MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN NASIONAL

Sarasehan sepuluh tahun Produksi Obat ARV di Indonesia dilaksanakan bersamaan dengan hari Pahlawan. Sarasehan dihadiri oleh Dr Achmad Sujudi (mantan Menkes), Drs Gunawan Pranoto (mantan PT Dirut Kimia Farma) dan Drs Sampoerno (mantan Kepala Badan POM). Sejarah kebutuhan dan pengadaan obat ARV di Indonesia dipaparkan oleh Prof. Samsuridjal Djauzi. Sejak tahun 2002, Pokdisus AIDS FKUI telah memulai terapi ARV atas izin Badan POM. Obat yang digunakan adalah obat generik yang berasal dari India. Semula kebutuhannya hanya sekitar 100 namun secara tajam meningkat karena harga obat paten mencapai 1000 dolar sebulan sedangkan obat generik hanya 30 dolar sebulan. Karena kebutuhan meningkat, Pokdisus tidak mampu mendanai pengadaan obat sehingga meminta PT Indo Farma, Tbk. untuk melakukan pengadaan. Saat itu pemerintah Indonesia dan Thailand mempunyai perjanjian kerjasama dalam bidang HIV termasuk obat ARV, sehingga kemudian obat yang digunakan adalah obat generik buatan Thailand.

Pada tahun 2004, PT Kimia Farma memproduksi obat ARV, pemerintah mendukung dengan mengeluarkan putusan presiden Megawati tentang lisensi wajib (compulsory lisencing). Ditinjau dari segi ekonomi, sebenarnya pengadaan obat ARV waktu itu belum waktunya karena penggunanya hanya sekitar 300 orang. Namun sebagai perusahaan farmasi nasional, PT Kimia Farma merasa berkewajiban untuk memproduksi obat ARV nasional. Sudah tentu untuk sampai di pasar, maka obat ARV ini harus mendapat izin edar Badan POM. Pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk memberi subsidi penuh pada pelayanan obat ARV sehingga mereka yang memerlukan dapat memintanya dengan cuma-cuma. Dewasa ini data Kemeterian Kesehatan memperlihatkan jumlah pengguna ARV telah mencapai hampir 50.000 orang.

Obat ARV sejak tahun 2008 telah diproduksi di pabrik baru Kimia Farma di Pulo Gadung. Baik Dr Achmad Sujudi, Drs Gunawan Pranoto maupun Drs Sampoerno dalam kesan dan kenangannya mengutarakan agar kita mengutamakan kepentingan nasional dalam berbagai bidang termasuk program kesehatan. Jika kepentingan nasional ini sama-sama dihayati maka kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dan kilas balik produksi obat ARV adalah salah satu contohnya. Dalam diskusi, banyak peserta yang mendukung agar dalam melaksanakan layanan kepada masyarakat kepentingan nasional diutamakan.

Sebagai warga dunia, Indonesia perlu mengikuti dan mengetahui berbagai pertaruran dan standar nasional dan internasional, namun kepatuhan hendaknya disertai kesadaran untuk mengutamakan kepentingan nasional. Kita patut mencontoh Cina dan India yang menjadi pemain penting dunia namun secara nyata menunjukkan sikap mereka yang mengutamakan kepentingan nasional mereka.

Dalam produksi obat sebenarnya banyak pihak yang terlibat, tidak hanya perusahaan farmasi, tapi juga Badan POM, kementerian Kesehatan, Kementerian perdagangan bahkan juga Kementerian Hukum dan HAM. Perlu pemahaman bersama serta pembentukan jaringan dalam mendukung kepentingan nasional ini. Harapan peserta maupun masyarakat dari sarasehan ini hendaknya perjuangan mengadakan obat ARV di Indonesia dijadikan modal untuk mengembangkan produksi obat nasional di negeri kita.

(Samsuridjal)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s