Pokdi Award : Kebersamaan Odha dan Petugas Kesehatan

Oleh: Yowel Kambu, M.Kep1, Kurniawan Rachmadi, SKM., M.Si2

 

  1. Mahasiswa Program Residensi Keperawatan Medikal Bedah Peminatan Imunologi Program Pasca Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia tahun akademik 2012.
  2. Supervisor Senior Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM Jakarta.

 

Pokdi Award adalah suatu kegiatan penghargaan kepada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang telah menjalani kepatuhan ARV dengan baik diatas 5 tahun, yang bertujuan sebagai bentuk apresiasi kepada ODHA dan memberikan motivasi agar klien dapat terus meningkatkan dan mempertahankan kepatuhan terhadap terapi ARV serta merangsang ODHA lain yang belum menjalani ARV untuk mempersiapkan diri sehingga nantinya dapat menjalani ARV dengan baik.

Program Pokdi Award merupakan yang pertama kali diselenggarakan oleh Unit Pelayanan Terpadu (UPT) HIV RSCM Jakarta dan di Indonesia. Dalam perjalanan pelayanannya hingga tahun 2012, unit layanan ini telah berhasil menjaring 5700 ODHA dengan 80 ODHA yang kepatuhannya (adherence) berkategori baik dalam menjalani terapi ARV berdasarkan kriteria klinis CD4 meningkat (350 – 1590 sel/mm3), hitung limfosit total meningkat (800 – 2200  sel/mm3), viral load menurun hingga tidak terdeteksi dan berat badan ODHA meningkat. ODHA yang patuh menjalani ARV bervariasi antara pengobatan lini I dan II. Bentuk apresiasi yang diberikan berupa konsultasi gratis, pemeriksaan CD4 gratis dan pemberian kenang-kenangan. Program ini kiranya dapat dijadikan sebagai contoh untuk diikuti oleh unit pelayanan kesehatan khusus pelayanan ODHA lain di Indonesia.

Mengingat penting kepatuhan ODHA dalam minum ARV sangat membutuhkan sikap disiplin dan kesadaran diri yang tinggi dan konsisten, maka dirasakan perlu dilakukan berbagai upaya untuk menumbuhkan hal tersebut. ODHA yang tidak patuh minum ARV dapat menyebabkan resistensi HIV dan memperparah kesakitannya. Oleh sebab itu perlu diberikan reinforcement (penguatan) dan dorongan, salah satunya dalam bentuk pemberian apresiasi Pokdi Award oleh UPT HIV RSCM kepada ODHA yang telah berhasil mempertahankan kepatuhan minum ARV dalam jangka waktu 5 – 20 tahun.

Program utama lain yang senantiasa dilakukan oleh UPT HIV RSCM adalah dengan pemberian konseling pra ARV pada ODHA yang memenuhi syarat tertentu. Pemberian konseling pra ARV sangatlah penting artinya dilakukan guna memberi pengetahuan dasar kepada ODHA tentang: 1) apa itu ARV; 2) jenis-jenis ARV; 3) dosis, waktu dan cara minum ARV;  4) pentingnya ARV untuk menghambat replikasi HIV dan menurunkan viral load;    5) konsekuensi minum ARV: ARV adalah terapi seumur hidup; memerlukan  kepatuhan,  disiplin diri dan motivasi positif ODHA yang kuat; dan 5) efek samping ARV. 

Beberapa hasil riset telah membuktikan bahwa pemberian ARV dapat mengurangi penularan HIV hingga 92 – 96%. Ini dapat diartikan bahwa “pengobatan ARV berarti mencegah penularan HIV”. Menurut standar WHO (World Health Organization), terapi ARV diberikan pada CD4+ absolut ≤ 350 sel/mm3,namun di beberapa negara maju ARV sudah diberikan pada ODHA dengan syarat kadar CD4+ absolut < 500 sel walaupun belum menunjukkan manifestasi klinik infeksi oportunistik. Hal ini berarti ODHA yang berhasil minum ARV dengan baik tidak menularkan HIV lagi (Lowes, 2011; Djoerban, 2012). Harapan yang menggembirakan bagi ODHA tentang kemungkinan telah ditemukannya obat untuk membunuh HIV mulai nampak nyata. Seorang peneliti Zhilei Chen, asisten profesor di A&M University Texas yang berkolaborasi dengan Scripps Research Institute dalam penelitiannya yang dipublikasikan oleh jurnal American Society of Microbiology telah menemukan suatu senyawa PD 404, 182 yang bisa membunuh HIV (http://palingseru.com/6453/pd-404182-senyawa-pembunuh-virus-hiv). Namun, penelitian ini masih terus dalam pengembangan kira-kira hingga 10 tahun mendatang hingga pada akhirnya dapat diberikan pada ODHA.   

Pada dasarnya untuk dapat menjalani ARV dengan baik, maka ODHA sangat membutuhkan dukungan psikososial dari segenap pihak, baik tim profesional kesehatan (dokter, perawat, apoteker dll),  Pemerintah, LSM, dukungan sebaya, keluarga ODHA maupun segenap masyarakat berkewajiban turut berkontribusi dalam rangka menjaga hak ODHA untuk memperoleh layanan kesehatan yang baik dan optimal, utamanya layanan ARV, sehingga dapat hidup sehat, adalah bagian dari hak asasi manusia itu sendiri. Fokus perhatian kita bersama adalah bagaimana agar kualitas hidup ODHA meningkat dan tetap terjaga melalui perbaikan aktualisasi diri ODHA sehingga dapat meningkatkan produktivitas ODHA, yang sebagian besar dari mereka ada pada kalangan dewasa muda (usia 20 – 29 tahun). Untuk mewujudkan upaya tersebut maka pemberian pengobatan ARV yang terencana, terstruktur dan berkesinambangan harus terus ditingkatkan.

