Faktor Risiko Terjadinya Hepatoksisitas Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien HIV dan AIDS

By. Lies Lithuariana

Saat ini tuberkulosis paru merupakan infeksi oportunistik tersering ke-2 pada pasien HIV/AIDS di Pokdisus RSCM. Paduan obat antituberkulosis (OAT) yang sering digunakan adalah paduan obat jangka pendek yang mengandung rifampisin, isoniazid (IND) dan pirazinamid yang diketahui menimbulkan efek samping hepatotoksisitas. Telah diketahui banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya hepatotoksisitas imbas obat yaitu : usia, jenis kelamin, generik, alkoholisme, adanya infeksi hepatitis B maupun C, infeksi HIV, nilai dasar SGPT dan bilirubin tidak normal, status gizi, konsumsi beberapa obat hepatotoksik secara bersamaan.

Faktor risiko tersebut banyak didapatkan pada penderita HIV/AJDS, sehingga risiko terjadinya hepatotoksisitas imbas OAT akan meningkat. Dengan karakteristik pasien HIV/AIDS yang berbeda dengan di negara lain dalam hal usia saat menderita HIV yang kebanyakan berusia muda rute transmisi HIV terbanyak melalui ivdu, serta hitung CD4 < 200 mm³ merupakan kelompok terbanyak maka diperlukan penelitian tersendiri tentang risiko terjadinya hepatotoksisitas imbas OAT pada pasien tersebut di Indonesia.

Tujuan

Menilai/mengetahui faktor risiko terjadinya hepatotoksisitas akibat OAT pada penderita HIV yang mendapat OAT.

Metodologi

Disain penelitian ini adalah studi retrospektif kasus-kontrol dengan matching usia jenis kelamin, regimen OAT dan konsumsi alkohol. Faktor risiko yang diteliti adalah koinfeksi hepatitis C, hepatitis B, konsumsi obat hepatotoksik lainnya, dan nilai dasar SGPT dan atau billirubin total tidak normal. Sampel diambil dari pasien rawat inap di RSCM maupun pasien rawat jalan di Pokdisus RSCM. Data diambil dari rekam medik pasien maupun wawancara ulang bila data kurang lengkap.

Hasil Penelitian

Pada pengumpulan sampel bulan Pebruari-Mei 2008, diperoleh 33 kasus dan 33 kontrol yang memenuhi kritera pemilihan subyek penelitian. Rentang usia subyek 2l-40 tahun (rerata usia 29 tahun) dan 9I% berjenis kelamin laki-laki. Baik pada kelompok kasus maupun kontrol, sebagian besar subyek merupakan pengguna narkoba suntik dan memiliki CD4 < 200/mm³. Proporsi subyek dengan koinfeksi hepatitis C sebesar 82% pada kasus dan 76% pada kontrol, sedangkan proporsi subyek dengan koinfeksi hepatitis B sebesar 18% pada kasus dan 6% pada kontrol. Subyek dengan nilai SGPT awal meningkat didapatkan pada kelompok kasus sebesar 51,5% dan pada kontrol sebesar 12%. Sementara itu, proporsi subyek yang menggunakan obat hepatotoksik lainnya sebesar 54,5% pada kasus dan 42,4% pada T-Ikontrol. Pada analisis univariat, hanya nilai SGPT awal yang meningkat yang berhubungan dengan kejadian hepatotoksisitas imbas oAT (RO=7.5, 75% CL 1,72-32,80, p < 0,05).

Simpulan : Nilai SGPT awal yang meningkat dapat meningkatkan risiko terjadinya hepatotoksisitas imbas OAT pada penderita HIV/AIDS sebesar 7,5 kali. Belum didapatkan hubungan koinfeksi hepatitis C, hepatitis B dan penggunaan obat hepatotoksik lainnya dengan kejadian hepatotoksisitas imbas OAT pada penderita HIV/AIDS.

Kata kunci : hepatatoksisitas imbas OAT, HIV/AIDS, tuberkulosis

 

One thought on “Faktor Risiko Terjadinya Hepatoksisitas Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien HIV dan AIDS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s