SITUASI HIV/AIDS DI INDONESIA

Pada tahun 2008, peningkatan kasus baru HIV di Indonesia merupakan yang tercepat di Asia, dilaporkan oleh seluruh provinsi dan sekitar 200 kab/kota. Sejak tahun 2004 meningkat tajam, dikarenakan tahun 1995 penggunaan narkoba suntikan meningkat tajam sehingga 10 tahun kemudian, kasus AIDS full blown timbul dan angkanya meningkat tajam. Kalau untuk jumlah kasus HIV dan AIDS yang paling tinggi adalah Cina, India dan Thailand.

 

Epidemi HIV sangat meningkat sampai saat ini

Bagaimana proyeksi tahun 2020? Ada 3 skenario, skenario pertama; optimis. Jika tahun 2010 diperkirakan 300.000, maka pada tahun 2020 jumlah kasus HIV mencapai 600.000, jadi yang optimis sekalipun masih 2 kali lipat dari sekarang tapi sebaliknya jika kita tidak berhasil melakukan penanggulangan, maka pada tahun 2020 angkanya mencapai 1,6 juta. Sedangkan kalau keberhasilannya di tengah-tengah maka angkanya berada antara 600.000 sampai 1,6 juta. Jadi sebenarnya 1 juta orang dari saudara kita bisa dicegah dari penularan HIV jika kita mau bekerja keras.

Harapannya adalah orang yang menggunakan narkoba suntikan bersama, tidak lagi menggunakan, yang belum menggunakan tidak menggunakan. Yang melakukan hubungan seks tidak aman, tidak lagi melakukan. Tapi sayangnya, dari survey perubahan prilaku di Indonesia pada tahun 2008 menunjukkan belum terjadi perubahan perilaku yang nyata di kalangan resiko tinggi. Ini terlihat dari penggunaan kondom kita yang baru mencapai 30%, kita berharap bisa mencapai 80%, atau penggunaan narkoba suntikan bersama yang belum seluruhnya bisa berubah.

Jumlah orang yang diestimasi sekitar 300.000 tapi tapi yang tercatat hanya 50.000 jadi ada 250.000 orang yang tidak tahu status HIV-nya dan juga mungkin tidak pernah tes HIV. Karena itulah sekarang kita buka keran seluas-luasnya agar orang mau dan bersedia dan mudah untuk tes HIV sehingga kita mengganti VCT menjadi PITC (Provider Initiative Counselling and Testing). Kami berharap temen-temen dapat mendorong orang-orang yang perlu tes HIV untuk tes. Kalau dulu kita hanya menginformasikan, dia bisa tes atau tidak, sekarang kita informasikan juga lalu kita beritahu keuntungan tes dan permudah dia untuk tes. Jadi peran petugas kesehatan lebih penting. Karena jika terlambat terdeteksi maka akan hilang kesempatan untuk pencegahan penularan lebih lanjut, sudah parah, ada TB, Toksoplasma otak dan hilang kesempatan untuk memulai terapi sesuai dengan pedoman WHO (CD4<350) dan angka kematian tinggi.

Upaya deteksi dini yang dapat kita lakukan adalah dengan ; penyebaran informasi, meningkatkan layanan VCT (sekitar 1000), menggalakkan layanan PITC ((Provider Initiative Counselling and Testing) serta meningkatkan akses untuk testing.

Ada beberapa tes sesuai kegunaannya, ada yang bertujuan untuk survey dan ada yang bertujuan untuk diagnostic. Untuk diagnostic harus berhati-hati, jangan sampai orang yang tidak HIV kita diagnostik HIV, atau sebaliknya.  Ada tes anti HIV, tes antigen p24, Viral Load, kultur virus.

 

TES Anti-HIV ; Relatif murah dan mudah, seharusnya sudah bisa tersebar di seluruh Indonesia, untuk diagnosis yang disyaratkan tiga kali pemeriksaan.

TES CEPAT (RAPID) ; Hasil cepat dapat dinilai, dapat dilakukan pada daerah dengan sarana minim, digunakan untuk tes penyaring

Tes HIV ini penting karena dapat digunakan untuk diagnosis dini, dapat dilanjutkan dengan pencegahan dan terapi walaupun belum timbul gejala.

