Pokdi Award : Kebersamaan Odha dan Petugas Kesehatan

Oleh: Yowel Kambu, M.Kep1, Kurniawan Rachmadi, SKM., M.Si2

 

  1. Mahasiswa Program Residensi Keperawatan Medikal Bedah Peminatan Imunologi Program Pasca Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia tahun akademik 2012.
  2. Supervisor Senior Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM Jakarta.

 

Pokdi Award adalah suatu kegiatan penghargaan kepada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang telah menjalani kepatuhan ARV dengan baik diatas 5 tahun, yang bertujuan sebagai bentuk apresiasi kepada ODHA dan memberikan motivasi agar klien dapat terus meningkatkan dan mempertahankan kepatuhan terhadap terapi ARV serta merangsang ODHA lain yang belum menjalani ARV untuk mempersiapkan diri sehingga nantinya dapat menjalani ARV dengan baik.

Program Pokdi Award merupakan yang pertama kali diselenggarakan oleh Unit Pelayanan Terpadu (UPT) HIV RSCM Jakarta dan di Indonesia. Dalam perjalanan pelayanannya hingga tahun 2012, unit layanan ini telah berhasil menjaring 5700 ODHA dengan 80 ODHA yang kepatuhannya (adherence) berkategori baik dalam menjalani terapi ARV berdasarkan kriteria klinis CD4 meningkat (350 – 1590 sel/mm3), hitung limfosit total meningkat (800 – 2200  sel/mm3), viral load menurun hingga tidak terdeteksi dan berat badan ODHA meningkat. ODHA yang patuh menjalani ARV bervariasi antara pengobatan lini I dan II. Bentuk apresiasi yang diberikan berupa konsultasi gratis, pemeriksaan CD4 gratis dan pemberian kenang-kenangan. Program ini kiranya dapat dijadikan sebagai contoh untuk diikuti oleh unit pelayanan kesehatan khusus pelayanan ODHA lain di Indonesia.

Mengingat penting kepatuhan ODHA dalam minum ARV sangat membutuhkan sikap disiplin dan kesadaran diri yang tinggi dan konsisten, maka dirasakan perlu dilakukan berbagai upaya untuk menumbuhkan hal tersebut. ODHA yang tidak patuh minum ARV dapat menyebabkan resistensi HIV dan memperparah kesakitannya. Oleh sebab itu perlu diberikan reinforcement (penguatan) dan dorongan, salah satunya dalam bentuk pemberian apresiasi Pokdi Award oleh UPT HIV RSCM kepada ODHA yang telah berhasil mempertahankan kepatuhan minum ARV dalam jangka waktu 5 – 20 tahun.

Program utama lain yang senantiasa dilakukan oleh UPT HIV RSCM adalah dengan pemberian konseling pra ARV pada ODHA yang memenuhi syarat tertentu. Pemberian konseling pra ARV sangatlah penting artinya dilakukan guna memberi pengetahuan dasar kepada ODHA tentang: 1) apa itu ARV; 2) jenis-jenis ARV; 3) dosis, waktu dan cara minum ARV;  4) pentingnya ARV untuk menghambat replikasi HIV dan menurunkan viral load;    5) konsekuensi minum ARV: ARV adalah terapi seumur hidup; memerlukan  kepatuhan,  disiplin diri dan motivasi positif ODHA yang kuat; dan 5) efek samping ARV. 

Beberapa hasil riset telah membuktikan bahwa pemberian ARV dapat mengurangi penularan HIV hingga 92 – 96%. Ini dapat diartikan bahwa “pengobatan ARV berarti mencegah penularan HIV”. Menurut standar WHO (World Health Organization), terapi ARV diberikan pada CD4+ absolut ≤ 350 sel/mm3,namun di beberapa negara maju ARV sudah diberikan pada ODHA dengan syarat kadar CD4+ absolut < 500 sel walaupun belum menunjukkan manifestasi klinik infeksi oportunistik. Hal ini berarti ODHA yang berhasil minum ARV dengan baik tidak menularkan HIV lagi (Lowes, 2011; Djoerban, 2012). Harapan yang menggembirakan bagi ODHA tentang kemungkinan telah ditemukannya obat untuk membunuh HIV mulai nampak nyata. Seorang peneliti Zhilei Chen, asisten profesor di A&M University Texas yang berkolaborasi dengan Scripps Research Institute dalam penelitiannya yang dipublikasikan oleh jurnal American Society of Microbiology telah menemukan suatu senyawa PD 404, 182 yang bisa membunuh HIV (http://palingseru.com/6453/pd-404182-senyawa-pembunuh-virus-hiv). Namun, penelitian ini masih terus dalam pengembangan kira-kira hingga 10 tahun mendatang hingga pada akhirnya dapat diberikan pada ODHA.   

Pada dasarnya untuk dapat menjalani ARV dengan baik, maka ODHA sangat membutuhkan dukungan psikososial dari segenap pihak, baik tim profesional kesehatan (dokter, perawat, apoteker dll),  Pemerintah, LSM, dukungan sebaya, keluarga ODHA maupun segenap masyarakat berkewajiban turut berkontribusi dalam rangka menjaga hak ODHA untuk memperoleh layanan kesehatan yang baik dan optimal, utamanya layanan ARV, sehingga dapat hidup sehat, adalah bagian dari hak asasi manusia itu sendiri. Fokus perhatian kita bersama adalah bagaimana agar kualitas hidup ODHA meningkat dan tetap terjaga melalui perbaikan aktualisasi diri ODHA sehingga dapat meningkatkan produktivitas ODHA, yang sebagian besar dari mereka ada pada kalangan dewasa muda (usia 20 – 29 tahun). Untuk mewujudkan upaya tersebut maka pemberian pengobatan ARV yang terencana, terstruktur dan berkesinambangan harus terus ditingkatkan.

Sumber:

Djoerban, Z. (2012). Meningkatkan tes HIV dan terapi ART di Indonesia. File Presentasi Disampaikan pada acara Pokdisus Award 23 Mei 2012. Jakarta: UPT HIV RSCM Jakarta. 

 

Lowes, R. (2011). Antiretrovirals Protect Partners of HIV-Infected Patients. Medscape Madical News. St. Louis, Missouri. Diakses 24 Mei 2011, dari http://www.medscape.com/viewarticle/742603?src=mp&spon=24.  

 

PD 404, 182 Senyawa Pembunuh Virus HIV, diakses dari http://palingseru.com/6453/pd-404182-senyawa-pembunuh-virus-hiv tanggal 23 Mei 2012

 

Advertisements

Apresiasi pada ODHA

Unit Pelayanan Terpadu HIV akan memberikan apresiasi kepada beberapa pasien odha yang telah berobat lebih dari 5 tahun di unit pelayanan terpadu secara teratur, masih di lini pertama dan tetap sehat serta produktif.

Acara kebersamaan odha dan petugas kesehatan ini akan diselenggarakan pada :

Hari//tgl  : Rabu, 23 Mei 2012

Waktu   : 10.30 s/d 13.00 WIB

Tempat   : Ruang Kuliah Ilmu Penyakit Dalam FKUI

 

SUSUNAN ACARA :

Sambutan

Info Terkini    : Prof.dr. Zubairi Djoerban, SpPD KHOM

Tetap Sehat dengan selalu minum ARV     : Prof.Dr.dr. Samsuridjal Djauzi SpPD KAI

Pemberian Kenang-kenangan  

Makan Siang bersama

Penutup

 

Informasi bisa menghubungi Eki di 3162788