Meningkatkan Tes HIV dan Terapi ART di Indonesia

Pengobatan dengan ART amat bermanfaat

Sewaktu epidemi HIV/AIDS memasuki dekade ke empat, babak baru strategi penanggulangan yang komprehensif pun dimulai. Strategi baru sekarang ini cukup menjanjikan, memberikan banyak harapan untuk meningkatkan hasil pengobatan, kualitas layanan dan dukungan dan sekaligus bermanfaat maksimal dalam pencegahan penularan HIV. Strategi baru ini dinamakan “Test and Treat”.

Sekilas sejarah perjalanan panjang pengobatan HIV/AIDS

Sekilas sejarah perjalanan panjang pengobatan HIV/AIDS dimulai sejak 1981 sewaktu pertama kali kasus AIDS dilaporkan. Bahasan ini penting, karena perkembangan dalam pengobatan mempengaruhi bentuk kebijakan yang diambil, misalnya mengenai kebijakan VCT (Voluntary Counseling and Testing).

Sesuai dengan perkembangan kemajuan pengobatan, kemudian kebijakan tersebut diganti dengan PITC, kemudian lagi diganti dengan “Test and Treat”. Pada awal epidemi AIDS, pengobatan ditujukan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi oportunistik dan kanker yang menyertai penyakit AIDS. Selain itu, pengobatan dukungan untuk membantu Odha menanggulangi berbagai masalah psikologis dan sosial juga menjadi pilar utama pengobatan.

Pengobatan pneumonia P carinii dengan kotrimoksasol atau pentamidin menjadi penting sekali. Berikutnya adalah pengobatan untuk mengatasi infeksi jamur dengan ketokonasol, flukonasol sampai itrakonasol, juga pengobatan sarkoma kaposi dengan khemoterapi. Odha (orang dengan HIV/AIDS) hanya bisa bertahan 6 bulan sampai 2 tahun, untuk kemudian meninggal.

Era berikutnya adalah era obat anti retroviral (ART), yang dimulai dengan pengobatan memanfaatkan zidovudin sebagai obat tunggal, beberapa tahun kemudian ditemukan lamivudin, dan terbukti kombinasi zidovudin dan lamivudin memberikan hasil yang lebih baik daripada obat tunggal. Di awal era ART, hanya Odha yang sudah dalam tahap lanjut, tahap AIDS yang boleh diberikan pengobatan.

Kemudian semakin disadari mengobati dengan ARV sebelum gejala AIDS muncul hasilnya lebih baik, yaitu sewaktu jumlah CD mulai kurang dari 200 sel/mm3. Manfaat pengobatan kombinasi 3 obat ARV/ART /HAART (Anti Retro Viral Therapy/Highly Active Anti Retro viral Therapy) semakin jelas menekan angka kematian dan angka kesakitan.

Sekarang ini banyak sekali Odha di Indonesia yang tetap sehat dan produktif setelah mengkonsumsi ARV selama lebih dari 10 tahun, bahkan ada yang telah minum ARV selama lebih dari 18 tahun. RS. Cipto Mangunkusumo awal bulan Juni 2011 telah mengobati ARV pada 5.414 orang dengan HIV/AIDS. Setiap hari yang berobat lebih dari 100 orang, bayi dan anak yang mengakses ARV lebih dari 220 setiap bulan.
Botswana 2004, mengobati ARV menekan angka kematian, menekan penularan ke bayi. Tes HIV rutin.

Bagaimana dengan Afrika, yang mempunyai kasus HIV terbanyak di dunia? Pada tahun 2004, Sheila Tlou menteri kesehatan Botswana gundah gulana. Setiap hari, selalu saja ada rakyatnya yang meninggal. Ini bukan kisah khayal seorang raja di negara antah berantah, yang diserang pageblug (wabah) ribuan tahun yang lalu. Peristiwa ini benar-benar terjadi, baru 7 tahun yang lalu. Harapan hidup rakyat Sheila turun drastis, bahkan yang perempuan tidak mencapai 50 tahun. Beberapa orang yang meninggal sempat tes darah HIV, ternyata penyebab kematian rakyatnya adalah AIDS. Bagaimana mungkin. Laporan di mejanya selalu menyebutkan jumlah Odha (orang dengan HIV/AIDS) di negaranya, Botswana, hanya 5.000 orang.