 

Penularan HIV di Indonesia pada umumnya terjadi karena; hubungan seksual; penggunaan narkoba suntikan disertai penggunaan jarum suntik bersama (prevalensi HIV tinggi sekitar 60%); Ibu hamil positif HIV menularkan ke bayinya; tranfusi darah dari orang yang terjangkit HIV; Karena itu kita harus hati-hati dalam melakukan tranfusi darah, walau sejak 1992 sudah diskrining HIV.

Infeksi HIV di RSUPN. DR. Cipto Mangunkusumo Jakarta, sebagian besar terdiagnosis dalam stadium lanjut (CD4<40), telah timbul infeksi oportunistik yang dapat mengancam jiwa, hanya sebagian kecil terdiagnosis pada masa tanpa gejala (biasanya pasangan seksual) sehingga menyebabkan angka kematian di rumah sakit cukup tinggi, sekitar 30%. Padahal bila infeksi oportunistik dapat diatasi, pengendalian penyakit biasanya dapat dicapai.

Masalah lainnya adalah HIV pada anak karena tidak berhasil melakukan upaya pencegahan pada ibu hamil. Di RSCM sudah ada 400 anak dengan HIV, jumlah perempuan yang tertular HIV mungkin sekitar 1200 orang, 30% dari jumlah itu berpotensi menularkan dan akan meningkat terus sesuai peningkatan HIV pada perempuan usia subur. Pada bayi dan anak, perjalanan penyakit lebih cepat, dalam beberapa bulan sudah timbul infeksi oportunistik dan jumlah CD4 juga berbeda. Jika pada orang dewasa, diobati jika CD4<350, maka jika CD4 bayi/anak<400 sudah harus diobati karena CD4 bayi baru lahir seharusnya tinggi, mencapai 3000. Diagnosis HIV pada anak usia dibawah 18 bulan memerlukan tes viral load pada minggu ke-4 dan dapat diulang pada bulan ke-4. Terapi HIV pada anak memerlukan formulasi khusus, berbeda dengan dewasa.

Pengguna narkoba suntikan di kota besar, berdasarkan informasi dari UI dan BNN mencapai 70%, dimana 60% menggunakan lebih dari satu tahun, 62% menggunakan jarum suntik bekas pakai, digunakan 2-18 orang. Estimasinya mencapai 520.000 orang di Indonesia.

Masalah medis yang dihadapi antara lain: masih kerapnya infeksi oportunistik terutama TBC; sebagian IO diagnosis dan terapinya masih sulit (Meningitis kriptokokus, CMV,TBC otak); isu baru yang timbul adalah Ko-infeksi hepatitis B dan C sering didapatkan di Indonesia (dari hasil penelitian terhadap 4000 ODHA di RSCM, 68% mengidap hepatitis C dan 10% mengidap Hepatitis B, jauh lebih tinggi daripada populasi normal); masalah ibu hamil HI positif yang belum terjangkau PMTCT; diagnosis dan pengobatan HIV pada anak.

Masalah lain yang mengemuka adalah ko-infeksi hepatitis B dan C pada HIV. Di mana penularan hepatitis B dan C pada HIV dapat melalui jarum suntik maupun seksual (penularan melalui seksual jauh lebih mudah kalau dia HIV, jadi penularan hepatitis B dari orang HIV jauh lebih mudah daripada mono  infeksi hanya Hepatitis B). perjalanan penyakit hepatitis B dan C kronik (yang biasanya 20 tahun) jauh lebih progresif atau lebih cepat  pada ko-infeksi HIV. Maka sekarang perlu skrining hepatitis B dan C lebih sering serta menyediakan obat hepatitis B dan C kronik yang terjangkau dan upaya pencegahan hepatitis virus di masyarakat. Dan tanggal 28 Juli diperingati sebagai hari hepatitis sedunia.  

Studi prilaku seksual pengguna narkoba suntikan di 3 kota menemukan hasil bahwa; 70% aktif seksual; 48% mempunyai pasangan seksual labih dari satu; 40% menjadi pelanggan WPS; penggunaan kondom rendah (sekitar 10%). Jadi pada pengguna narkoba suntikan, penularan HIV tidak hanya berasal dari jarum suntik bersama tapi bisa juga tertular dari hubungan seksual.