Sumber:

Djoerban, Z. (2012). Meningkatkan tes HIV dan terapi ART di Indonesia. File Presentasi Disampaikan pada acara Pokdisus Award 23 Mei 2012. Jakarta: UPT HIV RSCM Jakarta. 

 

Lowes, R. (2011). Antiretrovirals Protect Partners of HIV-Infected Patients. Medscape Madical News. St. Louis, Missouri. Diakses 24 Mei 2011, dari http://www.medscape.com/viewarticle/742603?src=mp&spon=24.  

 

PD 404, 182 Senyawa Pembunuh Virus HIV, diakses dari http://palingseru.com/6453/pd-404182-senyawa-pembunuh-virus-hiv tanggal 23 Mei 2012

 

Advertisements

Update HIV/AIDS

Oleh ; Prof.dr.Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM
Manager Unit Pelayanan Terpadu HIV/AIDS RSCM

Unit pelayanan terpadu (UPT) HIV RSCM yang dahulu dikenal dengan Pokdisus AIDS, merupakan salah satu unit tersibuk di RSCM. Unit yang menempati Gedung Poliklinik Unit Rawat Jalan Terpadu di Lantai 4, setiap hari didatangi sekitar 120 orang dengan HIV/AIDS (odha) untuk pemeriksaan dan pengambilan obat anti retroviral (ARV).

Setiap bulan UPT HIV RSCM melayani pengobatan 1.500 odha laki-laki, 500 odha perempuan dan 210 bayi, serta anak dengan HIV. Hingga Juni 2011, terdapat 5.414 odha yang pernah berobat di UPT HIV. Minggu ketiga Desember 2011, puluhan odha mendapat kado, sebagai apresiasi UPT HIV kepada odha yang telah berobat teratur cukup lama )lebih dari 7 tahun) di UPT HIV.

Selain itu, terdapat sejumlah odha yang mulai mengkonsumsi ARV sebelum tahun 2004. Uni tini selama beberapa tahun menjadi pusat pendistribusian ARV ke seluruh Indonesia (dengan harga Rp. 380.000 hingga Rp. 1.050.00) setiap bulannya. ARV dibeli dari India dan Thailand. Waktu itu, selain ARV, Pokdisus – yang dimotori Prof.Dr. dr. Samsuridjal Djauzi SpPD, KAI dan Sdr. Kurniawan Rachmadi, SKM – juga menyediakan flukonazol 150 mg yang dibeli di Thailand dan dijual seharga 3000 per/kapsul. Sementara apotek menjual obat paten paling murah Rp. 75.000. artinya, harga obat generik memang bisa jauh lebih murah dari harga paten.

Alhamdulillah, sejak tujuh tahun terakhir ini, pemerintah telah mengambil alih penyediaan obat ARV (lini pertama maupun ARV lini kedua) dan mendistribusikannya secara subsidi penuh alias gratis. Ke seluruh profinsi di Indonesia, dari sabang sampai merauke.
Pengalaman UPT HIV yang seabreg itu, diakui oleh banyak instansi pemerintah, tak terkecuali badan international, pimpinan WHO, UNAIDS, berbagai LSM, dan juga miss Universe pernah berkunjung ke UPT HIV RSCM.

Hari AIDS sedunia yang tahun pada 1 Desember 2011 mengambil tema ‘Getting to Zerro’. Suatu tema yang amat penting untuk menyadarkan kita, tahun ini telah banyak bukti – data dan hasil penelitian ilmiah – yang secara signifikan menyampaikan kemajuan yang amat pesat di bidangpengobatan dan pencegahan.

Tema tersebut terdiri dari tiga upaya besar, yakni ;
1.Zero New HIV Infection. Penularan HIV dapat dihentikan secara total

Terdapat sebuah penelitian yang banyak menjadi rujukan pada konferensi AIDS Wina. Juli 2010, yaitu penelitian Deborah Donell, dkk. Penelitian ini dipublikasikan pada majalah Lancet (12 Juni 2010), dengan judul ‘Heterosexual HIV-1 transmission after initiation of ART; a prospective cohort analysis’. Odha yang minum ARV akan mengurangi penularan kepada pasangan heteroseksualnya sebanyak 92%. Penelitian ini juga menyimpulkan pentingnya memperluas, meningkatkan jumlah tes HIV, untuk selanjutnya diteruskan dengan pengobatan.
Institute Nasional Alergi dan penyakit Infeksi Amerika sejak april 2005 menyelenggarakan penelitian besar (HPTN 052). Penelitian ini mengikutsertakan 1.763 pasangan (97% pasangan heteroseksual) dari Sembilan Negara, yaitu Amerika, Botswana, Brazil, India, Kenya, Malawi, South Africa, Thailand dan Zimbabwe.

Pasangan itu terbagi dalam dua kelompok, kelompok pertama; kelompok yang segera mendapat pengobatan ARV setelah diketahui terinfeksi HIV. Sementara kelompok kedua; baru mendapat pengobatan ARV ketika CD4 sudah rendah, kurang dari 250 sel/mm³.
hasilnya amat mengejutkan, penularan HIV terjadi pada 27 pasangan seksual dari odha yang mendapat ARV ketika CD4 kurang dari 250 (877 pasang), dan hanya 1 orang yang tertular HIV untuk pasangan odha yang segera diobati setelah diketahui terinfeksi HIV, tanpa melihat jumlah CD4 nya. Sementara pengobatan ARV segera setelah didiagnosis mengurangi angka penularan 96%.

