RENUNGAN AKHIR TAHUN 2012

“Paradigma Baru Dalam Pembiayaan Kesehatan”

Rencana penerapan sistem pembiayaan kesehatan yang baru oleh pemerintah Indonesia dengan menerapkan BPJS memiliki dampak yang cukup luas. Meskipun telah disahkan oleh Pemerintah dengan UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS pada tanggal 25 November 2011. BPJS pada pelaksanaannya akan dibagi menjadi dua, yaitu: BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan akan dikelola oleh Askes, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan akan dikelola oleh Jamsostek. BPJS Kesehatan nantinya akan menyelenggarakan program jaminan kesehatan. BPJS Ketenagakerjaan akan menyelengarakan jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiunan, dan jaminan kematian.

Penerapan UU No. 24 tahun 2011 ini masih menimbulkan keraguan dari berbagai pihak yang akan terlibat. Perbedaan visi dan pemahaman dari berbagai pihak yang terlibat masih terlihat. Baik itu dari pemerintah (Kementerian Kesehatan), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA), Asosiasi Rumah Sakit Swasta Seluruh Indonesia (ARSSI), dan Industri Farmasi. Sementara penerapan BPJS segera akan dilaksanakan pada 1 Januari 2014. Masyarakat Indonesia berharap sistem jaminan kesehatan yang baru akan dapat meningkatkan upaya pemeliharaan kesehatan serta akses ke layanan kesehatan. Namun sebagian masyarakat belum memahami konsep & kebijakan sistem jaminan sosial kesehatan yang akan diterapkan pada 1 Januari 2014.

Sehubungan dengan hal diatas, PDPAI & UPT HIV RSCM akan mengadakan acara Renungan Akhir Tahun 2012 yang bertema Paradigma Baru Dalam Pembiayaan Kesehatan. Acara tersebut akan dilaksanakan pada:
Hari & Tanggal : Senin, 31 Desember 2012
Waktu : 09.30 – 12.00 WIB
Tempat : Unit Pelayanan Terpadu HIV, (Pokdisus AIDS)
Gedung URJT RSCM lantai.4

Atas perhatian yang telah diberikan dan kehadirannya kami mengucapkan terima kasih.
Hormat kami,

Prof.Dr.dr.Samsuridjal Djauzi, SpPD KAI
Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia

Prof. dr. Zubairi Djoerban SpPD,.KHOM.
Manajer Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM

______________________________________________oOo____________________________________________________

SUSUNAN ACARA
Renungan Akhir Tahun 2012

09.30 – 10.00 Pendaftaran
10.00 – 12.00 Presentasi dan Diskusi

TOPIK DAN PEMBICARA :
1.Kebijakan Pembiayaan Kesehatan PT. ASKES Dalam Rangka Menyongsong Penerapan SJSN
Bapak Dr. Gede Subawa ( Direktur Utama PT. Askes )

2.Mengenal Lebih Dalam Kartu Jakarta Sehat (KJS)
Ibu Drg. Yudita (Direktur UP. Jamkesda Dinas Kesehatan DKI)

3.Pembiayaan Kesehatan Untuk Odha, Harapan & Tantangan
Prof.Dr.dr.Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI (Ketua PDPAI)

MODERATOR:
Prof. dr. Zubairi Djoerban, SpPD.,KHOM

INFORMASI LEBIH LANJUT BISA MENGHUBUNGI :
(021-3162788/94325517/92772335,Sdr.adi)
EMAIL ; pokdisus.rscm@gmail.com

Meningkatkan Tes HIV dan Terapi ART di Indonesia

Pengobatan dengan ART amat bermanfaat

Sewaktu epidemi HIV/AIDS memasuki dekade ke empat, babak baru strategi penanggulangan yang komprehensif pun dimulai. Strategi baru sekarang ini cukup menjanjikan, memberikan banyak harapan untuk meningkatkan hasil pengobatan, kualitas layanan dan dukungan dan sekaligus bermanfaat maksimal dalam pencegahan penularan HIV. Strategi baru ini dinamakan “Test and Treat”.

Sekilas sejarah perjalanan panjang pengobatan HIV/AIDS

Sekilas sejarah perjalanan panjang pengobatan HIV/AIDS dimulai sejak 1981 sewaktu pertama kali kasus AIDS dilaporkan. Bahasan ini penting, karena perkembangan dalam pengobatan mempengaruhi bentuk kebijakan yang diambil, misalnya mengenai kebijakan VCT (Voluntary Counseling and Testing).