 

Kesimpulan

  1. Pencegahan penularan HIV dapat dicapai melalui perubahan perilaku dan intervensi medis (kondom, harm reduction, sirkumsisi, ARV)
  2. Untuk dapat menurunkan angka penularan perlu pencapaian kelompok sasaran 80% dan efektivitas minimal 60%
  3. Setiap tenaga kesehatan diharapkan peran sertanya dalam mengendalikan penularan HIV di Indonesia
  4. Perlu upaya pencegahan hepatitis B,C dan HIV di masyarakat

 

@Prof.Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI KULIAH UMUM ; “WOMAN HEALTH AND SOCIAL PROTECTION ON PATIENT WITH HIV/AIDS”

 

Advertisements

Konseling HIV/AIDS

Pokdisus Aids

Apakah Konseling?
Konseling adalah proses membantu seseorang untuk belajar mencari solusi bagi masalah emosi, interpersonal dan pengambilan keputusan, membantu klien menolong diri sendiri. konseling dilakukan baik Untuk individu, pasangan atau keluarga, membantu individu bertanggung jawab atas hidupnya dengan mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang bijak dan realistis, menimbang setiap konsekuensi dari perilaku, memberikan informasi yang berfokus pada klien : secara spesifik tertuju pada kebutuhan, isu dan seputar klien sebagai individu, melalui proses internal, kolaboratif, bertanggung jawab menuju pada suatu tujuan. Termasuk juga mengembangkan otonomi dan tanggung jawab diri pribadi klien mempertimbangkan situasi interpersonal, sosial / budaya, kesiapan untuk berubah, mengajukan pertanyaan, menyediakan informasi, mengulas opsi dan mengembangkan rencana tindakan.

Bukan Konseling
Melakukan konseling tidak mudah namun juga tidak sulit karena itu seorang yang melakukan kegiatan konseling seharusnya mengerti rambu-rambu pelaksanaan konseling agar tidak terjebak pada kegiatan yang bukan konseling yakni bersikap mengarahkan, menyarankan, menasehati, ngobrol, menginterogasi, membuat pengakuan, mendoakan, memberi harapan.

Apakah Konseling HIV/AIDS ?
Konseling HIV/AIDS bersifat komunikasi rahasia antara klien dan petugas kesehatan bertujuan memungkinkan klien menghadapi stres dan menentukan pilihan pribadi berkaitan dengan HIV/AIDS. Proses konseling termasuk melakukan evaluasi risiko penularan HIV pribadi, memberikan fasilitasi perubahan perilaku, dan melakukan evaluasi mekanisme coping ketika klien dihadapkan pada hasil tes (+)
Konseling pencegahan dan perubahan perilaku guna mencegah penularan. Diagnosis HIV mempunyai banyak dampak – psikologik, sosial, fisik dan spiritual HIV merupakan penyakit yang mengancam kehidupan.
Adapun proses konseling adalah sebagai berikut :
Tahap pertama : Dimulai dari membina hubungan baik dan membina kepercayaan , dengan menjaga rahasia dan mendiskusikan keterbatasan rahasia, melakukan ventilasi permasalahan, mendorong ekspresi perasaan, diutamakan dapat menggali masalah, terus mendorong klien menceritakannya.
Upayakan dapat memperjelas harapan klien dengan mendeskripsikan apa yang konselor dapat lakukan dan cara kerja mereka serta memberi pernyataan jelas bahwasanya komitmen konselor akan bekerja bersama dengan klien
Tahap kedua : Mendefinisikan dan pengertian peran, memberikan batasan dan kebutuhan untuk mengungkapkan peran dan batasan hubungan konseling, mulai dengan memaparkan dan memperjelas tujuan dan kebutuhan klien, menyusun prioritas tujuan dan kebutuhan klien, mengambil riwayat rinci – menceritakan hal spesifik secara rinci , menggali keyakinan, pengetahuan dan keprihatinan klien
Tahap ketiga : Proses dukungan konseling lanjutan yakni dengan meneruskan ekspresi perasaan / pikiran , mengidentifikasi opsi, mengidentifikasi ketrampilan, penyesuaian diri yang telah ada, mengembangkan keterampilan penyesuaian diri lebih lanjut, mengevaluasi opsi dan implikasinya, memungkinkan perubahan perilaku, mendukung dan menjaga kerjasama dalam masalah klien, monitoring perbaikan tujuan yang terindentifikasi , rujukan yang sesuai
Tahap empat : Untuk menutup atau mengakhiri hubungan konselin . Disarankan kepada klien dapat bertindak sesuai rencana klien menata dan menyesuaiakan diri dengan fungsi sehari-hari, bangun eksistensi sistem dukungan dan dukungan yang diakses, lalu mengidentifikasi strategi untuk memelihara hal yang sudah beruhah baik .
Untuk pengungkapan diri harus didiskusikan dan direncanakan, atur interval parjanjian diperpanjang, disertai pengenalan dan pengaksesan sumber daya dan rujukan yang tersedia, lalu pastikan bahwa ketika ia membutuhkan para konselor senantiasa bersedia membantu.
Menutup atau mengakhiri konseling dengan mengatur penutupan dengan diskusi dan rencana selanjutnya, bisa saja dengan membuat perjanjian pertemuan yang makin lama makin panjang intervalnya.
Senantiasa menyediakan sumber dan rujukan yang telah dikenali dan dapat diakses – memastikan klien dapat mengakses konselor jika ia memilih untuk kembali ketika membutuhkan