Perbedaan yang amat signifikan, sehingga penelitian yang dijadwalkan selesai tahun 2015, terpaksa dihentikan, agar adil dan semua odha yang diteliti, segera mendapatkan pengobatan ARV. Jadi, kita optimis, pengobatan ARV lebih dini, dapat mencegah penularan HIV sebesar 96%, bila dikombinasikan dengan upaya-upaya lain, misalnya upaya pencegahan penularan ibu HIV ke bayinya, dikombinasikan dengan sunat/sirkumsisi yang berhasil mencegah penularan HIV sebesar 58%, digabung dengan upaya pengobatan penyakit menular seksual, upaya pemakaian gel Tenofovir per vaginal, serta upaya structural untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatkan pendidikan masyarakat, memperjuangkan kesetaraan jender dan upaya perubahan perilaku Abstinensi, Be Faithful, Condom, No Drugs (ABCD), niscaya kita bisa mencegah penularan HIV secara total, sehingga tidak ada penularan baru HIV. Hasil penelitian terbaru HPTN 052 tersebut (ARV mengurangi penularan HIV sebesar 96%), disambut baik oleh WHO dan UNAIDS.

2. Zero AIDS Discrimination. Diskriminasi dapat dihilangkan

Ada beberapa hambatan dalam menghilangkan diskriminasi, antara lain masih banyak Negara di Asia dan Pasifik yang kebijakan pemerintah dan kemauan politik di bidang HIV/AIDS masih terkendala oleh keraguan, praduga, stigma diskriminasi terdapat populasi kunci, kriminalisasi pengguna narkotika dan masalah gender serta kekerasan perempuan.

Walaupun demikian, banyak kemajuan di Negara-negara Asia Pasifik yang membuat kita optimis dapat mencapai zero diskriminasi. Paling tidak saat ini sudah ada 18 negara di kawasan tersebut yang mempunyai undang-undang perlindungan odha terhadap diskriminasi dan 17 negara mengklaim menyediakan perlindungan untuk masyarakat populasi kunci.
Beberapa Negara, termasuk Indonesia sudah secara tegas meninggalkan kriminalisasi pengguna narkotika, walaupun penerapan peraturan baru ini belum memuaskan. Beberapa program HIV/AIDS nasional telah melangkah lebih lanjut untuk mengatasi masalah stigma dan diskriminasi, termasuk yang berasal dari kalangan kepolisian dan tenaga kesehatan. Beberapa negara seperti Vietnam dan India telah mencabut aturan perundangan yang negative dan beralih ke peraturan perundangan yang melindungi odha.

Masalah stigma dan diskriminasi, kadang muncul karena salah pemahaman mengenai cara penularan. Misalnya baru-baru ini ada sekolah yang menolak seorang anak masuk sekolah Karena khawatir anak tersebut menularkan HIV ke teman-temennya. Padahal si anak sendiri sudah dilakukan tes dan hasilnya negative.

3.Zero AIDS related death. Kematian karena AIDS dapat dicegah total

Standar memulai pengobatan ARV yaitu memulai ketika CD4 kurang dari 200 sel /mm³, telah diganti oleh WHO sejak dua tahun terakhir ini menjadi ARV lebih dini, ketika CD4 <350. Rekomendasi WHO yang baru ini terbukti mampu mengurangi angka kematian 75%, seperti yang telah dibuktikan pada penelitian 816 odha di Haiti yang hasilnya dipublikasikan di majalah kedokteran internasional New England Journal of Medicine tahun 2010; 363:257-265.

Pengobatan ARV yang lebih dini lagi dari yang dijelaskan diatas, yaitu sewaktu CD4 kurang dari 500, telah berhasil mengurangi angka kematian lebih jauh lagi, yaitu sebesar 25%. Kesimpulan ini diambil dari hasil penelitian kohor Europa, Australia dan Kanada. Ada 9.455 odha yang diteliti dari yahun 1996 sampai 2009. Hasil penelitian ini dipresentasikan di Konferensi International AIDS di Wina tahun 2010 oleh Jonsson Funk M, dkk.

Sekarang ini banyak sekali, ribuan odha yang hidup sehat dan produktif setelah minum ARV, di RSCM, RSK Dharmais, RS Kramat 128 dan rumah sakit lainnya. Bahkan terdapat odha yang mengkonsumsi ARV lebih dari 17,5 tahun yang tetap sehat dan produktif.

Jadi, beberapa tahun terakhir ini telah dicapai kemajuan pesat dalam pengobatan da pencegahan penularan HIV/AIDS serta meminimalkan stigma dan diskriminasi. Penularan HIV dapat dicegah secara total, menjadi nol. Stigma dan diskriminasi juga demikian. Kematian akibat AIDS juga dapat dihindari secara total yang didukung oleh bukti-bukti berdasarkan hasil penelitian. Sekarang ini makin banyak bukti baru yang sahih yang menunjukkan bahwa mengobati orang dengan HIV lebih baik dimulai sedini mungkin. Jika dahulu kita harus menunda pengobatan ARV sampai indikasinya jelas, maka wacana baru, paradigma baru adalah memulai pengobatan ARV sesegera mungkin. Dengan kata lain, evidence based medicine yang kuat ini memerlukan persiapan infra struktur yang baik sebelum diterapkan bahwa menunda pengobatan menyebabkan kematian.

Tahun 2011 merupakan tonggak sejarah kemajuan pengobatan penyakit HIV/AIDS. Pengobatan dini mencegah penularan 96%, nyaris seratur persen. Odha yang minum ARV teratur tidak menularkan HIV lagi. Kemajuan ini juga terlihat jelas di UPT HIV RSCM. Banyak odha yang sekarang ini hidup sehat, produktif setelah minum ARV secara teratur. Dan beberapa dari mereka sudah lebih dari 7 tahun mengkonsumsi ARV yang disediakan gratis oleh pemerintah.

Dikutip dari HALLO CIPTO
Edisi Desember 2011
Dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia

Infeksi HIV pada Anak

Pokdisus Aids

Oleh: dr. Nia Kurniati, SpA(K)

Menjelang hari AIDS dunia yang jatuh pada 1 Desember setiap tahunnya, selalu terjadi gempita pembicaraan mengenai HIV dan AIDS. Meskipun untuk yang mengelola pelayanan atau pasiennya hari AIDS ini belum tentu memiliki makna, ada baiknya kita memotret situasi infeksi HIV pada anak.