Sesuai dengan perkembangan kemajuan pengobatan, kemudian kebijakan tersebut diganti dengan PITC, kemudian lagi diganti dengan “Test and Treat”. Pada awal epidemi AIDS, pengobatan ditujukan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi oportunistik dan kanker yang menyertai penyakit AIDS. Selain itu, pengobatan dukungan untuk membantu Odha menanggulangi berbagai masalah psikologis dan sosial juga menjadi pilar utama pengobatan.

Pengobatan pneumonia P carinii dengan kotrimoksasol atau pentamidin menjadi penting sekali. Berikutnya adalah pengobatan untuk mengatasi infeksi jamur dengan ketokonasol, flukonasol sampai itrakonasol, juga pengobatan sarkoma kaposi dengan khemoterapi. Odha (orang dengan HIV/AIDS) hanya bisa bertahan 6 bulan sampai 2 tahun, untuk kemudian meninggal.

Era berikutnya adalah era obat anti retroviral (ART), yang dimulai dengan pengobatan memanfaatkan zidovudin sebagai obat tunggal, beberapa tahun kemudian ditemukan lamivudin, dan terbukti kombinasi zidovudin dan lamivudin memberikan hasil yang lebih baik daripada obat tunggal. Di awal era ART, hanya Odha yang sudah dalam tahap lanjut, tahap AIDS yang boleh diberikan pengobatan.

Kemudian semakin disadari mengobati dengan ARV sebelum gejala AIDS muncul hasilnya lebih baik, yaitu sewaktu jumlah CD mulai kurang dari 200 sel/mm3. Manfaat pengobatan kombinasi 3 obat ARV/ART /HAART (Anti Retro Viral Therapy/Highly Active Anti Retro viral Therapy) semakin jelas menekan angka kematian dan angka kesakitan.

Sekarang ini banyak sekali Odha di Indonesia yang tetap sehat dan produktif setelah mengkonsumsi ARV selama lebih dari 10 tahun, bahkan ada yang telah minum ARV selama lebih dari 18 tahun. RS. Cipto Mangunkusumo awal bulan Juni 2011 telah mengobati ARV pada 5.414 orang dengan HIV/AIDS. Setiap hari yang berobat lebih dari 100 orang, bayi dan anak yang mengakses ARV lebih dari 220 setiap bulan.
Botswana 2004, mengobati ARV menekan angka kematian, menekan penularan ke bayi. Tes HIV rutin.

Bagaimana dengan Afrika, yang mempunyai kasus HIV terbanyak di dunia? Pada tahun 2004, Sheila Tlou menteri kesehatan Botswana gundah gulana. Setiap hari, selalu saja ada rakyatnya yang meninggal. Ini bukan kisah khayal seorang raja di negara antah berantah, yang diserang pageblug (wabah) ribuan tahun yang lalu. Peristiwa ini benar-benar terjadi, baru 7 tahun yang lalu. Harapan hidup rakyat Sheila turun drastis, bahkan yang perempuan tidak mencapai 50 tahun. Beberapa orang yang meninggal sempat tes darah HIV, ternyata penyebab kematian rakyatnya adalah AIDS. Bagaimana mungkin. Laporan di mejanya selalu menyebutkan jumlah Odha (orang dengan HIV/AIDS) di negaranya, Botswana, hanya 5.000 orang.

Botswana adalah sebuah negara dengan penduduk 1,815,508 orang. Terletak di sebelah utara Afrika Selatan. Sebagian besar rakyatnya pemeluk agama Kristen (71.6%). Negara bekas protektorat Inggris ini merdeka tahun 1966. Merupakan salah satu Negara penghasil intan berlian dengan Gross Domestic Product 10.900 dolar per kapita per tahun, dua kali lebih besar dari GDP negara kita tercinta.
Sheila Tlou tidak mau berpeluk tangan. Obat AIDS (ARV) tersedia gratis di negaranya, Odha yang minum ARV terlihat sehat, bekerja normal bahkan produktif, lah kok banyak sekali yang meninggal. “Something must be wrong, very wrong”. Akhirnya ia sadar, ada jurang lebar antara estimasi, prakiraan jumlah Odha di negerinya 350.000, bandingkan dengan jumlah Odha yang dilaporkan hanya 5.000 orang.
Begitu banyak yang meninggal karena AIDS rasanya tidak masuk akal dengan tersedianya stok ARV di gudang obat Botswana. Banyak negara maju sedang euphoria, karena Odha tertolong, tidak meninggal karena minum ARV. Penjelasan satu-satunya rakyat Botswana meninggal sebelum sempat mengkonsumsi obat ARV, dan memang benar demikian.