Tujuan Konseling HIV/AIDS
Konseling HIV/AIDS merupakan proses dengan 3 (tiga) tujuan umum : 1. Ddukungan psikologik misalnya dukungan emosi, psikologi sosial, spiritual sehingga rasa sejahtera terbangun pada odha dan yang terinfeksi virus lainnya .
2. Pencegahan penularan HIV/AIDS melalui informasi tentang perilaku berisiko (seperti seks tak aman atau penggunaan alat suntik bersama ) dan membantu orang untuk membangun ketrampilan pribadi yang penting untuk perubahan perilaku dan negosiasi praktek aman.
3. Memastikan terapi efektif dengan penyelesaian masalah dan isu kepatuhan

Cara untuk mencapai tujuan :
Mengajak klien mengenali perasaannya dan mengungkapkannya , menggali opsi dan membantu klien membangun rencana tindak lanjut yang berkaitan dengan isu yang dihadapi, mendorong perubahan perilaku, memberikan informasi pencegahan, terapi dan perawatan HIV/AIDS terkini, memberikan informasi tentang institusi ( pemerintah dan non pemerintah ) yang dapat membantu dibidang sosial, ekonomi dan budaya , membantu orang untuk kontak dengan institusi diatas.
Membantu klien mendapatkan dukungan dari system jejaring social, kawan dan keluarga membantu klien melakukan penyesuaian dengan rasa duka dan kehilangan , melakukan peran advokasi – misal membantu melawan diskriminasi, membantu individu mewaspadai hak hukumnya, membantu klien memelihara diri sepanjang hidupnya, membantu klien menentukan arti hidupnya.

Selain isu yang berkaitan langsung dengan HIV/AIDS, klien dapat menyajikan : Serangkaian isu tentang keadaan tidak langsung berkaitan dengan HIV kebutuhan terapi spesifik misalnya : disfungsi seksual, serangan panik isu terdahulu yang belum terselesaikan, misalnya: isu seksual, ketergantungan napza, masalah keluarga dll.

dari berbagai sumber

Belajar dari Thailand, Terapi ARV dan Hepatitis

Prof.DR.Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI & Kurniawan Rachmadi, SKM, MSi

Sekitar tahun 2001, teman teman Odha Thailand membeli obat ARV dari India dan membawanya langsung ke Thailand. Tindakan ini terpaksa dilakukan karena pada waktu itu di Thailand hanya tersedia obat ARV paten yang harganya amat tak terjangkau (sekitar 800 dolar Amerika setiap bulan). Kiriman pertama obat ARV ini lolos dan dapat dimanfaatkan namun selanjutnya tertahan oleh Bea Cukai Thailand dan karena  obat ini tidak memiliki surat-surat yang diperlukan dan belum di registrasi di Thailand maka sesuai ketentuan harus dimusnahkan.