Anak-anak yang berumur < 13 tahun umumnya tertular HIV dari ibunya, baik saat dalam kandungan, proses persalinan dan kondisi seputar kehidupan tahun pertama. Berbeda dengan orang dewasa, virus HIV menyerang ketika sistim pertahanan atau imunitas bayi belum siap menerima serangan infeksi yang berat. Akibatnya kita dapat melihat gejala klinis yang jauh lebih buruk pada usia sangat muda, bahkan sebelum mencapai umur enam bulan. Meskipun terdapat layanan pencegahan yang dinamakan Program Pencegahan Transmisi dari Ibu ke Anak (dalam bahasa Inggris PMTCT) dan sudah terbukti mencegah nfeksi HIV pada anak, jumlah anak yang tertular per tahunnya di seluruh dunia masih tinggi. Menurut laporan UNAIDS (23 November 2010), sepanjang tahun 2009 diperkirakan sebanyak 370.000 anak-anak yang baru terinfeksi. Meskipun dikatakan menurun 24% dari lima tahun sebelumnya, tetap saja angka ini masih terlalu besar.

Hak Layanan Setara
Sesuai dengan tujuan Millenium Development Goal ke6, satu dasawarsa terakhir upaya layanan kesehatan untuk penderita HIV memberi harapan ke arah penguasaan epidemi. Berbagai program diluncurkan secara global seperti ‘3 by 5’ yang membuka akses untuk pengobatan antiretroviral (ARV). Indonesia tidak ketinggalan dalam upaya global ini karena sejak tahun 2000 jumlah penderita meningkat pesat, seiring dengan meningkatnya masalah penyalahgunaan obat narkoba suntik.
Populasi pengguna narkoba yang berada pada rentang usia reproduk tif aktif ini kemudian berkembang ke populasi lain yang sebelumnya dianggap tidak berisiko atau risiko rendah seperti pasangan dari pengguna narkoba ini dan anaknya. Khusus dalam penanganan kasus anak yang terinfeksi HIV, rediagnosis dan obat merupakan masalah sangat besar. Layanan diagnosis berbasis materi virus (PCR) baru dapat diakses oleh mereka yang mampu membayar. Obat yang dapat digunakan untuk anak terbatas baik jenis maupun sediaannya; hingga saat ini orangtua/pelaku rawat anak selalu harus berupaya sangat keras agar obat ARV berhasil diminum. Sebelum tahun 2008 ARV yang digunakan adalah sediaan obat dewasa yang dihancurkan menjadi puyer agar dapat diberikan pada anak-anak. Kesulitannya adalah pada bayi, kekuatan farmakologis obatnya tidak dapat lagi dipertanggungjawabkan mengingat dosis per bungkus puyernya dapat tidak sama.

Sejak tahun 2008 sudah terdapat satu sediaan yang mudah larut air sehingga pemberian untuk bayi menjadi lebih mudah dan memenuhi syarat terapetik. Pada anak yang sudah lebih besar (usia 6 – 7 tahun), pemberian obat tetap tidak menjadi lebih mudah. Selain sudah mengenal rasa (obat ARV rata-rata sangat pahit), juga ukuran pil yang besar menyebabkan kegagalan pemberian obat karena beberapa sediaan obat memang harus ditelan bulat-bulat dan tidak bleh dipuyerkan agar tetap efektif.

Masalah juga didapatkan pada pemberian obat untuk bayi baru lahir, bila kita berhadapan dengan bayi prematur, pemberian obat ARV proflaksis sebenarnya tidak ideal dan dapat membahayakan program. Oleh karena itu, dapat disimpulkan secara kasar bahwa pasien HIV bayi dan anak belum mendapat perhatian dari pengelola negara, karena dianggap tidak prioritas. Tetapi bila kita berada dalam semangat yang sama untuk menyukseskan MDG 5 dan 6, sebenarnya penyediaan obat ARV yang sesuai untuk anak adalah keharusan.

Hak Hidup dan Kembang Dibandingkan di negara lain, sebagian besar anak-anak tertular HIV di Indonesia masih diasuh keluarga dekat. Tetapi sebagian kecil sudah mulai dibuang dari keluarga. Pada beberapa kasus, selama orangtua kandung masih hidup, anak-anak ini masih dibawa berobat. Tetapi setelah orangtua kandung meninggal, belum tentu keluarga besar mau meneruskan tanggung jawab membesarkan anak. Akibatnya ada yang ditelantarkan, dititipkan pada orangtua angkat, dalam proses akan dibuang, atau disembunyikan di daerah lain karena sekarang terlihat sehat. Dalam kondisi normal, anak penderita HIV harus meminum obat sehari dua kali pada waktu yang sama dengan dosis yang benar. Hilangnya kontak dengan anak-anak pengidap HIV ini mengkhawatirkan, karena besar kemungkinan putus berobat. Secara langsung berarti akan meningkatkan angka kematian dan rendahnya angka retensi dalam program pengobatan. Secara tidak langsung adalah timbulnya resistensi sehingga ketika harus mendapatkan pengobatan kembali, obat lini kedua yang lebih tepat. Karena obat lini kedua lebih mahal, maka dana penyediaan obat menjadi meningkat.

Struktur masyarakat sekarang mungkin belum terbuka menerima anak-anak HIV, tetapi keterlibatan masyarakat yang mau mendukung keluarga yang terkena dampak HIV tentu sangat besar artinya. Apalagi bila angka bertahan hidup anak-anak ini menjadi bertambah baik, sebenarnya mereka layak untuk tetap hidup dan berkembang normal seperti yang tidak terinfeksi HIV. Jika struktur keluarga tidak lagi menopang kehidupan anak-anak ini, harus dicarikan penunjang sosial yang dapat menampung, dan tentu saja ini di luar jangkauan rumah-sakit.