Logika sehatnya berjalan baik. Kebijakan VCT (voluntary counseling and testing), tes HIV yang dijalankan dinegerinya ia nyatakan gagal. Semua rakyatnya, tanpa kecuali harus tes HIV, siapa yang positif, Bu Menteri Kesehatan menyediakan layanan kesehatan yang komprehensif, termasuk obat ARV dan obat tbc (tuberculosis) gratis. Nah, mungkin itu yang disebut sebagai pemimpin yang mempunyai leadership.
Itu kejadian 8 tahun yang lalu. Sekarang bagaimana hasilnya? Ternyata angka kematian turun drastis. Penularan dari ibu HIV ke bayinya menurun amat meyakinkan. Sekarang ini seluruh pimpinan negara Botswana masih bekerja keras untuk mengatasi ledakan jumlah pasien yang berobat ARV. Dari 5.000 menjadi lebih dari 100.000 orang yang saat ini mendapat pengobatan ART. Jadi, benar sekali bahwa kematian yang begitu banyak terjadi sebelum tahun 2004, ternyata “preventable death”, kematian yang dapat dicegah.

Badan Kesehatan Dunia WHO: mulai ARV ketika CD4 mulai turun dari 350

Standar memulai pengobatan ARV yaitu memulai ketika CD4 kurang dari 200 sel/mm3, telah diganti oleh WHO sejak setahun terakhir ini menjadi memulai ARV lebih dini, ketika CD4 < 350. Rekomendasi WHO yang baru ini terbukti mampu mengurangi angka kematian 75%, mampu menekan angka kejadian tbc pada Odha sebesar 50%. Penelitian dikerjakan pada 816 Odha di Haiti pada tahun 2005 sampai tahun 2008. Hasilnya dipublikasikan di majalah kedokteran internasional New England Journal of Medicine tahun 2010;363:257-265.

Di penelitian tersebut, Odha dibagi 2 kelompok, yaitu kelompok pengobatan dini dan kelompok pengobatan standar, yaitu memulai ARV ketika CD4 sudah kurang dari 200. Adapun kelompok pengobatan dini, memulai pengobatan ARV ketika CD4 antara 200 -350, tanpa riwayat gejala AIDS, sewaktu Odha masih sehat, berat badannya belum turun, tanpa sariawan maupun diare, tanpa panas batuk, tanpa gejala. Obat ARV yang diberikan adalah Duviral dan Efavirenz. Hasil penelitian adalah mengobat ARV ketika CD masih 200-350 berhasil mengurangi angka kematian 75%.

Negara maju mulai ARV ketika CD4 kurang dari 500

Pengobatan ARV amat dini, CD4 100,000 kopi/mL. Untuk Odha dengan CD4 lebih dari 500, panel ahli di Amerika terbagi dua, 50% berpendapat perlu mulai saja ARV, sedangkan 50% para ahli yang lain berpendapat opsional, boleh mulai ARV, boleh ditunda. (http://aidsinfo.nih.gov/contentfiles/AdultandAdolescentGL.pdf.)

SIMPOSIUM : MENINGKATKAN PERAN RS. SWASTA DALAM UPAYA PENANGGULANGAN HIV DI INDONESIA

Hari/Tanggal : Selasa, 14 Pebruari 2012
Pukul : 08.30 s.d 13.30 wib
Tempat : Aula FKUI Jakarta


SUSUNAN ACARA

07.30 – 08.30 Registrasi & Pembukaan

PLENARY LECTURE
MODERATOR : Prof.Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI
08.30 – 09.00 Meningkatkan Testing dan Terapi HIV di Indonesia
( Prof.dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM )

SESI I
MODERATOR : Dr. Setiawan Soeparan, MpH
(Direktorat Farmasi Kemenkes)
09.00 – 09.20 : Peran RS. Kramat 128 dalam Layanan Terapi ARV
( dr. Dyah A Waluyo )
09.20 – 09.40 : PMTCT di RS. Budi Kemuliaan, Batam
( dr. Danang Legowo,SpPD )
09.40 – 10.00 : Penatalaksanaan Koinfeksi Hepatitis pada HIV
di RS Primer Bintaro
( Dr.dr. Rino Alvani Gani, SpPD, KGEH )
10.00 – 10.30 : D i s k u s i
10.30 – 11.00 : Coffee Break