Dimusnahkan? Bukankah obat tersebut amat diperlukan sebagian masyarakat Thailand, bahkan bagi mereka obat ini dapat menyelamatkan nyawa mereka. Berita rencana pemusnahaan tersebut mendapat perhatian dan tantangan dari masyarakat. Teman-teman Odha serta aktivis HIV/AIDS Thailand berdemonstrasi di depan perlemen. Jumlahnya tiap hari makin lama semakin banyak. Bahkan kalangan akademisi  seperti Prof Praphan Panumpahk, juga mendukung agar obat tersebut digunakan untuk Odha.

Pemerintah Thailand terdesak dan menyadari obat ARV merupakan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu pemerintah Thailand kemudian memutuskan untuk memproduksi sendiri obat ARV  ini. Untuk itu GPO (perusahaan obat farmasi milik pemerintah Thailand) diperintahkan untuk memproduksi ARV. Produksi ARV di Thailand  dimulai tahun 2002. Sampai sekarang sekitar 150.000 orang mendapat obat ARV melalui program pemerintah dan sekitar 10% mendapat obat ARV murah dengan membeli di apotik dan rumah sakit. Memang GPO tak hanya memproduksi ARV untuk program pemerintah tapi juga untuk di jual di pasar. Dengan demikian Odha di Thailand dapat memilih memperoleh ARV melalui program pemerintah atau beli sendiri. Di Indonesia sebagian Odha juga ada yang bersedia membeli sendiri obat ARV tapi sampai sekarang PT Kimia Farma baru memproduksi obat ARV untuk program pemerintah. Di masa depan patut dipertimbangkan di samping obat ARV pemerintah, di Indonesia juga dapat tersedia obat ARV yang dapat dibeli (dengan harga murah).

Penggunaan obat ARV lini I di Thailand  dewasa ini sekitar 90% dan 10 % telah menggunakan lini II. Obat Stavudin masih terus digunakan meski WHO memperingatkan  resiko efek samping obat ini. Untuk Odha yang baru memulai ARV jika menggunakan Stavudin sebagai salah satu obat ARV, maka penggunaan direncanakan hanya 6 bulan kemudian diganti dengan AZT. Sedangkan Odha yang telah menggunakan dapat terus menggunakannya dan baru diganti jika timbul efek samping.

Untuk ibu hamil jika pertama mengunakan ARV yang digunakan adalah Aluvia bukan Neviral. Karena efek samping Neviral baik alergi maupun  kelainan  fungsi hati  dapat menganggu kesinambungan penggunaan ARV pada ibu hamil. Namun jika telah mengunakan Neviral dan tak ada efek samping obat itu diteruskan saja.

Bagaimana dengan hepatitis C? Penggguna narkoba suntikan di Thailand sekitar 130.000 orang (di Indonesia lebih 300.000 orang). Karena itu koinfeksi hepatitis C dan hepatitis B juga merupakan masalah. Belum lagi infeksi hepatitis B dan C yang tak berkaitan dengan HIV. Untuk itu pemerintah Thailand telah menyediakan obat antiviral untuk hepatitis B yaitu lamivudin 100 mg dan Tenofovir 300mg. Sedangkan untuk hepatitis C diperlukan interferon dan ribavirin. Ribavirin telah diproduksi namun interferon belum, mungkin akan diimport dari india atau kerjasama produksi dengan negara lain. Patut kita pelajari juga adalah sistem pencatatan penggunaan ARV yang baik. Meski jumlah penguna ARV telah mencapai 150.000 orang pemantauan dapat dilakukan. Kecenderungan kebutuhan dapat terlihat, sehingga mudah melakukan perencanaan.

Pada tahun 2002 -2003 ada kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Thailand dalam pengadaan obat ARV. Kita pernah memperoleh obat ARV produksi Thailand sebelum PT Kimia Farma memproduksi ARV di Indonesia pada akhir tahun 2003. Sebaliknya program  methadone di Thailand baru mulai, karena itu kita dapat saling belajar. Nampaknya kedepan kerjasama dengan Thailand perlu ditingkatkan.