HALLO CIPTO – Desember 2010

Akses Universal dan Hak Asasi Manusia dari Sudut Kesehatan Mental

Pokdisus Aids

Oleh: Dr. Kristiana Siste, SpKJ, Departemen Psikiatri  RSCM

“Realization of human rights and fundamental freedoms for all is essential element in the global response to HIV/AIDS pandemic”

Tn. A, berusia 24  tahun, berobat ke Pokdisus RSCM sejak tahun 2009. Saat kontrol terakhir, Tn. A mengeluh rasa bersalah. Rasa bersalahnya timbul karena ia merasa membiarkan tetangganya yang juga mengalami AIDS tidak berobat lagi. Tn. A merasa keadaanya membaik setelah ia berobat secara rutin ke Pokdisus. Tn. A terpaksa membiarkan tetangganya tidak lagi berobat karena ia takut masyarakat akhirnya mengetahui bahwa ia juga mengalami AIDS. Tn. A sengaja menyembunyikan penyakitnya karena ia merasa masyarakat akan mempersulitnya untuk pergi berobat dan  juga beraktivitas di masyarakat, termasuk dalam bekerja. Tn. A berjualan nasi goreng setiap harinya di depan sekolah setempat. Ia menceritakan temannya yang mengalami AIDS mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan saat berobat ke Puskesmas. Tn. A juga takut keluarganya akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat. Tn. A mengalami dilema apakah suatu hal yang benar bila ia memberitahukan bahwa dirinya mengalami AIDS ke masyarakat. Di akhir pertemuan Tn.A bertanya “siapa yang harusnya memperjuangkan hak saya dok bahwa saya juga manusia sama seperti yang lain, yang berhak mendapatkan pengobatan dimanapun dengan layak???

Setiap tanggal 1 Desember, dunia memperingati hari AIDS. Tn. A menaruh harapan besar pertanyaannya bisa terjawab pada hari AIDS sedunia tahun ini.  Pada tahun ini Negara kita kembali berkomitmen untuk meningkatkan akses universal dan hak asasi manusia bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Komitmen tersebut terkait dengan tema global hari AIDS sedunia yang kembali mengangkat tema “Akses universal dan Hak asasi manusia (Universal Acess and Human Right)”.  Pemerintah Indonesia menterjemahkannya dalam subtema  Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua Guna Menekan Laju Epidemi HIV di Indonesia menuju tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs).

Mengapa akses universal dan hak asasi manusia begitu penting?

Sampai saat ini orang yang telah terinfeksi HIV di seluruh dunia mencapai 60 juta orang dan 25 juta di antaranya telah meninggal dunia (UNAIDS, 2009). Kenyataan tersebut menegaskan bahwa kini AIDS telah mencatat sejarah sebagai salah satu epidemi yang paling membahayakan jiwa manusia dimana 7.400 orang terinfeksi HIV tiap harinya.. Di Indonesia, secara kumulatif sejak tahun 1987, kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 21.770 dan 4.128 di antaranya telah meninggal dunia (Kemkes, Juni 2010). Perkembangan epidemi HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di wilayah Asia. Berdasarkan permodelan epidemik, jika pada tahun 2008 di Indonesia jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS tercatat mencapai 277.700 orang, maka jumlah itu akan mencapai dua kali lipatnya pada tahun 2014, yaitu berjumlah 501.400 orang. Pada kenyataannya orang yang hidup dengan HIV/AIDS(ODHA) tidak hanya memiliki masalah dari segi fsik saja namun juga banyak studi  telah memperlihatkan bahwa mereka mengalami peningkatan kerentanan gejala putus asa dan rasa bersalah (Thompson et al.,1997), ansietas dan gangguan penyesuaian (Holmes et al.,1997; Rabkin et al.,1997). Diagnosis tersering pada populasi HIV seropositif adalah gangguan depresi dengan angka prevalensi antara 40%-60% (Dew et al.,1997; Fleishman dan Fogel,1994, Gallego,2000).

Data di RSCM menunjukkan dari 100 ODHA terdapat 68% dengan gangguan depresi, 41% dengan gangguan cemas menyeluruh, 7% dengan gangguan panik dan 6 % dengan gangguan psikotik (Wibowo A, 2004). Adanya gangguan psi kiatri pada penderita HIV/AIDS secara umum berkaitan dengan fungsi dan kualitas hidup yang lebih buruk (Vosvick et al.2003).  Isu yang penting yang terkait dengan ODHA adalah diskriminasi dan stigmatisasi secara sosial. diskriminasi dan stigmatisasi ini membuat mereka kehilangan pekerjaan, rumah dan status sosial. Terlebih lagi mereka kehilangan akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Saat ini hampir setengah ODHA adalah perempuan, sedangkan diskriminasi gender masih nyata dirasakan. Ibu rumah tangga merupakansalah satu populasi berisiko untuk mengalami HIV, namun dari segi prioritas kesehatan, perempuan bukanlah yang diutamakan. ODHA yang mengalami masalah psikologis merasakan stigmatisasi dua kali lebih besar. Hal ini menyebabkan mereka enggan untuk mengungkapkan masalah psikologis yang mereka alami. Masalah psikologis yang dibiarkan akan secara nyata mempengaruhi kepatuhan berobat mereka dalam mengkonsumsi antiretroviral (ARV). 95% resistensi ARV disebabkan karena kepatuhan berobat yang buruk.