SESI II
MODERATOR : Dr. Tony Wandra, MKes, PhD (P2MPL)
11.00 – 11.20 : Testing dan Terapi HIV di Lembaga Pemasyarakatan
( dr. Finnahari )
11.20 – 11.40 : Meningkatkan Survival Rate Perawatan HIV di
Papua dan Papua Barat
( Prof.Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI / Max )
11.40 – 12.00 : Hasil-hasil penting Simposium HIV di Bangkok XIII
( Dr.dr. Evy Yunihastuti, SpPD, KAI )
12.00 – 12.30 : D i s k u s I
12.30 – 12.40 : Rangkuman dan Langkah ke Depan
( Prof.dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM )
12.40 – 13.40 : Sholat dan Makan Siang

Contact Person
; Ekki, Iin, Tini (021) 3162788, 3141160, 3904546, Layanan SMS ; 087889223345

e-mail ; pokdisusaids@gmail.com, alergi@centrin.net.id

PEER TO PEER TRAINNING

Berbagai hasil penelitian di bidang pencegahan dan terapi infeksi HIV memberi harapan bahwa infeksi HIV akan dapat dikendalikan dan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) akan menjadi optimal.
Beberapa negara termasuk negara berkembang telah berhasil menurunkan angka infeksi baru dan angka kematian karena HIV. di Indonesia kemajuan-kemajuan dalam pencegahan dan terapi HIV sering dapat diterapkan dengan dukungan pemerintah dan lembaga internasional serta dukungan masyarakat.

Untuk dapat menyebarluaskan peluang-peluang peningkatan keberhasilan penanggulangan HIV di Indonesia, Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI) akan menyelenggarakan Peer to Peer Training dengan tema : ” MENINGKATKAN KEBERHASILAN UPAYA PENANGGULANGAN HIV DI INDONESIA.” juga akan diadakan diskusi panel yang bertujuan untuk menjaga kesinambungan obat ARV di Indonesia.

Mudah-mudahan dengan semangat baru dan informasi baru kan meningkatkan keterampilan berbagai pihak yang terlibat dalam upaya penanggulangan AIDS di negeri kita.

Hari/Tanggal : Kamis, 22 September 2011.
Tempat : Ruang kuliah penyakit dalam FKUI RSCM Salemba, Jakarta
Waktu : Pukul 09.00 s.d Selesai,

Pendaftaran Gratis @ Peserta tidak dikenai biaya.
TERBATAS UNTUK 150 ORANG

SESI 1
MODERATOR : dr. Teguh Harjono Karjadi, SpPD,-KAI

08.30 – 08.50 : HIV Test and Treat, Apa yang dapat dilakukan di Indonesia ?
( dr. Agus Kosasih, SpPK(K)
08.50 – 09.10 : Pentingnya Viral Load dalam Diagnostik dan Pemantauan Terapi Infeksi HIV
( Prof.Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI )
09.10 – 09.30 : Update ARV dan Penanganan Efek Samping
( Dr.dr. Evy Yunihastuti, SpPD, KAI )
09.30 – 10.00 : D I S K U S I

10.00 – 10.15 : COFFEE BREAK

SESI 2
MODERATOR : Dr.dr. Iris Rengganis, SpPD, KAI
10.15 – 10.35 : Pentingnya Nutrisi pada Penatalaksanaan HIV
( dr. Nanang Sukmana, SpPD, KAI)
10-35 – 10.55 : Penatalaksanaan Bayi yang lahir dari Ibu HIV Positif
( dr. Nia Kurniati, SpA(K) )
10.55 – 11.25 : D I S K U S I

SESI 3
MODERATOR : Prof.Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI

11.25 – 11.45 : Pengadaan obat HIV Pemerintah dan Global Fund (P2MPL)
11.45 – 12.05 : Distribusi obat ARV
( PT. KIMIA FARMA )
12.05 – 12.25 : Harapan Kesinambungan obat ARV
( Aktivis ODHA )
12.25 – 12.55 : DISKUSI
12.55 – 13.00 : PENUTUP
13.00 – 14.00 : I S H O M A

