/mm³.
hasilnya amat mengejutkan, penularan HIV terjadi pada 27 pasangan seksual dari odha yang mendapat ARV ketika CD4 kurang dari 250 (877 pasang), dan hanya 1 orang yang tertular HIV untuk pasangan odha yang segera diobati setelah diketahui terinfeksi HIV, tanpa melihat jumlah CD4 nya. Sementara pengobatan ARV segera setelah didiagnosis mengurangi angka penularan 96%.

Perbedaan yang amat signifikan, sehingga penelitian yang dijadwalkan selesai tahun 2015, terpaksa dihentikan, agar adil dan semua odha yang diteliti, segera mendapatkan pengobatan ARV. Jadi, kita optimis, pengobatan ARV lebih dini, dapat mencegah penularan HIV sebesar 96%, bila dikombinasikan dengan upaya-upaya lain, misalnya upaya pencegahan penularan ibu HIV ke bayinya, dikombinasikan dengan sunat/sirkumsisi yang berhasil mencegah penularan HIV sebesar 58%, digabung dengan upaya pengobatan penyakit menular seksual, upaya pemakaian gel Tenofovir per vaginal, serta upaya structural untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatkan pendidikan masyarakat, memperjuangkan kesetaraan jender dan upaya perubahan perilaku Abstinensi, Be Faithful, Condom, No Drugs (ABCD), niscaya kita bisa mencegah penularan HIV secara total, sehingga tidak ada penularan baru HIV. Hasil penelitian terbaru HPTN 052 tersebut (ARV mengurangi penularan HIV sebesar 96%), disambut baik oleh WHO dan UNAIDS.

2. Zero AIDS Discrimination. Diskriminasi dapat dihilangkan

Ada beberapa hambatan dalam menghilangkan diskriminasi, antara lain masih banyak Negara di Asia dan Pasifik yang kebijakan pemerintah dan kemauan politik di bidang HIV/AIDS masih terkendala oleh keraguan, praduga, stigma diskriminasi terdapat populasi kunci, kriminalisasi pengguna narkotika dan masalah gender serta kekerasan perempuan.

Walaupun demikian, banyak kemajuan di Negara-negara Asia Pasifik yang membuat kita optimis dapat mencapai zero diskriminasi. Paling tidak saat ini sudah ada 18 negara di kawasan tersebut yang mempunyai undang-undang perlindungan odha terhadap diskriminasi dan 17 negara mengklaim menyediakan perlindungan untuk masyarakat populasi kunci.
Beberapa Negara, termasuk Indonesia sudah secara tegas meninggalkan kriminalisasi pengguna narkotika, walaupun penerapan peraturan baru ini belum memuaskan. Beberapa program HIV/AIDS nasional telah melangkah lebih lanjut untuk mengatasi masalah stigma dan diskriminasi, termasuk yang berasal dari kalangan kepolisian dan tenaga kesehatan. Beberapa negara seperti Vietnam dan India telah mencabut aturan perundangan yang negative dan beralih ke peraturan perundangan yang melindungi odha.

Masalah stigma dan diskriminasi, kadang muncul karena salah pemahaman mengenai cara penularan. Misalnya baru-baru ini ada sekolah yang menolak seorang anak masuk sekolah Karena khawatir anak tersebut menularkan HIV ke teman-temennya. Padahal si anak sendiri sudah dilakukan tes dan hasilnya negative.

3.Zero AIDS related death. Kematian karena AIDS dapat dicegah total

Standar memulai pengobatan ARV yaitu memulai ketika CD4 kurang dari 200 sel /mm³, telah diganti oleh WHO sejak dua tahun terakhir ini menjadi ARV lebih dini, ketika CD4 <350. Rekomendasi WHO yang baru ini terbukti mampu mengurangi angka kematian 75%, seperti yang telah dibuktikan pada penelitian 816 odha di Haiti yang hasilnya dipublikasikan di majalah kedokteran internasional New England Journal of Medicine tahun 2010; 363:257-265.

Pengobatan ARV yang lebih dini lagi dari yang dijelaskan diatas, yaitu sewaktu CD4 kurang dari 500, telah berhasil mengurangi angka kematian lebih jauh lagi, yaitu sebesar 25%. Kesimpulan ini diambil dari hasil penelitian kohor Europa, Australia dan Kanada. Ada 9.455 odha yang diteliti dari yahun 1996 sampai 2009. Hasil penelitian ini dipresentasikan di Konferensi International AIDS di Wina tahun 2010 oleh Jonsson Funk M, dkk.

Sekarang ini banyak sekali, ribuan odha yang hidup sehat dan produktif setelah minum ARV, di RSCM, RSK Dharmais, RS Kramat 128 dan rumah sakit lainnya. Bahkan terdapat odha yang mengkonsumsi ARV lebih dari 17,5 tahun yang tetap sehat dan produktif.

Jadi, beberapa tahun terakhir ini telah dicapai kemajuan pesat dalam pengobatan da pencegahan penularan HIV/AIDS serta meminimalkan stigma dan diskriminasi. Penularan HIV dapat dicegah secara total, menjadi nol. Stigma dan diskriminasi juga demikian. Kematian akibat AIDS juga dapat dihindari secara total yang didukung oleh bukti-bukti berdasarkan hasil penelitian. Sekarang ini makin banyak bukti baru yang sahih yang menunjukkan bahwa mengobati orang dengan HIV lebih baik dimulai sedini mungkin. Jika dahulu kita harus menunda pengobatan ARV sampai indikasinya jelas, maka wacana baru, paradigma baru adalah memulai pengobatan ARV sesegera mungkin. Dengan kata lain, evidence based medicine yang kuat ini memerlukan persiapan infra struktur yang baik sebelum diterapkan bahwa menunda pengobatan menyebabkan kematian.

Tahun 2011 merupakan tonggak sejarah kemajuan pengobatan penyakit HIV/AIDS. Pengobatan dini mencegah penularan 96%, nyaris seratur persen. Odha yang minum ARV teratur tidak menularkan HIV lagi. Kemajuan ini juga terlihat jelas di UPT HIV RSCM. Banyak odha yang sekarang ini hidup sehat, produktif setelah minum ARV secara teratur. Dan beberapa dari mereka sudah lebih dari 7 tahun mengkonsumsi ARV yang disediakan gratis oleh pemerintah.

Dikutip dari HALLO CIPTO
Edisi Desember 2011
Dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s