Ibu Sasaran Proteksi HIV

Jakarta, Lonjakan drastis jumlah bayi pengidap HIV menun jukkan pergeseran pola penularan. Penyebabnya, penderita bukan lagi berasal dari pengguna narkoba suntik, melainkan ibu rumah tangga. Pemerintah mulai menjadikan ibu rumah tangga sebagai sasaran proteksi HIV. Peningkatan jumlah ibu penderita HIV membuat bayi ikut terancam.

Penularan HIV pada kelompok masyarakat berisiko rendah, seperti ibu dan bayi, memiliki dampak lebih berbahaya karena menyangkut masa depan perempuan dan anak. “Sekarang kelompok (berisiko) rendah justru mengalami kenaikan yang signifikan jumlah penderitanya,“ ujar Wakil Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, dr Rita Verita Sri, Senin (20/2). Ibu rumah tangga, ibu hamil, dan bayi masuk dalam kelompok berisiko rendah itu.

Ibu rumah tangga, termasuk ibu hamil, selama ini luput dari perhatian pemerintah dalam penanggulangan HIV. Setelah angka penularan HIV pada ibu bertambah, pemerintah mulai melakukan sosialisasi terhadap kelompok berisiko rendah ini.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Dinas Kesehatan Kota Bandung dr Fetty Sugiharti mengatakan, pergeseran penderita dari pengguna narkoba suntik ke ibu rumah tangga, ibu hamil, dan bayi ini mulai terdeteksi sejak tiga tahun lalu.

Kondisi tersebut membuat Kementerian Kesehatan mengubah strategi sosialisasi. Ibu hamil menjadi sasaran utama untuk mendapat proteksi dari HIV. Wakil Menteri Kesehatan Ali Mukti Ghufron mengakui selama ini belum terlalu memberi perhatian lebih pada ibu hamil usia reproduktif atau 25-35 tahun.

Sumber penularan HIV terhadap bayi juga akan mendapat pengawasan ketat, yakni perempuan muda, ibu hamil, dan para pria reproduktif yang rentan menularkan. “Kemenkes memberikan proteksi penuh terhadap ibuibu, jangan sampai mereka juga menjadi penular aktif di tengah masyarakat,“ ujar Ali.

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Linda Amalia Sari Gumelar, data dari negara-negara di Asia menunjukkan perempuan menikah yang mengalami kekerasan seksual lebih berpotensi terjangkit HIV ketimbang perempuan tidak mengalami kekerasan.

“Ini bukan kasus sederhana untuk ditangani karena menyangkut masa depan perempuan dan anak,“ kata Linda. Menurut dia, kondisi tersebut juga menunjukkan posisi perempuan yang amat rentan, tidak saja terhadap risiko kekerasan, tetapi juga terjangkit HIV.
Media Relations Officer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Barat Tri Irwanda mengkhawatirkan peningkatan jumlah bayi penderita HIV.
Artinya, balita tertular dari ibu dan ayah sehingga dari satu kasus balita saja diperkirakan ada dua kasus lainnya, yakni dari bapak dan ibu. “Kebayang kan kalau ibu atau bapaknya itu juga punya `pasangan seks’ lain?“ ujar Tri.

Penyebaran HIV di Jawa Barat masih didominasi pertukaran jarum suntik, tapi sudah mulai terkendali. Saat ini penularan yang paling mengkhawatirkan justru melalui transmisi seksual.
Asisten Deputi Pemenuhan Hak Kesehatan Anak Kementerian PPPA, Lasmi Indiati, mengingatkan soal kesehatan pada bayi atau anak yang tertular virus HIV.

Menurut Indi, anak harus mendapat hak asasinya.
“Sejak dalam perut ibunya, bayi harus dipenuhi kebutuhan nutrisinya maupun kesehatannya hingga kelahirannya,“ ujar Indi. Bayi terinfeksi HIV harus dipenuhi pelayanan kesehatannya.

Pada 2010 kasus AIDS berdasarkan jenis kelamin tercatat 22.726 kasus, sebanyak 16.731 kasus atau 73,62 persen laki-laki, 5.911 kasus atau 26,01 persen perempuan, dan 84 kasus atau 0,37 persen tak diketahui jenis kelaminnya. Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2,83 banding

Republika, 21 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s