SEKRETARIAT :
DIVISI ALERGI IMMUNOLOGI KLINIK
DEPT. ILMU PENYAKIT DALAM RSCM
GEDUNG H.5 Lt.3 JL. DIPONEGORO NO.71 JAKARTA
TELP : 021-3141160 / 3904546
FAX : 021-3904546
Email : alergi@centrin.net.id

Infeksi HIV pada anak

Sebagian besar transmisi HIV pada anak terjadi secara vertikal yaitu dari ibu ke anak yang mayoritas ditemukan pada usia di bawah 5 tahun.; Cara penularan yang lain adalah secara horizontal misalnya melalui transfusi darah dan kekerasan seksual.. Perjalanan alamiah infeksi akibat transmisi vertikal dapat dilihat melalui progresivitas pada anak yang lebih cepat, kadar plasma virus yang tinggi dan lama, dan banyaknya organ yang rusak karena kadar virus yang tinggi. Tipe progresivitas penyakit ada tiga yaitu rapid progresor, slow progresor, dan long term non progresor. Spektrum klinis infeksi pada anak dapat dilihat melalui umur, gejala, fungsi imun, dan ko¬infeksi. Diagnosis HIV pada anak ditegakkan berdasarkan klinis (gejala dan tanda) serta pemeriksaan laboratorium yang tepat.

Pada awalnya, gejala mungkin belum terlihat. Namun apabila jumlah virus semakin banyak dan kekebalan tubuh semakin menurun, maka timbul infeksi infeksi oportunistik seperti infeksi jamur pada saluran cerna, diare kronik, tuberkulosis, infeksi parasit di paru paru, dan sebagainya. Salah satu gejala lain yang penting adalah adanya gizi buruk atau gagal tumbuh.

Pilihan pemeriksaan laboratorium bergantung pada usia anak. Pada anak anak di atas 18 bulan pemeriksaan laboratorium yang diperlukan adalah pemeriksaan antibodi HIV sedangkan pada usia di bawah 18 bulan maka pemeriksaan laboratorium yang dibutuhkan adalah pemeriksaan jumlah virus. Antibodi HIV ibu pada saat kehamilan ditransfer ke janin. Antibodi ini akan menghilang pada usia 12 18 bulan. Sehingga untuk diagnosis infeksi HIV pada anak di bawah 18 bulan tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan pemeriksaan antibodi HIV saja, tetapi harus dengan pemeriksaan virus (PCR RNA HIV).

Tujuan tata laksana HIV adalah menghambat replikasi virus, mengembalikan dan mempertahankan sistern imun, menurunkan morbiditas dan mortalitas, tumbuh kembang optimal, dan meningkatkan kualitas hiclup. Tata laksana infeksi HIV pada anak meliputi pemberian nutrisi dan pemantauan pertumbuhan, pencegahan infeksi oportunistik dengan profilaksis kotrimoksasol, menentukan stadium (WHO/CDC), menentukan stadium imunosupresi (pemeriksaan CD4), menentukan infeksi oportunistik dan terapi, menilai situasi keluarga, clan menilai indikasi terapi ARV. Masalah penanganan anak dengan ARV yaitu antara lain jenis obat yang terbatas, formularium anak yang ticlak ada, jumlah dokter anak terlatih yang terbatas, kepatuhan paslen ARV masih kurang sehingga risiko resistensi obat meningkat, dan pemantauan yang kurang.

Sedangkan masalah pada penanganan anak dengan infeksi HIV yaitu antara lain masalah pemberian ARV, pengasuhan yang pemberiannya tergantung pada pengasuh seperti orang tua atau pengganti orang tua yang dilakukan berganti ganti, adanya prematuritas, problem makan, anak menolak minurn obat, rasa/tekstur, tidak ada kebiasaan rutin, sekolah, dan adanya efek samping. Selain itu juga adanya masalah infeksi oportunistik berat atau berulang dengan jangka waktu perawatan yang cukup lama dan berulang sehingga mengeluarkan biaya besar. Perawatan di rumah sakit disesuaikan dengan indikasi rawatnya dan penting untuk diingat penerapan kewaspadaan universal pada prosedur invasif.

Keberhasilan tata laksana anak yang infeksi HIV adalah dengan mendapatkan tata laksana yang optimal sehingga mereka dapat hidup seperti anak normal lainnya, angka infeksinya menurun, angka perawatan rumah sakit menurun, aktivitas normal, dapat bersekolah dengan baik, dan dapat mencapai potensinya.