Masalah psikologis yang dialami oleh ODHA juga sering tidak terdeteksi oleh  petugas kesehatan. Isu yang berkembang ini dapat diminimalisasi dengan adanya suatu sistem yang terpadu dimana ODHA dapat mengaksesnya dengan lebih mudah. Sistem layanan terpadu ini mengikutsertakan semua disiplin ilmu yang terkait dalam layanan ODHA baik secara fsik dan psikis. Layanan terpadu ini juga dapat mengurangi rasa terstigma pada ODHA saat mereka harus mengatakan adanya masalah psikologis pada diri mereka. Sejak pertama kali mereka mengakses layanan, mereka dilayani oleh tim terpadu yang mengevaluasi secara fsik dan psikologis. Bentuk layanan terpadu dengan model seperti ini yang sedang dirintis oleh Pokdisus RSCM.

Minimalisasi diskriminasi dan stigmatisasi sosial dapat dicapai melalui komitmen kita untuk meningkatkan akses universal yang merupakan komitmen global dengan memberikan kemudahan akses dalam pencegahan, pelayanan dan dukungan pada orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

Konseling HIV/AIDS

Pokdisus AidsOleh: Kurniawan Rachmadi, SKM, MSi

Supevisor Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian UPT HIV RSCM

Konseling merupakan salah satu proses yang harus dilakukan sebelum seseorang memutuskan untuk test anti-HIV. Pengertian konseling adalah: hubungan kerjasama yang bersifat menolong antar dua orang (konselor dan klien) yang bersepakat untuk :

  1. Bekerja sama dalam upaya menolong klien agar dapat menguasai permasalahan dalam hidupnya.
  2. Berkomunikasi untuk membantu mengidentifkasi problem-problem klien
  3. Terlibat dalam proses yang menyediakan pengetahuan keterampilan, dan akses terhadap sumber- sumber
  4. Membantu klien mengubah sikap/ presepsi yang negatif terhadap problemnya, sehingga klien dapat mengatasi kekuatirannya dan memutuskan apa yang akan ia lakukan dengan permasalahan yang dihadapinya.

Konseling HIV/AIDS adalah konseling yang secara khusus memberi perhatian terhadap permasalahan yang berkaitan dengan HIV/AIDS, baik terhadap orang yang terinfeksi maupun terhadap lingkungan yang terpengaruh. Tujuan dari dilakukannya konseling HIV/AIDS agar tersedianya dukungan sosial dan psikologik kepada odha dan keluarganya. Selain itu juga terjadinya perubahan perilaku yang aman sehingga penurunan penularan infeksi HIV/AIDS.

Konseling HIV/AIDS biasanya dilakukan dua kali, yaitu: sebelum tes (pra-test) atau sesudah tes (Pasca test) HIV/AIDS. Selama konseling berlangsung biasanya ada beberapa topik yang di bicarakan. Di antaranya:

  • Identifikasi prilaku yang berisiko tertular HIV/AIDS.
  • Membantu membuat keputusan untuk merubah perilaku itu.
  • Mengganti dengan perilaku perilaku yang berisiko lebih rendah/ aman serta mempertahankan perilaku itu.
  • Membantu klien untuk mengambil keputusan untuk melakukan tes HIV, dengan membuat pernyataan persetujuan (informed consent), tanpa paksaan dan bersifat rahasia (confidentiality).

Bila klien memutuskan untuk memeriksakan diri, ia perlu disiapkan untuk menghadapi hasil yang akan diterimanya. Ada tiga kemungkinan hasil yang akan terjadi:

1. Hasil tes negatif dan bukan dalam periode jendela,

  •  Jelaskan bahwa ini bukan berarti bebas HIV seumur hidup hingga boleh berperilaku apapun.
  • Andaikata ada prilaku berisiko tinggi, perlu merubah perilaku tersebut, menjadi lebih aman dan dipertahankan seumur hidup sesuai dengan pilihan A (abstinence), B (Be Faithful), C (Condom) atau kombinasi demi pencegahan HIV.

2. Hasil tes negatif dalam periode jendela

  • Perlu mengulang tes untuk 3 bulan kemudian, untuk kepastianstatus HIV-nya.
  • Sudah harus merubah perilaku risiko tingginya, sesuai pilihan A,B, C atau kombinasi.

3. Hasil tes positif

  • Perhatikan reaksi klien saat menerima hasil tes, konselor perlu berempati
  • Jelaskan bawa positif bukan berarti mati.
  • Rujukan untuk dukungan dan pengobatan.
  • Jaminan kerahasiaan.
  • Kemungkinan memberitahu pasangan.
  • Merubah perilaku berisiko tingginya berdasarkan pilihan A, B, C, atau kombinasinya.

Meskipun program konseling dan tes secara sukarela telah dilaksanakan sejak tahun 1994, namun pada kenyataannya di lapangan cakupannya masih sangat rendah. Tahun 2010 ini diperkirakan ada 300.000 orang di Indonesia telah terinfeksi HIV/AIDS. Sayangnya baru sekitar 30.000 orang yang mendapatkan pengobatan. Mengapa hal seperti itu bisa terjadi?

Untuk meningkatkan cakupan Program Dukungan, Perawatan dan Pengobatan di HIV/AIDS Indonesia, pemerintah telah mensosialisasikan kebijakan baru Provider Initiative Test and Counseling (PITC). Diharapkan dengan informasi dan anjuran dari petugas kesehatan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri semakin meningkat. Sehingga diharapkan secara langsung maupun tidak langsung akan terdeteksi lebih awal.

Bila seseorang terdeteksi lebih awal maka kita bisa mencegah kematian dan juga tidak perlu mengalami infeksi oportunistik. Terlebih lagi perubahan kebijakan ini, akan mendukung kebijakan Access for All yang dikeluarkan WHO. Semoga dengan semakin ditingkatkannya fasilitas dan sarana yang ada, Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM mampu melaksanakan kegiatan tersebut.