 

Senin, 24 Januari 2011

Save Papua, Sudah Sampai Dimana?

Hari Rabu, 9 Februari 2011, Pokdisus AIDS FKUI/RSCM kedatangan tamu-tamu penting yaitu anggota DPR/DPD dari Kaukus Papua. Mereka yang hadir antara lain: Paskalis Kossay (ketua), Moerdiono (sekretaris umum), Dhondy Jaya S.Sos (anggota), Achmad Kastella (akademisi/peneliti HIV dari Universitas Cendrawasih) dan Max Mandosir (aktivis LSM, ketua Yayasan Bunga Bangsa Indonesia). Kedatangan para tamu terhormat tersebut adalah untuk mendiskusikan mengenai masalah penanggulangan HIV di Indonesia dan secara khusus penanggulangan HIV di Papua dan Papua Barat.

Menurut para wakil rakyat tersebut masyarakat di Papua dan Papua Barat masih belum merasakan secara nyata upaya penanggulangan HIV di kedua propinsi tersebut. Harapan masyarakat tentulah penularan HIV dapat dikurangi (kasus baru menurun) serta angka kematian karena HIV juga turun secara nyata. Jika banyak negara Asia dan Afrika telah berhasil mengendalikan HIV, lalu apakah ada harapan bagi kedua propinsi tersebut untuk mengendalikan HIV secara nyata? Beliau juga mempertanyakan pengaruh program ‘Save Papua’ sudah sampai dimana? Kekhawatiran bapak-bapak tersebut tentulah juga menjadi kekhawatiran kita semua.

Wilayah Papua yang luas, aneka ragam suku serta transportasi yang sulit dapat dijadikan alasan kenapa upaya penanggulangan HIV di Papua dan Papua Barat belum menunjukkan hasil yang dapat diharapkan. Sudah tentu, pada umumnya upaya penanggulangan baru bisa memperlihatkan hasil dalam waktu yang cukup lama. Namun kita mungkin dapat merenungkan program ‘Save Papua’ yang telah dijalankan selama ini. Apakah program yang direncanakan di lapangan sudah berjalan dengan baik. Jika belum, tentu program yang telah dilaksanakan selama ini perlu disempurnakan dan ditingkatkan.

Mengenai angka kematian karena HIV/AIDS pada tahun 2006 di RS Dharmais masih sekitar 30% namun sekarang telah menurun secara nyata. Angka kematian Odha (orang dengan HIV/AIDS) di Indonesia dengan penggunaan obat ARV juga menurun, dari sekitar 40% menjadi 17%. Jadi sebenarnya amat mungkin menurunkan angka kematian HIV/AIDS di Papua dan Papua Barat. Upaya tersebut tetap bermula dari penyuluhan dan pencegahan, deteksi dini serta kemampuan menatalaksana infeksi oprtunistik yang mengancam nyawa seperti TBC, toksoplasma otak, meningitis kriptokokus dll. Pokdisus AIDS FKUI/RSCM dapat membantu teman-teman di Papua dan Papua Barat dalam mengatasi infeksi oportunistik tersebut.

Sudah tentu juga dibutuhkan sarana laboratorium esensial dan obat infeksi oportunistik. Prof. Retno, Dr. Darma dan teman dari Bandung tahun lalu telah berkunjung ke teman-teman sejawat di Papua, berdiskusi dan juga memberikan supervisi serta asistensi. Namun sudah tentu kita memerlukan program yang lebih intensif dan juga berkesinambungan. Pemerintah telah meluncurkan program percepatan pembangunan Papua dan Papua Barat, masalah penanggulangan HIV/AIDS juga sudah dipadukan dalam program tersebut. Namun bagaimanakah sebenarnya perkembangan program tersebut? Sejauh mana program sudah dijalankan? Mengapa angka infeksi dan kematian akibat HIV masih terus meningkat? Patut dicatat usulan teman dari Universitas Cenderawasih, agar orang-orang di Jakarta lebih memperhatikan potensi lokal dan kearifan lokal. Marilah kita evaluasi kembali program ‘Save Papua’, sampai dimana?