Botswana adalah sebuah negara dengan penduduk 1,815,508 orang. Terletak di sebelah utara Afrika Selatan. Sebagian besar rakyatnya pemeluk agama Kristen (71.6%). Negara bekas protektorat Inggris ini merdeka tahun 1966. Merupakan salah satu Negara penghasil intan berlian dengan Gross Domestic Product 10.900 dolar per kapita per tahun, dua kali lebih besar dari GDP negara kita tercinta.
Sheila Tlou tidak mau berpeluk tangan. Obat AIDS (ARV) tersedia gratis di negaranya, Odha yang minum ARV terlihat sehat, bekerja normal bahkan produktif, lah kok banyak sekali yang meninggal. “Something must be wrong, very wrong”. Akhirnya ia sadar, ada jurang lebar antara estimasi, prakiraan jumlah Odha di negerinya 350.000, bandingkan dengan jumlah Odha yang dilaporkan hanya 5.000 orang.
Begitu banyak yang meninggal karena AIDS rasanya tidak masuk akal dengan tersedianya stok ARV di gudang obat Botswana. Banyak negara maju sedang euphoria, karena Odha tertolong, tidak meninggal karena minum ARV. Penjelasan satu-satunya rakyat Botswana meninggal sebelum sempat mengkonsumsi obat ARV, dan memang benar demikian.

Logika sehatnya berjalan baik. Kebijakan VCT (voluntary counseling and testing), tes HIV yang dijalankan dinegerinya ia nyatakan gagal. Semua rakyatnya, tanpa kecuali harus tes HIV, siapa yang positif, Bu Menteri Kesehatan menyediakan layanan kesehatan yang komprehensif, termasuk obat ARV dan obat tbc (tuberculosis) gratis. Nah, mungkin itu yang disebut sebagai pemimpin yang mempunyai leadership.
Itu kejadian 8 tahun yang lalu. Sekarang bagaimana hasilnya? Ternyata angka kematian turun drastis. Penularan dari ibu HIV ke bayinya menurun amat meyakinkan. Sekarang ini seluruh pimpinan negara Botswana masih bekerja keras untuk mengatasi ledakan jumlah pasien yang berobat ARV. Dari 5.000 menjadi lebih dari 100.000 orang yang saat ini mendapat pengobatan ART. Jadi, benar sekali bahwa kematian yang begitu banyak terjadi sebelum tahun 2004, ternyata “preventable death”, kematian yang dapat dicegah.

Badan Kesehatan Dunia WHO: mulai ARV ketika CD4 mulai turun dari 350

Standar memulai pengobatan ARV yaitu memulai ketika CD4 kurang dari 200 sel/mm3, telah diganti oleh WHO sejak setahun terakhir ini menjadi memulai ARV lebih dini, ketika CD4 < 350. Rekomendasi WHO yang baru ini terbukti mampu mengurangi angka kematian 75%, mampu menekan angka kejadian tbc pada Odha sebesar 50%. Penelitian dikerjakan pada 816 Odha di Haiti pada tahun 2005 sampai tahun 2008. Hasilnya dipublikasikan di majalah kedokteran internasional New England Journal of Medicine tahun 2010;363:257-265.

Di penelitian tersebut, Odha dibagi 2 kelompok, yaitu kelompok pengobatan dini dan kelompok pengobatan standar, yaitu memulai ARV ketika CD4 sudah kurang dari 200. Adapun kelompok pengobatan dini, memulai pengobatan ARV ketika CD4 antara 200 -350, tanpa riwayat gejala AIDS, sewaktu Odha masih sehat, berat badannya belum turun, tanpa sariawan maupun diare, tanpa panas batuk, tanpa gejala. Obat ARV yang diberikan adalah Duviral dan Efavirenz. Hasil penelitian adalah mengobat ARV ketika CD masih 200-350 berhasil mengurangi angka kematian 75%.

Negara maju mulai ARV ketika CD4 kurang dari 500

Pengobatan ARV amat dini, CD4 100,000 kopi/mL. Untuk Odha dengan CD4 lebih dari 500, panel ahli di Amerika terbagi dua, 50% berpendapat perlu mulai saja ARV, sedangkan 50% para ahli yang lain berpendapat opsional, boleh mulai ARV, boleh ditunda. (http://aidsinfo.nih.gov/contentfiles/AdultandAdolescentGL.pdf.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s