HALLO CIPTO – Desember 2010

Seputar TB-HIV

Pokdisus AidsOleh: Dr. Anna Uyainah ZN, SpPD, K-P, MARS , Divisi Pulmonologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI-RSCM

Saat ini jumlah penderita HIV sangat meningkat. Indonesia merupakan negara yang mempunyai peningkatan jumlah pasien HIV cukup tinggi. Disamping itu Indonesia merupakan negara endemis dalam penyakit Tuberkulosis. Mudahnya penularan TB pada pasien HIV menyebabkan pasien TB-HIV di Indonesia semakin meningkat. Demikian juga di RSCM jumlah pasien TB-HIV semakin meningkat. Diketahui bahwa Tuberkulosis merupakan infeksi oportunistik terbanyak pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) , dan Tuberkulosis merupakan penyebab kematian tertinggi.

Dalam upaya menurunkan TB pada pasien HIV dan infeksi HIV pada pasien TB perlu dilakukan penanganan dan pencegahan secara bersama, berkolaborasi dengan pihak terkait. Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2010 ini mempunyai tema “Akses Universal dan Hak Asasi Manusia” , sub tema “Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua Guna Menekan Laju Epidemi HIV di Indonesia”, dan slogan “ STOP AIDS: Tingkatkan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua”.

Dalam penatalaksanaan TB HIV sejak penemuan dini atau diagnosis sampai pengobatan , sarat dengan pendidikan baik bagi dokter, petugas kesehatan lainnya, pasien, keluarga dan masyarakat. Untuk penemuan dini TB pada orang dengan HIV-AIDS (ODHA) lebih sulit dibandingkan penemuan dini pasien TB pada umumnya. Pada ODHA, kecurigaan adanya TB lebih sering ditemukan adanya demam yang lama dan penurunan berat badan yang drastis. Sedangkan batuk lama bukan merupakan gejala yang umum. Pada pemeriksaan foto toraks juga berbeda dengan pasien TB umumnya. Pada ODHA gambaran foto toraks tidak spesifk, tergantung beratnya infeksi HIV. Pada ODHA yang mempunyai nilai CD4 lebih dari 350 gambaran foto toraks mungkin sama dengan gambaran TB pada umumnya yaitu terdapatnya infltrat pada lapangan atas paru, sedangkan pada infeksi HIV yang lebih berat dimana CD4 kurang dari 350 gambaran foto toraks tidak spesifk, dimana gambaran infltrat bukan dilapangan atas paru tetapi dapat dibagian tengah atau basal paru. Untuk pemeriksaan BTA pada sputum, pada TB HIV lebih sering tidak ditemukan BTA dalam sputum atau BTA negatif. Semakin lanjut infeksi HIV semakin dominan BTA negatif.

Untuk penemuan HIV pada penderita TB, saat ini lebih berpeluang, karena petugas kesehatan direkomendasi untuk memotivasi pasien yang mempunyai gejala terinfeksi HIV (PITC = Provider-Initiated Testing and Counseling), tidak lagi menunggu permintaan pasien dengan sukarela (VCT = Voluntary Counseling and Testing). Sesuai Penanganan TB dengan Standar International (ISTC = International Standard for TB Care) test HIV pada pasien TB harus segera dilakukan apabila pasien mempunyai gejala terinfeksi HIV, pasien tinggal didaerah yang mempunyai prevalensi HIV tinggi dan pasien yang mempunyai risiko tinggi terinfeksi HIV karena pekerjaannya dan karena hal lainnya.

Untuk mendiagnosis TB pada ODHA atau mendiagnosis HIV pada pasien TB perlu ditingkatkan pengetahuan para petugas kesehatan baik dokter yang menangani pasien langsung, dokter yang melakukan pemeriksaan penunjang dan petugas kesehatan terkait lainnya. Disamping itu pendidikan juga perlu diberikan kepada pasien dan keluarganya serta masyarakat agar penemuan kasus lebih cepat dan pengobatan dapat diberikan segera sehingga dapat menurunkan mortalitas. Pengobatan pada pasien TB-HIV pada prinsipnya sama dengan pasien TB umumnya. Untuk kasus TB yang belum pernah mendapat OAT diberikan OAT kategori 1 dan untuk kasus TB yang sudah pernah mendapat OAT, kasus kambuh, kasus gagal terapi dan kasus putus obat diberikan OAT kategori 2. Untuk kategori 1 diberikan 2RHZE/4RH dan kategori 2 diberikan 2RHZES/1RHZE/5RHE. Namun pada pasien TB-HIV sering ditemukan reaksi obat baik OAT maupun ARV. Reaksi obat tersebut dapat berupa alergi, efek samping dan interaksi OAT dan ARV.

Apabila reaksi obat terjadi, maka pengobatan dapat dihentikan dulu atau dilakukan penurunan dosis dan disesuaikan setelah kondisi membaik. Sehubungan dengan reaksi obat tersebut seringkali pasien dengan TB-HIV mempunyai waktu pengobatan lebih panjang atau pasien berhenti berobat sebelum selesai waktunya. Perlu diperhatikan bahwa TB pada ODHA perlu dimasukkan dalam kecurigaan MDR-TB ( Multi Drug resistant), karena infeksi HIV merupakan salah satu faktor risiko MDR-TB. Saat ini MDR-TB sudah merupakan ancaman di dunia dan juga di Indonesia. Diharapkan semua petugas kesehatan secara bersama-sama mengupayakan mencegah meningkatnya MDR-TB.

Dalam pengobatan TB-HIV ini memerlukan pengetahuan yang lebih dibanding pengobatan TB tanpa infeksi HIV. Untuk itu diperlukan peningkatan pengetahuan bagi dokter yang menangani pasien serta petugas kesehatan terkait. Sebaiknya pengetahuan tersebut juga diketahui oleh pasien TB-HIV, dan keluarganya serta masyarakat. Semoga melalui Hari AIDS Sedunia tahun 2010 ini, Indonesia dapat meningkatkan akses pendidikan TB-HIV untuk semua baik dokter, petugas kesehatan lainnya dan masyarakat, sehingga dapat menekan Laju Epidemi HIV di Indonesia.