Disampaikan oleh dr. Dina Muktiarti, SpA pada acara Simposium, “Peran Tenaga Kesehatan dalam Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, 2009.

 

HIV/AIDS dan Perubahan Prilaku

Penyakit HIV masih menjadi momok yang menakutkan. Kenyataan membuktikan bahwa jumlah kasus HIV di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sebagaimana laporan yang dikeluarkan DEPKES pada tahun 2006 ada 193.000 orang. Bahkan estimasi yang dikeluarkan UNAIDS, kita mempunyai 270.000 orang dengan HIV. Begitu pula data Internasional di seluruh dunia jumlah kasus masih terus meningkat tajam.

Dulu kita mengenal HIV/AIDS adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, kemudian bisa dicegah dengan kondom, meski obatnya belum jelas pada waktu itu, namun yang terpenting bukan membuat orang yang terinfeksi tidak menularkan, akan tetapi yang jauh lebih penting adalah seluruh masyarakat Indonesia harus melakukan perubahan prilaku agar tidak terinfeksi.

Beragam penyuluhan kesehatan, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) telah dilakukan seperti seminar, simposium, pelatihan, dan lain sebagainya untuk menyadarkan supaya bisa merubah perilaku. Nampaknya tidak cukup sesuai dengan apa yang diharapkan. Begitu pula dengan kurang berhasilnya kondisi structural kita yang perlu pembenahan, lantaran ketidaktahuan cara penularan, bagaimana cara pencegahannya. Misalnya saja kalau pendidikannya sekolah dasar atau buta huruf, bagaimana cara mencegahnya? dan masalah kemiskinan masih menjadi tanda tanya besar.

Masalah kemiskinan di Indonesia menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan lahirnya prostitusi, Di beberapa daerah miskin, sebagian masyarakatnya mau tidak mau harus menjadi buruh rendahan, kondisi inilah yang akhirnya bisa terjerumus kedalam lingkaran prostitusi seperti di Jawa Barat, Singkawang, Riau dan Batam. Belum lagi masalah kesetaraan gender. Banyak sekali keluarga yang memprioritaskan pendidikan hanya pada kaum laki-laki ketimbang perempuan. Upaya pencegahan mengenai kondom pun dilakukan. Namun angka kasus penularan HIV dari ibu ke bayi masih saja meningkat. Di lain pihak banyak fasilitas layanan kesehatan yang belum siap melakukan program ini, mereka terpaksa harus merujuk ke tempat lain. Hal ini dikarenakan belum tersedianya sumber daya manusia dan kesiapan tenaga kesehatan. Meski demikian harus diakui pula bahwa program pencegahan Ibu ke bayi (PMTCT) sudah banyak yang berhasil.

Berdasarkan bukti laporan yang disampaikan dr. Evy Yunihastuti ( Koordinator Medis Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM) yang menyatakan bahwa prevalensi HIV di Thailand mengalami penurunan dari 2,4% pada tahun 2005 menjadi 0,2% di tahun 2006. hal ini menurutnya sebagai keberhasilan program PMTCT yang baik. Bagaimana di Indonesia? Prof.dr. Zubairi Djoerban (Manajer UPT HIV RSCM) meyakinkan bahwa Indonesia bisa melakukan hal tersebut. Menurutnya program PMTCT jangan hanya terfokus di Jakarta dan Surabaya tapi didaerah-daerah pun harus menikmatinya. Prinsipnya semua penduduk punya hak yang sama. Beliau juga menambahkan bahwa kita bisa menyediakan susu formula dan obat antiretroviral (ARV) yang sangat efektif untuk pencegahan. Hasilnya yang sudah minum ARV penularannya sangat sedikit, dan operasi Caesar berhasil lebih baik daripada yang normal.

Ada tiga strategi upaya pencegahan penularan HIV/AIDS sebagaimana disampaikan pada konferensi International AIDS Mexico pada Agustus 2008 dan Kongres sedunia Ilmu Penyakit dalam di Buenos Aires pada September 2008. Pertama, Upaya Biomedik, seperti tersedianya obat Antiretroviral, Sunat/Sirkumsisi, Kondom, PMTCT dan Pengobatan PMS (Penyakit Menular Seksual). Kedua, Upaya Struktural (Ekonomi, Budaya, Hukum, Pendidikan dan Kesetaraan Gender) dan terakhir adanya upaya perubahan prilaku.