HALO CIPTO DESEMBER 2010

GIZI PADA ODHA

Pokdisus Aids

Fitri Hudayani, SST

Instalasi Gizi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

Zat gizi di dalam makanan kebutuhannya tergantung pada bagaimana makanan dimanfaatkan untuk pertumbuhan, reproduksi, dan pemeliharaan kesehatan. Makanan mengandung zat gizi yang berbeda antara lain mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang masing – masing bahan makanan memiliki nilai yang berbeda sesuai dengan kelompoknya. Bahan makanan dengan zat gizi yang baik dan seimbang diperlukan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) untuk mempertahankan, meningkatkan fungsi sistem imun dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi, dan menjaga ODHA tetap aktif dan produktif menjalani hidupnya. Ketika HIV menyerang seseorang, maka kekebalan tubuh alami untuk melawan penyakit dan kuman akan memburuk. Ketika system kekebalan tubuh ODHA melemah, maka kuman mengambil keuntungan dari keadaan ini yang dapat menyebabkan penyakit pada penderita seperti demam, batuk, gatal, diare kronik, pneumonia, TBC, dan sariawan.

Waktu yang dibutuhkan HIV menjadi AIDS tergantung kepada status kesehatan dan status gizi penderita sebelum dan selama terinfeksi oleh virus. Banyak penderita yang hidup dengan virus antara 10 tahun atau lebih jika mereka mampu menjaga kondisi dan keseimbangan gizi untuk dirinya. Jika seorang ODHA mempunyai status gizi yang baik, maka daya tahan tubuh akan lebih baik sehingga memperlambat memasuki tahap gawat AIDS (acquired immune deficiency syndrome).

Sumber : A Guide for Nutritional Care and Support, 2004

Kebutuhan gizi pada ODHA berbeda – beda sesuai dengan kondisi individu dan perkembangan penyakitnya. Kebutuhan energi meningkat sekitar 10 sd 30 % dari kebutuhan normal, untuk kebutuhan protein berkisar antara 1,5 sd 2 gram/kg berat badan, sedangkan kebutuhan lemak dan karbohidrat normal. Pemenuhan kebutuhan gizi dapat didapat dari makanan yang sehari – hari dikonsumsi oleh ODHA.

Konsumsi makanan dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan sangat diperlukan untuk menunjang kesehatan, pertahanan tubuh dan mempertahankan berat badannya agar tidak turun drastis. Tetapi pada kenyataannya hal tersebut tidaklah mudah, ada beberapa hal yang menyebabkan jumlah makanan yang dikonsumsi tidak sesuai kebutuhan. Beberapa masalah makan biasanya ditemui antara lain menurunya nafsu makan, berubahnya pengecapan, sariawan, dan lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan beberapa usaha, antara lain :
1. Konsumsilah makanan yang padat gizi, misalnya susu, jus kacang hijau, es krim, roti isi, makanan yang ditambahkan margarine, alpukat dan kacang – kacangan dan hasil olahannya.
2. Konsumsilah makanan dalam porsi kecil dan sering terutama apabila dalam kondisi mual dan tidak nafsu makan.
3. Makanan utama dalam bentuk makanan padat dan tinggi kalori, misalnya krim sup, sereal dengan susu, ikan goreng tepung, sup ayam.
4. Makanan rendah kalori ditaruh diakhir sajian/setelah makan, misalnya buah, minuman manis, agar – agar.
5. Makanlah secara perlahan dan santai serta ciptakannya suasana yang menyenangkan saat makan.
Bahan makanan yang dianjurkan antara lain :
6. Daging, ikan, ayam, dan telur sebagai sumber lauk hewani.
7. Kacang – kacangan dan produk olahannya karena mengandung energi dan protein untuk memenuhi kebutuhan gizi.
8. Tempe dan produknya, selain tinggi protein dan vitamin B12 tempe juga mengandung bakterisida yang dapat membantu mengatasi dan mencegah diare.
9. Kelapa dan produk olahannya yang dapat membantu memenuhi kebutuhan lemak sekaligus sebagai sumber energi. Kelapa juga sebagai sumber MCT (medium chain trygliserida) yang mudah diserap.
10. Sayur – sayuran berwarna seperti wortel, daun – daunan, kacang panjang dan buncis yang mengandung zat dan vitamin peningkat daya tahan tubuh dan sebagai anti radikal bebas.
11. Buah – buahan untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin.
12. Makanan dalam bentuk matang.
13. Air masak, bersih dan aman.
14. Jagalah kebersihan makanan dan alat makan yang digunakan.
Bahan makanan tidak dianjurkan adalah :
15. Bahan makanan yang menimbulkan gas, seperti ubi, kol, sawi, nangka, duarian.
16. Makanan yang terlalu berlemak, seperti santan kental, daging berlemak, jeroan, gorengan. Makanan yang terlalu berlemak akan akan menambah rasa mual terutama jika keluhan tersebut sedang dialami.
17. Makanan dengan bumbu yang merangsang, misalnya cabe, lada dan cuka.
18. Bahan makanan mentah seperti lalapan.
19. Makanan yang kurang masak seperti sate, telur setengan matang, stik daging.
20. Minuman bersoda dan beralkohol.

Contoh menu dalam sehari :
Pagi Nasi
Omelet
Setup Wortel
Susu
Pukul 10.00 Jus kacang hijau
Siang Nasi
Ikan bumbu kuning
Tempe bumbu tomat
Sup Sayuran
Jus Melon
Pukul 16.00 Puding buah
Malam Nasi
Daging semur
Tahu goreng
Sayur bening bayam
Pisang
Pukul 21.00 Biskuit